JAKARTA - Perdagangan awal pekan membawa tekanan signifikan bagi pasar valuta asing domestik.
Rupiah kembali berakhir di zona merah setelah sepanjang hari bergerak di bawah tekanan penguatan Dolar Amerika Serikat.
Nilai tukar rupiah menutup perdagangan awal pekan ini dengan pelemahan tajam terhadap dolar Amerika Serikat. Seiring menguatnya dolar AS di pasar global, pasca serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir pekan lalu.
Melansir data Refinitiv, pada perdagangan hari ini Senin, rupiah ditutup di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,60% atau terdepresiasi ke level Rp16.860/US$. Level ini sekaligus menjadi yang terlemah dalam dua pekan terakhir.
Pelemahan rupiah sejatinya sudah terlihat sejak awal perdagangan pagi. Rupiah dibuka melemah 0,30% di level Rp16.810/US$, lalu tekanan berlanjut hingga penutupan sore hari ini.
Dolar AS Menguat di Pasar Global
Pergerakan rupiah hari ini banyak dipengaruhi oleh respons pelaku pasar terhadap meningkatnya eskalasi geopolitik di Timur Tengah, pasca serangan AS dan Israel ke Iran pada Sabtu yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Selain itu, Iran juga dilaporkan melancarkan serangan terhadap aset-aset AS di sejumlah negara sekitarnya, seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, Yordania, Irak, dan Suriah.
Kondisi tersebut membuat penguatan pada dolar AS di pasar global. Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS atau US Dollar Index terpantau menguat cukup tajam sebesar 0,84% ke level 98,429.
Kondisi ini menunjukkan pelaku pasar yang tengah memburu aset berdenominasi dolar AS, sehingga menopang penguatan DXY. Menguatnya indeks dolar tersebut yang pada akhirnya memberi tekanan pada mata uang negara lain, termasuk rupiah.
Data Inflasi Februari Jadi Sorotan
Dari dalam negeri, pasar juga mencermati rilis inflasi Februari 2026 oleh Badan Pusat Statistik atau BPS. Data ini menjadi salah satu indikator penting arah kebijakan ekonomi ke depan.
BPS mencatat inflasi Februari 2026 mencapai 0,68% secara bulanan. Inflasi ini tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 109,75 pada Januari 2026 menjadi 110,50 pada Februari 2026.
"Pada bulan Februari tahun 2026 terjadi inflasi sebesar 0,68% atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen dari 109,75 pada Januari 2026 menjadi 110,50 pada Februari 2026," kata Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers BPS, Senin (2/3/2026).
Sementara itu, secara tahunan inflasi Februari tercatat sebesar 4,76%. Angka ini menandai laju inflasi tahunan tertinggi sejak Maret 2023, saat inflasi Indonesia sempat mencapai 4,97%.
Tekanan Eksternal dan Tantangan Stabilitas
Kombinasi sentimen global dan faktor domestik membuat pergerakan rupiah semakin sensitif. Penguatan dolar AS yang didorong oleh peningkatan permintaan aset aman menjadi katalis utama pelemahan mata uang negara berkembang.
Level Rp16.860 per dolar AS sekaligus mencerminkan tekanan yang belum sepenuhnya mereda. Posisi tersebut menjadi acuan penting bagi pelaku pasar dalam membaca arah selanjutnya.
Pelaku pasar kini menanti langkah stabilisasi yang dapat ditempuh otoritas moneter. Respons kebijakan akan sangat menentukan kemampuan rupiah untuk menahan tekanan lanjutan.
Dengan pelemahan 0,60% pada penutupan perdagangan hari ini, rupiah menghadapi tantangan berat menjaga stabilitas di tengah dinamika global dan rilis data ekonomi domestik yang turut memengaruhi sentimen pasar.