Rupiah

Rupiah Menguat Tipis Ke Rp16.860 Per USD Dipengaruhi Sentimen Global

Rupiah Menguat Tipis Ke Rp16.860 Per USD Dipengaruhi Sentimen Global
Rupiah Menguat Tipis Ke Rp16.860 Per USD Dipengaruhi Sentimen Global

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada awal Maret 2026. 

Di tengah dinamika geopolitik dan sentimen global yang memanas, mata uang Garuda menunjukkan respons yang relatif terbatas. Fluktuasi yang terjadi mencerminkan tarik menarik antara faktor eksternal dan fundamental domestik.

Ketegangan internasional turut memengaruhi arah dolar Amerika Serikat yang menguat bersamaan dengan meningkatnya risiko global. Kondisi tersebut memberi tekanan tersendiri bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, meski pada pembukaan perdagangan terlihat adanya penguatan tipis.

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami penguatan tipis. Rupiah menguat atas dolar AS yang juga mengalami penguatan di tengah serangan AS-Israel ke Iran.

Mengutip data Bloomberg, Selasa, 3 Maret 2026, rupiah berada di level Rp16.860 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik delapan poin atau setara 0,05 persen dari Rp16.868 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.843 per USD. Mata uang Garuda melemah dibandingkan pada pembukaan perdagangan pagi kemarin sebesar Rp16.774 per USD.

Rupiah fluktuatif cenderung melemah

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah pada hari ini akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah. Mata uang Garuda diperkirakan berada di rentang Rp 16.860 – Rp 16.910 per dolar AS.

Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa penguatan di awal perdagangan belum tentu mencerminkan tren sepanjang hari. Tekanan eksternal dinilai masih cukup kuat untuk membatasi ruang apresiasi rupiah.

Ibrahim mengatakan, rilis data Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia tak bisa meredam pelemahan rupiah. Meski PMI Manufaktur melanjutkan penguatan ke level 53,8 pada Februari 2026 dari bulan sebelumnya yang berada di angka 52,6.

Data PMI yang ekspansif sebenarnya menjadi sinyal positif bagi sektor riil. Namun, sentimen global yang lebih dominan membuat dampaknya terhadap nilai tukar menjadi terbatas.

“Peningkatan PMI manufaktur utamanya didorong oleh percepatan pertumbuhan permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia. Permintaan baru naik selama tujuh bulan berturut-turut, dengan tingkat pertumbuhan di posisi paling kuat sejak November 2025,” ucap Ibrahim.

Fundamental domestik masih kuat

Berdasarkan laporan peserta survei, jumlah pelanggan naik dan kepercayaan diri membaik. Data menunjukkan bahwa pertumbuhan total permintaan baru terjadi secara luas, seiring produsen manufaktur Indonesia mencatat kembali peningkatan pesanan ekspor baru untuk pertama kali dalam 6 bulan.

Kenaikan pada permintaan ekspor baru merupakan yang paling tajam sejak Mei 2022. Hal ini menandakan bahwa sektor manufaktur mulai menunjukkan daya tahan di tengah tekanan global.

Secara fundamental, capaian ini memberikan bantalan bagi perekonomian nasional. Namun dalam konteks pasar valuta asing, faktor global seperti konflik geopolitik dan pergerakan dolar AS masih menjadi penentu utama.

Penguatan PMI hingga level 53,8 juga mempertegas bahwa aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi. Angka di atas 50 menandakan pertumbuhan, sehingga secara teori dapat mendukung stabilitas nilai tukar.

Sentimen global masih dominan

Di sisi lain, ketegangan akibat serangan AS-Israel ke Iran memicu penguatan dolar AS sebagai aset safe haven. Kondisi ini membuat mata uang emerging market, termasuk rupiah, bergerak lebih terbatas.

Penguatan dolar AS biasanya diikuti arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Tekanan tersebut dapat membatasi potensi penguatan rupiah meskipun data domestik menunjukkan perbaikan.

Pergerakan rupiah yang hanya naik delapan poin atau 0,05 persen menggambarkan sikap hati-hati pelaku pasar. Investor cenderung menunggu perkembangan situasi global sebelum mengambil posisi lebih agresif.

Dengan proyeksi pergerakan di rentang Rp 16.860 – Rp 16.910 per dolar AS, volatilitas masih menjadi ciri utama perdagangan hari ini. Fluktuasi yang terjadi menunjukkan keseimbangan rapuh antara sentimen positif domestik dan tekanan eksternal.

Secara keseluruhan, rupiah memang membuka perdagangan dengan penguatan tipis ke Rp16.860 per USD. Namun arah selanjutnya masih sangat bergantung pada dinamika global dan respons pelaku pasar terhadap perkembangan konflik internasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index