Minyak Indonesia Desember 2025 Turun ke 61,10 Dolar AS akibat tekanan global

Minggu, 18 Januari 2026 | 11:11:52 WIB
Minyak Indonesia Desember 2025 Turun ke 61,10 Dolar AS akibat tekanan global

JAKARTA - Pergerakan harga minyak mentah Indonesia kembali menjadi sorotan pada penghujung 2025. 

Koreksi yang terjadi pada Desember mencerminkan dinamika pasar energi global yang sedang berada dalam fase penuh tekanan. Kombinasi antara lonjakan pasokan, kehati-hatian permintaan, serta perubahan geopolitik membuat harga minyak bergerak melemah, termasuk Indonesian Crude Price atau ICP yang menjadi acuan nasional.

Dalam konteks ini, penurunan ICP bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan dari kondisi pasar minyak dunia yang tengah mengalami ketidakseimbangan. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memastikan penetapan harga dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai indikator global agar tetap mencerminkan kondisi riil pasar internasional.

Penetapan resmi harga ICP Desember 2025

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan rata-rata harga minyak mentah Indonesia bulan Desember 2025 sebesar 61,10 Dolar AS per barel. Angka ini tercantum dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 10.K/MG.03/MEM.M/2026 yang diterbitkan pada 9 Januari 2026. Penetapan tersebut sekaligus mengonfirmasi adanya koreksi harga dibandingkan bulan sebelumnya.

Jika dibandingkan dengan November 2025, harga ICP mengalami penurunan sebesar 1,73 Dolar AS per barel dari posisi 62,83 Dolar AS. Koreksi ini terjadi seiring menguatnya tekanan pasokan minyak global, terutama akibat produksi yang masih tinggi dari sejumlah negara produsen utama. Kondisi tersebut membuat pasar berada dalam situasi kelebihan suplai.

Tekanan oversupply dari produsen utama dunia

Salah satu faktor utama yang menekan harga adalah tingginya produksi minyak Amerika Serikat yang masih berlangsung agresif. Selain itu, peningkatan suplai dari negara-negara produsen utama lainnya turut memperparah kondisi oversupply di pasar global. Situasi ini membuat harga minyak sulit bergerak naik meskipun terdapat berbagai sentimen geopolitik.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaiman, menilai koreksi harga tidak terlepas dari kekhawatiran pasar terhadap narasi super glut atau banjir pasokan minyak dunia. Produksi dari anggota OPEC+ yang meningkat pada November 2025 juga menjadi faktor signifikan yang menekan harga minyak di akhir tahun.

Proyeksi surplus minyak global tahun mendatang

Tekanan pasokan global semakin kuat seiring proyeksi International Energy Agency yang memperkirakan pasar minyak dunia akan mengalami surplus cukup besar pada 2026. Surplus tersebut diperkirakan berada di kisaran 3,7 hingga 4 juta barel per hari, sebuah angka yang dinilai sangat signifikan bagi keseimbangan pasar.

“Tekanan pasokan global semakin kuat seiring proyeksi International Energy Agency (IEA) yang memperkirakan pasar minyak dunia akan mengalami surplus sebesar 3,7 hingga 4 juta barel per hari pada 2026. Besaran surplus ini diperkirakan melampaui level stok minyak pada masa pandemi Covid-19 lalu,” ujar Laode di Jakarta, Sabtu (17/1/2026). Pernyataan ini mempertegas bahwa pasar masih akan dibayangi risiko kelebihan pasokan.

Dinamika geopolitik dan arah produksi Rusia

Selain faktor pasokan dan proyeksi lembaga internasional, dinamika geopolitik juga memberikan pengaruh signifikan terhadap pergerakan harga minyak. Risiko konflik Rusia–Ukraina yang mulai mereda setelah munculnya wacana pembatalan aspirasi Ukraina bergabung dengan NATO memunculkan ekspektasi pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.

Di sisi lain, Rusia justru memproyeksikan kenaikan produksi minyak mereka. Produksi Rusia diperkirakan mencapai 10,36 juta barel per hari pada 2025 dan meningkat kembali hingga 10,54 juta barel per hari pada 2026. Proyeksi ini semakin memperkuat persepsi pasar bahwa pasokan minyak global akan tetap melimpah dalam beberapa waktu ke depan.

Permintaan global yang tumbuh lebih lambat

Dari sisi permintaan, sejumlah lembaga internasional menunjukkan sikap yang lebih berhati-hati. S&P Global menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global tahun 2025 menjadi 730 ribu barel per hari. Penyesuaian ini mencerminkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global serta efisiensi energi yang semakin meningkat.

Di kawasan Asia Pasifik, pelemahan harga minyak juga dipengaruhi oleh kondisi di China. Aktivitas pengolahan minyak di negara tersebut tercatat melemah, dengan crude throughput pada November 2025 turun ke level terendah dalam enam bulan terakhir, yakni 14,86 juta barel per hari. Penurunan ini ikut menekan sentimen permintaan regional.

Perbandingan harga minyak mentah internasional

Koreksi harga tidak hanya terjadi pada ICP, tetapi juga pada sejumlah harga minyak mentah utama dunia. Perbandingan rata-rata harga Desember 2025 terhadap November 2025 menunjukkan tren penurunan yang relatif seragam di berbagai acuan global.

Harga ICP Indonesia turun 1,73 Dolar AS menjadi 61,10 Dolar AS per barel. Dated Brent melemah 0,95 Dolar AS menjadi 62,70 Dolar AS per barel. WTI Nymex terkoreksi 1,61 Dolar AS ke level 57,87 Dolar AS per barel, sementara Brent ICE turun 2,02 Dolar AS menjadi 61,64 Dolar AS per barel. Basket OPEC juga mengalami penurunan paling dalam, yakni 2,61 Dolar AS menjadi 61,85 Dolar AS per barel.

Secara keseluruhan, penurunan harga ICP Desember 2025 mencerminkan tekanan global yang masih kuat dari sisi pasokan dan permintaan. Dengan proyeksi surplus yang berlanjut serta dinamika geopolitik yang relatif mereda, pasar minyak diperkirakan masih bergerak hati-hati dalam memasuki tahun 2026.

Terkini