Indonesia Masuk Daftar Pantau S&P, Target IHSG 6.390-7.470

Indonesia Masuk Daftar Pantau S&P, Target IHSG 6.390-7.470
Ilustrasi - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Foto: NET)

JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan tetap berada di bawah tekanan setelah adanya rilis daftar pantauan (watchlist) dari penyedia indeks global S&P. 

Menyusul perhatian yang sebelumnya diberikan oleh indeks global MSCI, S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) kini turut menempatkan Indonesia dalam daftar pantauan atas risiko penurunan status dari emerging market menjadi frontiers market

Berdasarkan laporan terbarunya, S&P DJI menyatakan bahwa ancaman penurunan kelas ini dipicu oleh masalah transparansi pasar, senada dengan poin keberatan yang sempat diutarakan oleh MSCI.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai bahwa para pelaku pasar serta investor saat ini tampaknya mulai beradaptasi dengan realita yang berkembang. 

Meski begitu, sikap pasrah tersebut bukan berarti memicu mereka untuk segera menanamkan modalnya kembali ke lantai bursa. Para investor cenderung bersikap menunggu dan mengamati perkembangan situasi terkini.

“Terutama ketika para pemangku kepentingan, terlihat tampaknya tidak melakukan apa apa untuk memperbaiki situasi dan kondisi yang ada,” ujarnya, Rabu (8/7/2026).

Selain iklim investasi domestik yang kurang menguntungkan, tekanan eksternal juga muncul dari eskalasi tensi geopolitik seiring langkah Amerika Serikat (AS) yang kembali melancarkan serangan.

“Hal ini yang membuat pasar keuangan Indonesia seakan seperti tidak memiliki cushion untuk menahan itu semua, hal ini yang membuat capital outflow cenderung lebih rentan,” tuturnya.

Memasuki paruh kedua tahun ini, target pergerakan IHSG diperkirakan bakal bergulir di rentang area 6.390 hingga 7.470. Faktor penggerak pasar saham domestik dinilai masih relatif sama dengan periode sebelumnya.

“Terutama ada tambahan baru lagi potensi turun kelas Indonesia menjadi Frontier Market, yang berpotensi mendorong capital outflow jauh lebih besar, apabila kami tidak melakukan apa pun,” tuturnya.

Merespons dinamika pasar terupdate, Maximilianus Nico Demus mengimbau para pemodal untuk meninjau kembali target investasi, jangka waktu penempatan dana, serta profil risiko masing-masing.

“Apabila suka dengan jangka pendek dan high risk, volatilitas merupakan sebuah kesempatan. Namun, apabila suka dengan jangka panjang, low risk, akumulasi beli merupakan pilihan,” tuturnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index