BBM

Distribusi BBM Dan LPG Terganggu Di Luwu Pertamina Minta Warga Tenang

Distribusi BBM Dan LPG Terganggu Di Luwu Pertamina Minta Warga Tenang
Distribusi BBM Dan LPG Terganggu Di Luwu Pertamina Minta Warga Tenang

JAKARTA - Gangguan distribusi energi di wilayah Luwu Utara dan Luwu Timur menjadi perhatian serius dalam beberapa hari terakhir. 

Situasi ini bermula dari terputusnya akses Jalan Trans Sulawesi akibat aksi unjuk rasa terkait pembentukan Kabupaten Luwu Tengah dan Provinsi Luwu Raya. Dampak penutupan jalan tersebut langsung dirasakan masyarakat, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan bahan bakar minyak dan gas elpiji bersubsidi.

Terhambatnya jalur utama distribusi membuat pasokan BBM dan LPG tidak dapat masuk secara normal ke wilayah terdampak. Kondisi ini memicu antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU serta kelangkaan LPG 3 kilogram di tingkat pengecer. Warga pun mulai merasakan kesulitan menjalankan aktivitas harian, terutama mereka yang bergantung langsung pada ketersediaan energi.

Akses Jalan Terputus Ganggu Distribusi Energi

Penutupan Jalan Trans Sulawesi di beberapa titik strategis di Kabupaten Luwu dan Luwu Utara berlangsung selama beberapa hari. Jalur ini merupakan urat nadi distribusi logistik, termasuk BBM dan LPG, menuju Luwu Raya dan sekitarnya. Akibatnya, armada pengangkut energi mengalami keterlambatan bahkan tidak dapat melintas sama sekali.

Distribusi BBM dan LPG tercatat terganggu selama sekitar lima hari. Dalam periode tersebut, pasokan ke SPBU dan agen LPG tidak berjalan optimal. Stok yang tersedia di lapangan pun menipis karena tetap melayani konsumsi masyarakat setiap hari tanpa suplai yang memadai.

Antrean Panjang Tekan Aktivitas Sopir Angkutan

Dampak paling nyata terlihat di SPBU yang melayani masyarakat umum dan angkutan. Antrean kendaraan mengular sejak pagi hingga malam hari. Kondisi ini sangat memengaruhi aktivitas para sopir angkutan umum yang menggantungkan pendapatan dari jumlah perjalanan harian.

Risal, sopir angkutan umum di Luwu Utara, mengungkapkan antrean panjang BBM kini menjadi rutinitas. Ia mengaku harus menunggu hingga dua jam, bahkan terkadang baru mendapatkan BBM pada malam hari meski sudah datang sejak sore. Sebelum kondisi ini terjadi, Risal mampu melayani dua kali perjalanan pulang-pergi dalam sehari.

Kini sebagian besar waktunya justru habis di SPBU. Dampaknya, jumlah penumpang yang dapat diangkut berkurang dan pendapatan harian menurun. Meski demikian, para sopir memilih tidak menaikkan tarif karena khawatir memberatkan masyarakat. Sebagian penumpang menunjukkan empati dengan memberi tambahan ongkos secara sukarela.

Kelangkaan LPG Membebani Rumah Tangga

Selain BBM, kelangkaan LPG bersubsidi ukuran 3 kilogram turut dikeluhkan warga. Gas melon yang biasa digunakan untuk kebutuhan memasak rumah tangga sulit ditemukan dalam sepekan terakhir. Kalaupun tersedia, harganya melonjak jauh di atas harga eceran tertinggi.

Mirna, seorang ibu rumah tangga, mengaku harus berkeliling mencari LPG ke berbagai tempat. Ia menyebut harga LPG 3 kilogram bisa mencapai Rp40 ribu per tabung. Kondisi tersebut tentu memberatkan, terutama bagi keluarga dengan penghasilan terbatas yang sangat bergantung pada LPG bersubsidi.

Pertamina Pastikan Distribusi Mulai Pulih

Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi menyampaikan bahwa distribusi BBM dan LPG ke Luwu Utara dan Luwu Timur mulai berangsur normal. Pemulihan dilakukan setelah akses jalur utama kembali terbuka dan dapat dilalui armada distribusi energi.

Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, T Muhammad Rum, menjelaskan tahap awal pemulihan difokuskan pada pemerataan pasokan ke seluruh SPBU dan agen. Setelah itu, Pertamina memperkuat ketahanan stok agar kondisi kembali stabil.

“Kami menyalurkan BBM di atas konsumsi normal harian agar stok di SPBU dan agen segera kembali aman,” kata Rum. Langkah ini dilakukan untuk mengejar ketertinggalan distribusi selama jalur transportasi terputus.

Penambahan Pasokan Dan Optimalisasi Terminal

Untuk mempercepat pemulihan, Pertamina melakukan penambahan pasokan BBM dan LPG di wilayah terdampak. Di Luwu Utara, pasokan gasoline ditambah 18 persen dan gasoil 15 persen dari rata-rata konsumsi harian. Sementara di Luwu Timur, pasokan gasoline meningkat 16 persen dan gasoil 10 persen.

Untuk LPG, Pertamina menambah pasokan sebanyak 11.200 tabung atau sekitar 50 persen dari alokasi harian. Fuel Terminal Palopo juga dioperasikan melebihi jam normal dengan tetap mengedepankan standar keselamatan kerja dan aspek HSSE.

Selain itu, Pertamina mengoptimalkan Fuel Terminal Poso sebagai titik suplai alternatif guna memastikan distribusi tetap berjalan meski menghadapi kendala di jalur utama.

Imbauan Hindari Panic Buying Dan Penimbunan

Di tengah upaya pemulihan, Pertamina mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan membeli BBM maupun LPG sesuai kebutuhan. Pembelian berlebihan dikhawatirkan dapat memperparah kondisi di lapangan dan memicu spekulasi harga.

Pertamina mencatat adanya indikasi panic buying di sejumlah wilayah, terutama setelah beredar pemberitaan mengenai rencana aksi lanjutan. Dampaknya bahkan dirasakan hingga Kota Palopo dan sekitarnya. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pertamina bersama pemerintah daerah menggelar operasi pasar LPG dengan pengawasan Dinas Perdagangan dan Satpol PP.

Melalui langkah-langkah tersebut, Pertamina berharap distribusi energi di Luwu Utara dan Luwu Timur segera kembali normal, sehingga aktivitas masyarakat dapat berjalan seperti sediakala tanpa kekhawatiran akan kelangkaan BBM dan LPG.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index