JAKARTA - Tekanan terhadap mata uang rupiah kembali berlanjut pada perdagangan Jumat pagi.
Di tengah penguatan dolar Amerika Serikat dan memanasnya situasi geopolitik global, rupiah belum mampu keluar dari tekanan eksternal. Kondisi ini membuat pelaku pasar kembali mencermati pergerakan nilai tukar secara lebih hati-hati.
Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali terperosok pada Jumat 20 Februari 2026, seiring penguatan dolar dan meningkatnya ketegangan geopolitik global. Tekanan eksternal membuat mata uang Asia, termasuk rupiah, kesulitan bangkit di tengah sentimen risiko yang masih rapuh. Atmosfer pasar global yang belum stabil turut memengaruhi arus modal.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.03 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah hari ini melemah 13 poin (0,08%) ke level Rp 16.907 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terlihat naik 0,03% ke level 97,95. Pergerakan ini menunjukkan dominasi dolar terhadap mayoritas mata uang lainnya.
Sedangkan pada perdagangan Kamis 19 Februari 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 10 poin di level Rp 16.894. Koreksi berturut-turut ini mengindikasikan bahwa tekanan terhadap rupiah masih berlanjut sejak sesi sebelumnya. Investor memantau potensi pelemahan lanjutan dalam jangka pendek.
Tekanan Global dan Sentimen Risiko
Dikutip dari Trading View, Mata uang Asia bergerak konsolidasi terhadap dolar AS pada sesi perdagangan pagi, namun berpotensi tertekan oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konsolidasi ini menunjukkan pergerakan terbatas, tetapi risiko pelemahan tetap membayangi. Rupiah pun bergerak sejalan dengan tren kawasan.
Ketegangan geopolitik menjadi faktor dominan yang memengaruhi sentimen global. Pasar keuangan cenderung menghindari risiko ketika ketidakpastian meningkat. Dalam situasi seperti ini, dolar AS sering kali menjadi aset lindung nilai utama.
Kepala Riset Pasar NAB, Skye Masters, mengatakan masih terdapat “kekhawatiran yang berkelanjutan terkait hubungan AS dan Iran,” mengingat pengerahan militer AS berupa kapal induk, jet tempur, dan pesawat pengisian bahan bakar di kawasan tersebut. Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi eskalasi konflik.
“Untuk saat ini, latar belakang geopolitik yang tidak pasti terus menekan sentimen risiko,” ujarnya dalam sebuah komentar riset. Ketidakpastian tersebut membuat investor cenderung berhati-hati dalam menempatkan dana di aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Pergerakan Mata Uang Asia Lainnya
Tekanan terhadap rupiah juga terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia lainnya yang cenderung terbatas. Berdasarkan data FactSet, pasangan USD/JPY naik tipis 0,1% ke level 155,15. Pergerakan ini menunjukkan penguatan dolar terhadap yen Jepang.
Sementara itu, USD/KRW stagnan di 1.448,99 dan AUD/USD melemah 0,1% ke 0,7055. Dinamika tersebut memperlihatkan bahwa mayoritas mata uang di kawasan bergerak hati-hati. Sentimen global menjadi faktor penentu arah.
Konsolidasi mata uang Asia mencerminkan sikap wait and see investor. Pasar menunggu perkembangan lebih lanjut terkait situasi geopolitik dan arah kebijakan moneter global. Kondisi ini membuat volatilitas tetap terjaga dalam batas tertentu.
Bagi rupiah, pergerakan regional menjadi cerminan tekanan eksternal yang lebih luas. Ketika dolar menguat secara global, ruang penguatan mata uang emerging markets menjadi terbatas. Oleh sebab itu, rupiah masih berada dalam tekanan.
Prospek Rupiah di Tengah Ketidakpastian
Dengan pelemahan 13 poin pada Jumat pagi, rupiah masih menghadapi tantangan dari faktor eksternal. Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali terperosok pada Jumat 20 Februari 2026, seiring penguatan dolar dan meningkatnya ketegangan geopolitik global. Selama sentimen risiko belum pulih, tekanan bisa berlanjut.
Penguatan indeks dolar ke level 97,95 memperlihatkan permintaan terhadap mata uang AS masih solid. Investor global cenderung mencari aset aman ketika ketidakpastian meningkat. Situasi ini menjadi tantangan bagi rupiah untuk kembali stabil.
Meski demikian, pergerakan rupiah sejauh ini masih dalam kisaran yang terukur. Pelemahan 0,08% tergolong moderat dibanding potensi gejolak yang bisa terjadi di pasar global. Stabilitas domestik akan menjadi faktor penting dalam menjaga nilai tukar.
Pelaku pasar kini menantikan perkembangan lanjutan dari dinamika geopolitik dan data ekonomi global. Jika ketegangan mereda, peluang stabilisasi rupiah tetap terbuka. Namun untuk sementara, tekanan eksternal masih menjadi bayang-bayang utama bagi pergerakan mata uang Garuda.