Trump Teken UU Sanksi Rusia-Iran, Tarif hingga 100% Ancam Pembeli Minyak

Minggu, 20 September 2026 | 05:02:00 WIB
Trump Teken UU Sanksi Rusia-Iran, Tarif hingga 100% Ancam Pembeli Minyak

KEUANGANDIGITAL.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani undang-undang sanksi yang memberi wewenang pengenaan tarif hingga 100% terhadap lima pembeli terbesar minyak dan gas Rusia, terutama Tiongkok dan India. RUU setebal 48 halaman itu juga memperluas sasaran ke sektor energi dan persenjataan Iran. Penandatanganan ini menutup proses legislasi yang dimulai dari pengesahan di DPR AS awal pekan ini.

Undang-undang yang secara resmi berjudul Undang-Undang Sanksi terhadap Rusia dan Iran Lindsey O Graham Tahun 2026 itu disahkan DPR AS awal pekan ini sebelum sampai ke meja Trump. Menurut laporan BBC, aturan ini memberi presiden Amerika wewenang luas untuk menjatuhkan tarif sampai 100% kepada negara-negara yang masih membeli minyak dan gas Rusia dalam volume besar.

Lima pembeli terbesar menjadi sasaran utama. Tiongkok dan India disebut sebagai dua negara yang paling terpapar ketentuan tersebut.

Siapa yang Masuk Daftar Sasaran

Selain Rusia, permintaan Trump memasukkan Iran ke dalam cakupan sanksi. Sektor energi dan persenjataan Iran kini berada dalam payung aturan yang sama.

Penamaan RUU ini merujuk pada mendiang Senator Lindsey Graham, salah satu pendukung paling vokal bagi Ukraina di Washington sebelum wafat pada 11 Juli. Nama Graham dipakai sebagai penghormatan atas posisinya yang konsisten menyerukan tekanan terhadap Moskow.

Pengecualian bagi Negara Kecil

RUU setebal 48 halaman itu memuat klausul pengecualian. Negara yang mengimpor kurang dari 15% kebutuhan gas alamnya dari Rusia dan sedang berupaya mengurangi ketergantungan itu tidak terkena ketentuan tarif.

Pengecualian ini membuka ruang bagi sejumlah negara yang hubungan dagangnya dengan Moskow terbatas. Namun ambang 15% membuat negara dengan ketergantungan besar tetap sulit menghindari sanksi.

Dampak ke Pasar Energi Global

Kewenangan tarif hingga 100% berpotensi mengubah peta perdagangan minyak dan gas dunia. Tiongkok dan India, sebagai pembeli utama, menghadapi pilihan sulit antara mempertahankan pasokan murah dari Rusia atau menghindari tarif besar dari Amerika.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Tiongkok maupun India soal sikap mereka terhadap undang-undang tersebut.

Pasar energi global menunggu apakah Trump akan langsung memakai wewenang tarif itu atau menahannya sebagai instrumen tekanan diplomatik. Keputusan berikutnya akan menentukan arah hubungan dagang Washington dengan dua ekonomi terbesar Asia.

Terkini