JAKARTA - Perkembangan pasar kendaraan listrik di Indonesia tidak hanya terlihat dari bertambahnya merek dan model yang beredar.
Di balik pertumbuhan tersebut, karakter konsumennya pun disebut mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya pembelian electric vehicle sering dikaitkan dengan fenomena fear of missing out atau fomo, kini gambaran itu dinilai tidak lagi sepenuhnya relevan.
Di tengah persaingan yang semakin kompetitif, konsumen justru disebut semakin selektif dan penuh pertimbangan. Keputusan membeli mobil listrik tidak lagi semata karena tren atau dorongan ingin tampil berbeda, melainkan hasil evaluasi matang berdasarkan kebutuhan dan pengalaman.
Menurut Darwin Kesuma, Chief Operating Officer di Sun Motor Group yang menjadi diler Chery dan JAECOO, pembeli mobil listrik umumnya bukan konsumen impulsif. Ia menyampaikan pandangannya saat peresmian diler baru Jaecoo di Jakarta Barat pada Rabu 25 Februari 2026.
“Pembeli mobil listrik ini tipikal konsumen yang sangat rasional. Mereka bukan orang yang baru pertama kali membeli mobil, melainkan sudah memiliki kendaraan sebelumnya, bahkan menjadikannya sebagai mobil kedua atau ketiga,” kata Darwin saat peresmian diler baru Jaecoo di Jakarta Barat, Rabu.
Keputusan Bukan Sekadar Ikut Tren
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keputusan membeli kendaraan listrik lebih banyak didasarkan pada pertimbangan matang. Konsumen umumnya telah memiliki pengalaman menggunakan mobil konvensional sebelum akhirnya membandingkan dan mengevaluasi opsi kendaraan listrik.
Artinya, proses perpindahan dari kendaraan bermesin pembakaran internal atau ICE ke EV tidak berlangsung secara spontan. Ada tahapan pengenalan, perbandingan biaya, hingga pengalaman langsung sebelum konsumen memutuskan untuk bertahan di teknologi baru tersebut.
Berdasarkan survei internal perusahaan, mayoritas konsumen yang telah menggunakan EV tidak kembali ke kendaraan bermesin pembakaran internal. Keputusan tersebut diambil setelah merasakan langsung penggunaan dalam jangka waktu tertentu dan mengevaluasi manfaatnya secara nyata.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar kendaraan listrik mulai bergerak menuju fase yang lebih dewasa. Konsumen tidak lagi hanya tertarik pada citra modern atau aspek kebaruan, tetapi benar benar menguji nilai guna kendaraan dalam aktivitas harian.
Efisiensi Jadi Pertimbangan Utama
Darwin menyebut ada tiga pertimbangan utama yang membuat konsumen bertahan di kendaraan listrik. Pertama adalah efisiensi biaya operasional yang lebih terukur, baik dari sisi energi maupun perawatan, khususnya untuk penggunaan harian di perkotaan.
Pengeluaran untuk pengisian daya dinilai lebih terkendali dibandingkan bahan bakar minyak. Selain itu, struktur mesin listrik yang lebih sederhana membuat kebutuhan perawatan rutin relatif lebih rendah dibandingkan kendaraan konvensional.
Kedua adalah pengalaman berkendara yang berbeda, mulai dari akselerasi instan, kabin yang lebih senyap, hingga respons kendaraan yang halus. Karakter ini memberi sensasi berkendara yang dianggap lebih modern dan nyaman, terutama di lalu lintas perkotaan.
Ketiga ialah aspek kepraktisan, karena minimnya komponen bergerak membuat perawatan relatif lebih sederhana dan pengisian daya di rumah dinilai lebih praktis. Kombinasi ketiga faktor tersebut memperkuat alasan konsumen untuk tetap menggunakan kendaraan listrik.
Tingkat Kepuasan Konsumen Tinggi
Setelah merasakan langsung manfaat tersebut, banyak pengguna EV disebut enggan kembali ke mobil konvensional. Pengalaman nyata menjadi faktor penentu dalam membangun loyalitas terhadap teknologi kendaraan listrik.
“Karena sudah merasakan efisiensi, pengalaman berkendara, dan kepraktisannya, hampir semuanya tidak kembali ke mobil konvensional. Kami melihat tingkat kepuasan konsumen terhadap EV ini sangat tinggi,” ujar Darwin.
Tingkat kepuasan yang tinggi ini memperlihatkan bahwa konsumen tidak sekadar mengikuti arus tren. Mereka melakukan kalkulasi rasional sebelum membeli dan kemudian memvalidasi keputusan tersebut melalui pengalaman penggunaan sehari hari.
Kondisi ini sekaligus menepis anggapan bahwa pasar EV didominasi pembeli yang hanya terdorong oleh fomo. Justru sebaliknya, profil konsumen cenderung berasal dari kalangan yang telah memahami kebutuhan mobilitasnya secara detail.
Pasar Menuju Fase Lebih Matang
Dengan karakter pembeli yang lebih rasional dan berbasis pengalaman, pasar kendaraan listrik di Indonesia dinilai mulai bergerak menuju fase yang lebih matang. Pertumbuhan tidak lagi sekadar didorong promosi atau sensasi teknologi baru, melainkan kebutuhan riil pengguna.
Kompetisi antar merek pun mendorong peningkatan kualitas layanan, jaringan diler, serta purna jual. Konsumen yang semakin kritis menuntut produk yang tidak hanya inovatif, tetapi juga efisien dan praktis dalam jangka panjang.
Perubahan pola pikir ini menjadi sinyal positif bagi industri otomotif nasional. Artinya, adopsi kendaraan listrik berjalan seiring peningkatan literasi konsumen terhadap teknologi dan biaya kepemilikan.
Pada akhirnya, keputusan membeli mobil listrik kini lebih mencerminkan rasionalitas daripada sekadar keinginan mengikuti tren. Dengan pengalaman sebagai dasar pertimbangan, konsumen Indonesia menunjukkan bahwa transformasi menuju elektrifikasi berlangsung secara bertahap namun semakin solid.