The Fed Naikkan Bunga ke 4%, BI Diprediksi Tahan Suku Bunga 22-23 September

Minggu, 20 September 2026 | 10:32:00 WIB
The Fed Naikkan Bunga ke 4%, BI Diprediksi Tahan Suku Bunga 22-23 September

KEUANGANDIGITAL.COM — Bank Indonesia diprediksi menahan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur 22-23 September 2026 meski The Fed menaikkan bunga 25 basis poin ke 3,75-4,00 persen. Pergerakan rupiah jadi faktor penentu utama arah kebijakan bank sentral.

Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke rentang 3,75 persen hingga 4,00 persen. Keputusan tersebut langsung mengalihkan perhatian pelaku pasar ke dalam negeri, menjelang RDG Bank Indonesia yang berlangsung 22-23 September 2026.

Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menilai BI belum akan menaikkan suku bunga pada rapat tersebut. Menurut dia, bank sentral masih mengandalkan intervensi pasar valuta asing dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk meredam tekanan terhadap rupiah.

Intervensi Valas dan SRBI Jadi Senjata Utama

Rully menjelaskan bahwa respons kebijakan BI bergantung pada pergerakan rupiah. Hierarki instrumennya tetap sama: intervensi valas dan SRBI lebih dulu, karena cepat dan bisa dibalik, sementara kenaikan suku bunga jadi pilihan terakhir.

"Respons kebijakan BI bergantung pada pergerakan rupiah, dengan hierarki yang sama: intervensi valas dan SRBI terlebih dahulu, yang cepat dan dapat dibalik, sementara kenaikan suku bunga menjadi pilihan terakhir," tulis Rully dalam riset bertajuk September FOMC: Dot Plot Backs Our Terminal Call, Market Still Running Hotter, pada Kamis (17/9/2026).

Lelang SRBI Menyusut Tajam

Yang berubah belakangan ini adalah komposisi instrumen yang dipakai BI. Lelang SRBI tercatat turun tajam, dari delapan kali pada Juli menjadi tiga kali pada Agustus dan hanya satu kali sepanjang September.

Penurunan frekuensi lelang SRBI itu menunjukkan BI mulai mengurangi ketergantungan pada instrumen tersebut. Pasar menanti apakah langkah ini akan diimbangi dengan intervensi valas yang lebih agresif jika rupiah kembali tertekan.

Bagi investor ritel dan pelaku pasar obligasi, arah RDG pekan depan akan menentukan imbal hasil SRBI dan surat utang negara. Jika BI menahan bunga, yield SRBI berpotensi stabil dan tetap menarik di tengah ketidakpastian global.

Sebaliknya, jika tekanan rupiah memburuk pasca keputusan The Fed, BI tidak menutup kemungkinan menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan. Skenario itu akan menekan harga obligasi dan meningkatkan biaya dana perbankan.

Rully sendiri menegaskan bahwa kenaikan suku bunga tetap menjadi opsi terakhir dalam bauran kebijakan BI. Artinya, keputusan RDG 22-23 September akan sangat bergantung pada seberapa stabil rupiah bergerak dalam beberapa hari ke depan.

Terkini