Rupiah

Rupiah Ditutup Melemah Dolar AS Tembus Rp16875 Terendah Tiga Pekan

Rupiah Ditutup Melemah Dolar AS Tembus Rp16875 Terendah Tiga Pekan
Rupiah Ditutup Melemah Dolar AS Tembus Rp16875 Terendah Tiga Pekan

JAKARTA - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali menguat pada perdagangan Rabu, 18 Februari 2026. 

Setelah sempat menunjukkan tanda pemulihan di awal sesi, mata uang Garuda justru berbalik arah dan ditutup melemah cukup dalam. Pergerakan ini terjadi di tengah kombinasi sentimen domestik dan global.

Penguatan dolar Amerika Serikat menjadi salah satu faktor utama yang membebani rupiah. Pelaku pasar cenderung berhati hati menunggu sejumlah agenda penting, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Akibatnya, volatilitas meningkat hingga akhir sesi perdagangan.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di posisi Rp16.875 per dolar AS atau terdepresiasi 0,30%. Level tersebut sekaligus menjadi yang terlemah sejak 22 Januari 2026, atau lebih dari tiga pekan terakhir. Tekanan ini memperlihatkan posisi rupiah yang kembali rapuh.

Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak dalam rentang Rp16.820 hingga Rp16.892 per dolar AS. Fluktuasi yang cukup lebar menunjukkan tingginya dinamika pasar. Arah pergerakan berubah signifikan dibandingkan pembukaan sesi.

Pergerakan Intraday Dan Penguatan Dolar

Pada awal perdagangan, rupiah sejatinya dibuka menguat tipis 0,03% di level Rp16.820 per dolar AS. Namun seiring berjalannya waktu, tekanan jual meningkat. Hingga akhirnya, rupiah berbalik melemah tajam sampai penutupan.

Perubahan arah ini mencerminkan respons pasar terhadap perkembangan sentimen terkini. Pelaku pasar tampak memilih mengamankan posisi. Tekanan eksternal pun semakin terasa menjelang akhir sesi.

Sementara itu, indeks dolar AS atau DXY pada pukul 15.00 WIB terpantau berada di zona hijau. Indeks tersebut menguat 0,14% ke level 97,295. Kenaikan ini menandakan permintaan dolar AS tetap solid.

Penguatan dolar secara global otomatis memberi tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang. Rupiah pun tidak luput dari dampaknya. Kondisi ini memperlihatkan korelasi kuat antara pergerakan dolar dan rupiah.

Fokus Pasar Pada Rapat Dewan Gubernur BI

Dari sisi domestik, perhatian pelaku pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung selama dua hari mulai Rabu. Agenda tersebut menjadi penentu arah kebijakan moneter berikutnya. Investor menunggu sinyal yang akan diberikan bank sentral.

Setelah memangkas suku bunga acuan lima kali sepanjang 2025, Bank Indonesia pada Januari 2026 memilih menahan suku bunga di level 4,75%. Sikap tersebut dinilai sebagai upaya menjaga stabilitas di tengah tekanan eksternal. Pasar memperkirakan keputusan serupa berpeluang berlanjut.

Selain keputusan suku bunga, arah kebijakan stabilisasi nilai tukar juga menjadi sorotan. Pelaku pasar mencermati intensitas intervensi Bank Indonesia. Langkah tersebut dinilai penting di tengah risiko arus keluar asing.

Gejolak yang terjadi di akhir Januari masih membekas pada sentimen investor. Risiko volatilitas dinilai belum sepenuhnya mereda. Oleh sebab itu, respons kebijakan menjadi faktor penting bagi pergerakan rupiah.

Transmisi Suku Bunga Ke Sektor Riil

Di sisi lain, perhatian juga tertuju pada efektivitas pelonggaran suku bunga terhadap sektor riil. Penurunan suku bunga acuan belum sepenuhnya diikuti penurunan suku bunga kredit. Kondisi ini membuat dorongan ekspansi pembiayaan dinilai masih terbatas.

Transmisi kebijakan moneter yang belum optimal menjadi tantangan tersendiri. Dunia usaha belum merasakan dampak maksimal dari pelonggaran. Hal ini berpengaruh terhadap prospek pertumbuhan domestik.

Pasar menilai stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas jangka pendek. Bank sentral diharapkan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas. Keputusan yang diambil akan sangat menentukan sentimen berikutnya.

Jika kebijakan dinilai akomodatif namun tetap berhati hati, rupiah berpotensi lebih stabil. Namun apabila tekanan eksternal meningkat, volatilitas bisa berlanjut. Dinamika ini menjadi perhatian utama investor.

Sentimen Global Dan Ketidakpastian Geopolitik

Dari eksternal, sentimen global masih dibayangi meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Perkembangan pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran memicu sikap hati hati pelaku pasar. Isu tersebut memperbesar kekhawatiran global.

Dalam situasi seperti ini, dolar AS cenderung diuntungkan karena investor mencari aset aman. Permintaan terhadap dolar dan surat utang AS meningkat. Arus dana global pun bergerak menuju instrumen yang dianggap lebih stabil.

Kondisi tersebut menambah tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Aliran modal asing berpotensi keluar dari pasar domestik. Dampaknya terlihat pada pelemahan nilai tukar.

Dengan kombinasi faktor domestik dan global, rupiah menghadapi tantangan berat. Pergerakan dolar AS yang masih menguat serta ketidakpastian geopolitik membuat pasar berhati hati. Hingga ada kepastian lebih lanjut, volatilitas rupiah diperkirakan masih akan mewarnai perdagangan selanjutnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index