Rupiah

Rupiah Melemah Tipis Terhadap Dolar AS Dipicu Tekanan Fiskal Domestik

Rupiah Melemah Tipis Terhadap Dolar AS Dipicu Tekanan Fiskal Domestik
Rupiah Melemah Tipis Terhadap Dolar AS Dipicu Tekanan Fiskal Domestik

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Jumat, 13 Februari 2026, dibuka fluktuatif dan cenderung melemah. 

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.38 WIB, rupiah berada di level Rp16.834 per USD, turun tipis enam poin atau 0,04 persen dari penutupan Kamis di Rp16.828 per USD. Data Yahoo Finance juga menunjukkan posisi Rp16.821 per USD, melemah 11 poin atau 0,07 persen dari Rp16.810 per USD.

Pergerakan rupiah pagi ini masih dipengaruhi sentimen eksternal dan domestik. Gejolak geopolitik AS-Iran dan laporan pasar tenaga kerja Amerika Serikat (NFP) menjadi perhatian utama investor. Sementara tekanan fiskal Indonesia juga turut menekan rupiah, sehingga mata uang Garuda diprediksi bergerak di kisaran Rp16.820 hingga Rp16.850 per USD sepanjang hari ini.

Sentimen Geopolitik AS-Iran Dorong Fluktuasi Rupiah

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik AS-Iran menjadi salah satu faktor utama pelemahan rupiah. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belum membuahkan kesepakatan pasti mengenai Iran. Meski demikian, negosiasi dengan Teheran akan tetap dilanjutkan.

Trump bahkan mempertimbangkan untuk mengirim kapal induk kedua ke Timur Tengah jika kesepakatan tidak tercapai. Pembicaraan tidak langsung antara diplomat AS dan Iran telah berlangsung pekan lalu di Oman, namun tanggal dan lokasi putaran berikutnya belum diumumkan. Ketidakpastian ini membuat investor cenderung menghindari risiko, sehingga rupiah tertekan terhadap dolar AS.

Laporan Tenaga Kerja AS Meningkatkan Dolar AS

Laporan pasar tenaga kerja AS untuk Januari yang tertunda menunjukkan data lebih kuat dari ekspektasi. Nonfarm Payroll (NFP) naik 130 ribu, mengalahkan perkiraan pasar 70 ribu dan melebihi revisi Desember sebesar 48 ribu. Tingkat pengangguran menurun menjadi 4,3 persen dari 4,4 persen sebelumnya.

Rata-rata pendapatan per jam juga meningkat 0,4 persen (mom), lebih tinggi dari 0,1 persen sebelumnya dan melebihi perkiraan pasar 0,3 persen. Laju tahunan tetap stabil di 3,7 persen, sedikit melampaui ekspektasi 3,6 persen. Data ini mengurangi kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat dan memberikan dukungan jangka pendek bagi dolar AS.

Tekanan Fiskal Dalam Negeri Menambah Beban Rupiah

Selain faktor eksternal, tekanan fiskal Indonesia semakin terasa. Belanja negara membengkak sementara penerimaan belum sepenuhnya pasti. Dalam APBN 2026, belanja negara ditetapkan sebesar Rp3.842,7 triliun, naik Rp391,3 triliun dibanding realisasi 2025 sebesar Rp3.451,4 triliun.

Belanja pemerintah pusat mencapai Rp3.149,7 triliun dan transfer ke daerah Rp693 triliun. Dari total belanja pemerintah pusat, porsi terbesar digunakan untuk pembayaran bunga utang sekitar 19 persen, belum termasuk cicilan pokok. Alokasi besar lainnya meliputi program Makan Bergizi Gratis (8,51 persen), Kementerian Pertahanan-TNI (5,94 persen), dan Polri (4,63 persen).

Defisit Anggaran dan Debt Service Ratio Menjadi Sorotan

Pemerintah menargetkan defisit anggaran Rp689,14 triliun atau 2,68 persen dari PDB. Rasio pembayaran pokok dan bunga utang terhadap penerimaan negara (debt service ratio/DSR) diperkirakan menembus 40 persen, jauh di atas ambang batas aman internasional sekitar 30 persen. Kondisi ini menjadi sorotan investor dan memberi tekanan tambahan pada rupiah di tengah ketidakpastian fiskal.

Kombinasi belanja besar, defisit tinggi, dan ketidakpastian penerimaan membuat rupiah cenderung melemah, terutama di tengah penguatan dolar AS akibat data tenaga kerja positif dan sentimen geopolitik global. Investor disarankan berhati-hati dan memantau perkembangan secara berkala.

Proyeksi Rupiah dan Strategi Investor

Dengan kondisi saat ini, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dalam kisaran Rp16.820–Rp16.850 per USD sepanjang hari ini. Strategi investor dapat mencakup pemantauan level support-resistance, manajemen risiko, dan pertimbangan hedging bagi pelaku pasar yang memiliki eksposur besar terhadap dolar AS.

Pergerakan rupiah juga berdampak pada harga impor, inflasi, dan biaya perusahaan dengan kewajiban utang dalam dolar. Sementara eksportir bisa mendapat keuntungan dari rupiah yang lebih lemah. Secara keseluruhan, fluktuasi rupiah hari ini mencerminkan kombinasi tekanan fiskal domestik dan sentimen global yang memengaruhi pasar mata uang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index