Rupiah

Rupiah Menguat Ke 16.775 Per Dolar AS Dipicu Sentimen Global

Rupiah Menguat Ke 16.775 Per Dolar AS Dipicu Sentimen Global
Rupiah Menguat Ke 16.775 Per Dolar AS Dipicu Sentimen Global

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah pada pertengahan pekan mencerminkan dinamika global yang sedang dinanti pelaku pasar. 

Saat investor internasional bersikap hati-hati terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat, mata uang Garuda justru menunjukkan penguatan di pembukaan perdagangan. Sentimen eksternal dan domestik berpadu membentuk ekspektasi baru terhadap arah rupiah.

KURS rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, pada Rabu, 11 Februari 2026, menguat 36 poin atau sebesar 0,21 persen menjadi Rp 16.775 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.811 per dolar AS. Kenaikan ini menjadi sinyal respons pasar terhadap perkembangan data ekonomi global.

Penguatan tersebut terjadi di tengah sikap wait and see pelaku pasar terhadap sejumlah rilis data penting dari Amerika Serikat. Pergerakan rupiah juga mencerminkan harapan bahwa tekanan terhadap dolar AS dapat mereda dalam jangka pendek.

Investor Menanti Data Tenaga Kerja AS

Penguatan nilai tukar rupiah ini, menurut Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede, salah satunya karena investor yang masih menunggu rilis data pasar tenaga kerja non farm payrolls NFP Amerika Serikat.

“Investor menunggu data pasar tenaga kerja AS untuk mendapatkan petunjuk tentang arah kebijakan The Fed di masa mendatang,” ujar Josua di Jakarta, seperti dikutip dari Antara. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa fokus pasar saat ini tertuju pada arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.

Xinhua sebelumnya memberitakan investor tengah mengantisipasi diumumkannya rilis laporan data NFP AS. Para pelaku mengharapkan kejelasan apakah pasar tenaga kerja mengalami pelemahan signifikan pascapembaruan data ketenagakerjaan sektor swasta yang mengecewakan dari ADP pada pekan lalu.

Ketidakpastian atas kekuatan pasar tenaga kerja AS menjadi kunci dalam membaca langkah The Fed selanjutnya. Jika data menunjukkan perlambatan, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar bisa menguat.

Data Ekonomi AS Tekan Dolar

Selain data tenaga kerja, perhatian pasar juga tertuju pada data penjualan ritel Amerika Serikat. AS telah mengumumkan data penjualan retail pada Desember 2025 yang bergerak datar di 0 persen month to month mom.

Artinya, penjualan retail melambat dari November 2025 dan kurang dari ekspektasi pasar sebesar 0,4 persen mom. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa daya beli konsumen AS sedang melemah.

“Data tersebut menandakan permintaan konsumen yang lebih lemah, memperkuat ekspektasi bahwa The Fed mungkin mempertahankan kebijakan akomodatif dan menekan dolar AS,” kata Josua.

Ketika dolar AS berada dalam tekanan akibat ekspektasi kebijakan yang lebih longgar, mata uang negara berkembang seperti rupiah cenderung mendapatkan ruang untuk menguat. Sentimen ini menjadi salah satu pendorong penguatan rupiah pada perdagangan tersebut.

Respons Kebijakan Domestik

Dari sisi domestik, pernyataan otoritas moneter Indonesia turut memberi warna terhadap pergerakan rupiah. Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan bank sentral masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga kebijakan ke depannya.

BI akan mempertimbangkan tingkat kecepatan transmisi bunga acuan sebelum mengambil keputusan pemangkasan lanjutan. Pernyataan ini menunjukkan kehati-hatian sekaligus fleksibilitas kebijakan yang diambil oleh bank sentral.

Keputusan tersebut, menurut Destry, tetap bergantung pada data ekonomi terkini yang terus dievaluasi atau data dependent. Pendekatan berbasis data ini diharapkan mampu menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.

Kombinasi sentimen global dan pernyataan domestik tersebut menciptakan ekspektasi positif terhadap pergerakan rupiah. Stabilitas komunikasi kebijakan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kepercayaan pelaku pasar.

Proyeksi Pergerakan Rupiah

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, kurs rupiah diprediksi berkisar Rp 16.750-Rp 16.850 per dolar AS. Rentang ini mencerminkan potensi volatilitas yang tetap ada di tengah ketidakpastian global.

Pelaku pasar akan terus mencermati rilis data ekonomi lanjutan dari Amerika Serikat, khususnya laporan non farm payrolls. Hasil data tersebut dapat menjadi katalis penentu arah dolar AS dan secara langsung memengaruhi pergerakan rupiah.

Di sisi lain, kebijakan Bank Indonesia yang bersifat data dependent memberi ruang fleksibilitas dalam merespons dinamika pasar. Selama fundamental domestik terjaga dan arus modal stabil, rupiah memiliki peluang untuk mempertahankan penguatan.

Secara keseluruhan, penguatan rupiah ke Rp 16.775 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu mencerminkan kombinasi sentimen global dan domestik. Investor menanti arah kebijakan The Fed melalui data tenaga kerja dan indikator konsumsi AS, sementara Bank Indonesia tetap menjaga fleksibilitas kebijakan. Pergerakan selanjutnya akan sangat ditentukan oleh perkembangan data dan respons pasar terhadap dinamika tersebut.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index