JAKARTA - Kenaikan harga emas perhiasan menjadi sorotan utama pada awal tahun ini di Provinsi Kalimantan Utara.
Di tengah dinamika ekonomi global dan fluktuasi sejumlah komoditas, laju inflasi daerah tersebut pada Januari 2026 tetap berada dalam level yang relatif terkendali. Kondisi ini menunjukkan stabilitas harga masih mampu dijaga meski tekanan eksternal cukup kuat.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik yang diolah oleh Bank Indonesia, inflasi gabungan tiga kota Indeks Harga Konsumen di Kaltara tercatat sebesar 0,10 persen secara bulanan atau month to month (mtm). Angka ini mencerminkan tekanan harga yang tidak meluas dan masih dalam batas aman pengendalian inflasi daerah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi (KPwBI) Kaltara Hasiando Ginsar Manik menjelaskan bahwa perkembangan inflasi Januari 2026 tidak terlepas dari dinamika harga emas perhiasan. Komoditas tersebut mengalami kenaikan seiring perubahan sentimen global yang memengaruhi pasar keuangan dan komoditas internasional.
“Pergerakan harga emas perhiasan sejalan dengan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve serta meningkatnya ketegangan geopolitik global,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa faktor global memiliki transmisi langsung terhadap harga komoditas di daerah, termasuk di Kaltara.
Tekanan Inflasi Awal Tahun Masih Terjaga
Meski ada dorongan dari harga emas, Hasiando memastikan bahwa tekanan inflasi secara umum masih berada dalam koridor yang terjaga. Stabilitas harga dinilai tetap terpelihara berkat koordinasi yang solid antara otoritas moneter dan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah.
“Inflasi Januari 2026 di Kalimantan Utara relatif terkendali. Tekanan harga tidak bersifat luas dan masih dapat diantisipasi melalui penguatan koordinasi pengendalian inflasi daerah,” katanya. Penegasan tersebut menjadi sinyal bahwa risiko inflasi belum menunjukkan eskalasi signifikan.
Secara spasial, perkembangan inflasi di tiga kota IHK menunjukkan variasi. Nunukan tercatat sebagai satu-satunya daerah yang mengalami inflasi bulanan cukup tinggi dibanding kota lainnya. Kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika harga sejumlah komoditas di wilayah tersebut.
Nunukan membukukan inflasi sebesar 0,81 persen (mtm). Sementara itu, Tarakan justru mengalami deflasi sebesar -0,15 persen (mtm), dan Tanjung Selor mencatat deflasi lebih dalam sebesar -0,43 persen (mtm). Perbedaan ini menunjukkan distribusi tekanan harga yang tidak merata di setiap wilayah.
Secara tahunan atau year on year (yoy), inflasi gabungan tiga kota IHK di Kaltara tercatat sebesar 4,08 persen. Angka tersebut masih mencerminkan kondisi yang dapat dikendalikan, meskipun tetap perlu diantisipasi agar tidak bergerak lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang.
Peran Transportasi dan Pangan dalam Menahan Inflasi
Menurut Hasiando, terdapat sejumlah faktor yang berperan sebagai penahan inflasi pada Januari 2026. Kelompok transportasi menjadi salah satu penyumbang utama yang membantu meredam kenaikan harga secara umum.
“Penurunan harga angkutan udara menjadi salah satu faktor utama yang menahan inflasi. Seiring mobilitas masyarakat yang belum kembali setinggi periode akhir tahun,” jelasnya. Penurunan tarif ini memberikan dampak langsung terhadap indeks harga konsumen.
Selain transportasi, pasokan pangan tertentu juga membantu menjaga stabilitas harga. Ikan bandeng yang tersedia melimpah di pasar menjadi salah satu komoditas yang berkontribusi dalam meredam tekanan inflasi kelompok makanan dan minuman.
Harga cabai rawit pun mulai menunjukkan tren normalisasi setelah sempat meningkat pada periode Natal dan Tahun Baru. Penurunan ini memberikan ruang bagi stabilitas harga pangan yang sebelumnya mengalami lonjakan musiman.
“Turunnya permintaan masyarakat pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) ikut berperan dalam menurunkan tekanan harga komoditas tersebut,” tambahnya. Faktor musiman terbukti memiliki peran signifikan dalam dinamika harga pangan di daerah.
Emas dan Cuaca Dorong Tekanan Harga
Di sisi lain, terdapat komoditas yang justru memberikan andil terhadap inflasi Januari 2026. Kenaikan harga emas perhiasan menjadi pendorong utama, sejalan dengan sentimen global yang berkembang pada awal tahun.
“Ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik global turut memengaruhi pergerakan harga emas, termasuk di daerah,” ujar Hasiando. Sentimen global tersebut mendorong peningkatan permintaan emas sebagai aset lindung nilai.
Selain emas, faktor cuaca juga memberikan dampak terhadap harga pangan tertentu. Kondisi cuaca yang kurang mendukung memengaruhi hasil tangkapan nelayan, sehingga harga ikan layang mengalami kenaikan di sejumlah pasar.
Tarif angkutan laut turut mengalami normalisasi setelah sebelumnya mendapatkan diskon selama periode Natal dan Tahun Baru. Penyesuaian tarif ini memberikan tambahan tekanan pada komponen transportasi laut dalam struktur IHK.
Langkah Antisipatif Jelang Ramadan dan Idulfitri
Menghadapi periode Ramadan dan Idulfitri, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) berkomitmen memperkuat langkah antisipatif. Upaya ini difokuskan pada pengamanan pasokan, kelancaran distribusi, dan pengendalian ekspektasi inflasi masyarakat.
“Kami terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah melalui TPID guna memastikan ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta menjaga ekspektasi inflasi masyarakat tetap terjangkar dengan baik,” tegasnya. Koordinasi lintas sektor dinilai krusial untuk menjaga stabilitas harga.
Dengan kombinasi kebijakan yang responsif dan koordinasi yang erat, inflasi Kaltara diharapkan tetap terkendali pada bulan-bulan berikutnya. Meskipun tantangan global masih membayangi, fundamental pengendalian inflasi daerah dinilai cukup kuat untuk menjaga daya beli masyarakat tetap stabil di awal tahun 2026.