Crypto

7 Cara Trading Crypto Harian Di 2026 Lebih Efisien

7 Cara Trading Crypto Harian Di 2026 Lebih Efisien
7 Cara Trading Crypto Harian Di 2026 Lebih Efisien

JAKARTA - Transformasi besar di pasar kripto membuat strategi trading harian ikut berevolusi. 

Jika beberapa tahun lalu aktivitas ini identik dengan spekulasi cepat, kini pendekatannya jauh lebih sistematis dan berbasis data. Perkembangan teknologi serta regulasi turut membentuk ekosistem yang lebih matang.

Tahun 2026 menandai fase baru pasar kripto yang jauh lebih matang dibandingkan era awal 2020-an. Platform seperti Pintu, yang terdaftar dan diawasi OJK, kini menyediakan 300+ aset kripto, emas kripto, serta saham tertokenisasi, mencerminkan integrasi regulasi dan diversifikasi produk yang semakin kuat.

Pasar didorong oleh pemanfaatan AI, dominasi Layer 2 berbiaya rendah, serta arus likuiditas institusional melalui ETF dan tokenisasi RWA, sehingga day trading bukan lagi soal spekulasi cepat, melainkan tentang sistem, data, dan manajemen risiko yang presisi. Berikut tujuh pendekatan yang banyak diterapkan trader harian.

1.Memanfaatkan AI Trading Agents

Di tahun 2026, trading manual secara penuh sudah mulai ditinggalkan. Trader harian kini menggunakan “AI Agents” yang mampu beroperasi 24/7 untuk mengeksekusi strategi berdasarkan parameter yang sangat spesifik. 

Agen-agen ini tidak hanya melakukan jual-beli otomatis, tetapi juga mampu melakukan self-learning terhadap pola pasar yang berubah setiap jamnya, terutama pada protokol AI terdesentralisasi seperti Bittensor TAO 2,38% dengan harga Rp 2.511.191, market cap Rp 23,93 Triliun, volume trading Rp 1,65 Triliun, dan suplai beredar Rp 9.597.491.

Penggunaan bot berbasis AI memungkinkan untuk menangkap peluang scalping pada fluktuasi kecil yang sering kali luput dari penglihatan manusia. Dengan integrasi API ke bursa besar atau DEX, agen AI dapat menganalisis ribuan pasangan aset secara simultan dan mengeksekusi order dalam hitungan milidetik saat kondisi risk-to-reward terpenuhi.

2.Optimalisasi Likuiditas Di Jaringan Layer Dua

Dengan biaya transaksi yang sangat rendah di jaringan Layer 2 seperti Base, Arbitrum, dan Hyperliquid, strategi high-frequency trading kini semakin diminati trader ritel, tidak lagi terbatas pada institusi besar. Di tahun 2026, trader harian memanfaatkan perpetual DEX dengan likuiditas dalam, leverage tinggi, dan latensi rendah yang mampu menyaingi pengalaman bursa terpusat CEX.

Di sisi lain, investor yang mengutamakan kemudahan dan kepatuhan regulasi juga dapat memanfaatkan platform seperti Pintu yang terdaftar dan diawasi OJK untuk mengakses ratusan aset kripto dalam satu aplikasi terintegrasi. Strategi ini berfokus pada peningkatan volume perdagangan di ekosistem Layer 2 dengan biaya gas murah.

Selain itu, memantau token-token baru yang berkembang di jaringan Layer 2 sebelum terdaftar di bursa besar dapat membuka peluang potensi keuntungan yang lebih optimal, dengan tetap memperhatikan manajemen risiko dan volatilitas pasar.

3.Scalping Pada Aset RWA

Tokenisasi aset dunia nyata atau RWA menjadi semakin mapan pada 2026, memungkinkan trader memperdagangkan representasi digital emas, surat utang, hingga properti langsung di blockchain. Dibandingkan koin spekulatif, RWA cenderung memiliki volatilitas lebih terukur namun tetap membuka peluang profit harian melalui selisih harga antar-chain maupun antara pasar kripto dan pasar tradisional.

Dengan dukungan infrastruktur data real-time yang semakin presisi, segmen ini menarik bagi trader yang menginginkan stabilitas relatif tanpa kehilangan dinamika pasar. Seiring tren tersebut, platform seperti Pintu juga telah menghadirkan sejumlah aset kripto RWA, sehingga investor dapat mengakses instrumen ini secara lebih praktis dalam satu ekosistem terintegrasi.

4.Analisis On Chain Smart Money

Memantau pergerakan dana institusi dan whale kini semakin sistematis berkat kemajuan analisis on-chain di 2026. Berbagai alat mampu memberikan notifikasi real-time ketika terjadi arus modal besar ke suatu aset, sehingga trader dapat mengidentifikasi potensi pergerakan harga sebelum menjadi narasi populer di media sosial. Selain itu, pelacakan aliran stablecoin masuk dan keluar dari bursa membantu membaca potensi tekanan beli maupun jual di pasar.

Namun, keberhasilan strategi ini bergantung pada kemampuan membedakan akumulasi organik oleh investor besar dari pergerakan spekulatif jangka pendek. Di tengah kompleksitas tersebut, banyak trader tetap memanfaatkan platform terdaftar seperti Pintu untuk mengeksekusi strategi mereka secara lebih aman dan terintegrasi, sambil mengombinasikan data on-chain dengan manajemen risiko yang disiplin.

5.Sentiment Analysis Berbasis LLM

Berita bergerak secepat kilat, dan di tahun 2026, Large Language Models LLM khusus finansial digunakan untuk menyaring ribuan berita, laporan pendapatan, dan data makro ekonomi dalam hitungan detik. Trader harian menggunakan alat ini untuk mendapatkan skor sentimen pasar secara instan, membantu mereka memutuskan apakah akan mengambil posisi long atau short berdasarkan berita yang baru saja rilis.

Misalnya, jika ada perubahan kebijakan mendadak dari bank sentral atau upgrade teknis pada jaringan Ethereum, AI akan langsung memberikan rangkuman dampak potensialnya terhadap harga. Strategi ini meminimalkan risiko terjebak dalam noise atau berita bohong yang sering kali sengaja disebarkan untuk memanipulasi pasar.

6.Trading Koreksi Pada Token Narasi AI

Sektor AI-Crypto adalah primadona di 2026. Namun, karena narasinya yang sangat kuat, volatilitas di sektor ini sangatlah tinggi. Strategi yang populer adalah melakukan trading pada momen koreksi teknikal setelah lonjakan tajam, dengan mencari level support kuat pada token seperti Near Protocol atau Bittensor saat narasi AI sedang mengalami pendinginan sementara.

Dalam strategi ini, kedisiplinan menggunakan stop-loss adalah harga mati. Karena sektor ini digerakkan oleh inovasi teknologi yang cepat, sentimen bisa berbalik dalam sekejap. Menggabungkan indikator teknikal klasik dengan data perkembangan proyek seperti jumlah developer aktif memberikan keunggulan ekstra dalam memprediksi titik balik harga.

7.Arbitrase Lintas Chain

Meskipun interoperabilitas antar blockchain semakin baik, celah harga masih sering terjadi antara satu jaringan dengan jaringan lainnya. Di tahun 2026, menggunakan protokol cross-chain yang cepat memungkinkan trader untuk membeli aset di Chain A yang harganya lebih murah dan menjualnya di Chain B yang harganya lebih mahal dalam hitungan detik.

Strategi ini membutuhkan modal yang cukup dan pemahaman tentang kecepatan bridge antar chain. Namun, dengan munculnya infrastruktur seperti Jupiter di Solana atau agregator DEX lintas chain lainnya, proses ini menjadi jauh lebih sederhana dan otomatis. Ini adalah cara yang relatif lebih aman untuk mengumpulkan profit kecil namun konsisten sepanjang hari.

Trading crypto harian di tahun 2026 adalah tentang efisiensi dan data. Era spekulasi buta telah digantikan oleh sistem perdagangan yang didukung oleh kecerdasan buatan dan infrastruktur blockchain yang jauh lebih cepat.

Kunci keberhasilan tetap pada manajemen risiko yang ketat dan kemampuan untuk terus beradaptasi dengan narasi baru seperti RWA dan AI. Ingat, di pasar yang sudah sangat efisien ini, disiplin adalah pembeda utama antara trader yang bertahan dengan mereka yang tereliminasi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index