IHSG

IHSG Anjlok Awal Pekan 30 Maret 2026 Tekanan Global Sentimen Negatif

IHSG Anjlok Awal Pekan 30 Maret 2026 Tekanan Global Sentimen Negatif
IHSG Anjlok Awal Pekan 30 Maret 2026 Tekanan Global Sentimen Negatif

JAKARTA - Tekanan pasar saham langsung terasa sejak pembukaan perdagangan awal pekan ini. 

Sentimen global yang belum mereda membuat pelaku pasar cenderung melakukan aksi jual, sehingga indeks bergerak cukup tajam ke zona merah dalam waktu singkat.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pagi ini mengalami penurunan signifikan di awal pekan. Pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin, 30 Maret 2026, IHSG berada di posisi 7.020,532. Level ini langsung menjadi titik awal pelemahan sebelum tekanan semakin dalam.

Mengacu data RTI yang terekam hingga pukul 09.31 WIB, IHSG langsung turun hingga sebanyak 123,731 poin setara 1,74 persen ke level 6.973,325. Penurunan cepat ini menunjukkan bahwa tekanan jual terjadi sejak awal sesi perdagangan.

Mayoritas Saham Bergerak Melemah

Adapun sebanyak 471 saham emiten melemah pada perdagangan pagi ini. Sementara, 136 saham lainnya menguat dan 126 saham stagnan. Komposisi ini memperlihatkan dominasi tekanan yang cukup luas di pasar.

Kondisi tersebut biasanya mencerminkan sentimen negatif yang tidak hanya terbatas pada sektor tertentu. Investor cenderung melakukan aksi lepas saham secara serentak di berbagai lini.

Untuk sementara, total transaksi yang tercatat hingga pukul 09.31 WIB sebanyak Rp3,124 triliun dengan total saham yang diperdagangkan 6,052 miliar saham. Aktivitas ini menunjukkan bahwa tekanan terjadi di tengah likuiditas yang tetap tinggi.

Proyeksi Pergerakan IHSG Masih Tertekan

Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman mengatakan IHSG berpotensi kembali melemah hari ini. "Diperkirakan support IHSG 6.900-7.000 dan resist IHSG 7.130-7.160," ungkap Fanny dalam analisis hariannya.

Proyeksi ini menunjukkan bahwa ruang pergerakan IHSG masih cukup terbatas dalam jangka pendek. Investor perlu mencermati level support untuk mengantisipasi kemungkinan penurunan lanjutan.

Adapun IHSG pada perdagangan Jumat, 27 Maret 2026, ditutup turun 0,94 persen, disertai dengan net sell asing sebesar Rp1,89 triliun. Hal ini menambah tekanan karena arus dana keluar masih terjadi.

Aksi Jual Asing Tekan Saham Big Caps

Saham yang paling banyak dijual asing adalah Bank Central Asia Tbk, Bank Rakyat Indonesia Tbk, Bank Negara Indonesia Tbk, Bank Mandiri Tbk, dan Telkom Indonesia Tbk.

Saham-saham tersebut merupakan kategori blue chip yang memiliki kapitalisasi besar. Ketika saham ini dilepas oleh investor asing, dampaknya cukup signifikan terhadap pergerakan indeks.

Aksi jual pada saham unggulan ini biasanya mencerminkan sikap investor global yang sedang mengurangi risiko. Kondisi ini turut memperberat tekanan pada IHSG.

Tekanan Dari Bursa Global Masih Berlanjut

Sementara itu, indeks-indeks saham Wall Street turun signifikan pada penutupan perdagangan Jumat, 27 Maret 2026. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,73 persen, S&P 500 melemah 1,67 persen, dan Nasdaq Composite berkurang 2,15 persen.

Pelemahan ini memberikan sentimen negatif bagi pasar saham global, termasuk Indonesia. Investor cenderung mengikuti arah pergerakan pasar utama dunia sebagai acuan.

Tekanan dari pasar Amerika Serikat ini juga memperkuat kecenderungan risk-off di kalangan investor global. Akibatnya, aliran dana ke pasar berkembang menjadi lebih terbatas.

Pergerakan Bursa Asia Cenderung Variatif

Di sisi lain, pasar saham Asia bervariasi di tengah tekanan global pada Jumat pekan lalu, 27 Maret 2026, mengikuti penurunan Wall Street, seiring ancaman gejolak energi berkepanjangan dari perang di Timur Tengah yang mendorong biaya pinjaman melonjak.

Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,4 persen, sedangkan Topix naik 0,2 persen. Indeks Kospi Korea Selatan melemah 0,4 persen, sedangkan Kosdaq menguat 0,4 persen.

Sementara itu, indeks saham unggulan Tiongkok naik 0,6 persen, Hang Seng Hong Kong menguat 0,4 persen dan S&P/ASX 200 Australia turun 0,11 persen. Variasi ini menunjukkan bahwa setiap pasar merespons tekanan global dengan cara yang berbeda.

Dengan kombinasi sentimen global negatif, aksi jual investor asing, serta tekanan pada saham-saham unggulan, IHSG masih berada dalam fase rentan. Investor disarankan untuk tetap waspada dan mencermati perkembangan pasar secara cermat dalam beberapa waktu ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index