JAKARTA - Memasuki awal pekan perdagangan Senin, 19 Januari 2026, sektor perbankan kembali menjadi perhatian pelaku pasar.
Setelah melalui tahun 2025 yang penuh tantangan akibat tekanan likuiditas, perlambatan pertumbuhan kredit, serta dinamika kebijakan global, saham-saham bank kini dinilai mulai memasuki fase penyesuaian menuju kondisi yang lebih stabil. Sejumlah analis melihat tahun 2026 sebagai periode penting, di mana kebijakan makroekonomi dan strategi internal bank menjadi katalis utama yang membentuk prospek kinerja sektor ini.
Di tengah kondisi tersebut, rekomendasi saham perbankan tetap dibutuhkan sebagai panduan investor dalam menyusun strategi investasi jangka pendek maupun menengah. Beberapa emiten bank besar dinilai masih memiliki fundamental yang solid, meskipun menghadapi tantangan eksternal yang belum sepenuhnya mereda. Berikut rangkuman rekomendasi saham sektor perbankan untuk perdagangan Senin, 19 Januari 2026, berdasarkan pandangan para analis pasar modal.
Kondisi sektor perbankan memasuki 2026
Sepanjang 2025, sektor perbankan menghadapi tekanan dari berbagai sisi, mulai dari ketatnya likuiditas hingga pertumbuhan kredit yang melambat. Situasi ini tidak terlepas dari kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih, serta kehati-hatian perbankan dalam menyalurkan pembiayaan. Memasuki 2026, arah kebijakan makroekonomi dipandang menjadi faktor kunci yang akan menentukan laju pemulihan sektor perbankan nasional.
Analis menilai bank-bank besar dengan struktur pendanaan yang kuat dan manajemen risiko yang baik memiliki peluang lebih besar untuk menjaga kinerja. Inovasi digital, efisiensi operasional, serta diversifikasi sumber pendapatan juga menjadi faktor pembeda di tengah persaingan industri yang semakin ketat.
Prospek saham Bank Central Asia
PT Bank Central Asia Tbk mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 7,6 persen secara tahunan atau year on year menjadi Rp944 triliun per September 2025. Kinerja ini ditopang oleh ekspansi kredit yang dinilai berkualitas, sekaligus kondisi likuiditas yang tetap terjaga dengan baik. Total dana pihak ketiga meningkat 7,0 persen yoy, dengan kontribusi CASA sebagai sumber pendanaan inti yang dominan.
Laba bersih BCA dan entitas anak tumbuh 5,7 persen yoy menjadi Rp43,4 triliun pada sembilan bulan pertama 2025. Selain kinerja keuangan, BCA juga menunjukkan komitmen kuat dalam pengembangan teknologi layanan, salah satunya melalui dukungan terhadap penerapan QRIS Cross Border di berbagai negara, termasuk Jepang melalui aplikasi myBCA. Analis merekomendasikan saham ini dengan status beli dan target harga Rp10.000.
Arah pengembangan Bank Rakyat Indonesia
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk membukukan laba bersih Rp41,2 triliun hingga kuartal III 2025. Sebagai bank yang berfokus pada ekonomi kerakyatan, BRI terus memperkuat perannya dalam mendukung program strategis pemerintah, khususnya melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat. Hingga September 2025, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp130,2 triliun kepada 2,8 juta debitur, atau sekitar 74,4 persen dari total alokasi Rp175 triliun.
BRI menitikberatkan strategi pada dua pilar utama, yakni transformasi bisnis funding dan penguatan core business yang berkelanjutan. Selain itu, perseroan juga mengembangkan sumber pertumbuhan baru melalui penguatan segmen konsumer dan layanan bullion atau bank emas. Dengan strategi tersebut, analis memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp5.000.
Kinerja dan strategi Bank Mandiri
PT Bank Mandiri Tbk mencatatkan laba bank only sebesar Rp44,15 triliun per November 2025. Secara bulanan atau month on month, laba bersih tumbuh 28,7 persen, meskipun secara tahunan masih turun 6,41 persen. Kondisi ini mencerminkan adanya perbaikan kinerja jangka pendek, namun masih terdapat tekanan jika dibandingkan tahun sebelumnya.
Fokus utama Bank Mandiri tetap pada pengelolaan likuiditas yang prudent serta kualitas pendanaan yang terjaga. Digitalisasi dan penguatan strategi bisnis menjadi fondasi untuk pertumbuhan jangka panjang. Hingga November 2025, kredit Bank Mandiri tumbuh 13,1 persen yoy menjadi Rp1.452 triliun. Analis merekomendasikan saham ini dengan status hold dan target harga Rp5.300.
Fundamental dan transformasi Bank Negara Indonesia
PT Bank Negara Indonesia Tbk mencatatkan laba bersih Rp15,12 triliun hingga akhir September 2025. Penyaluran kredit BNI tumbuh 10,5 persen yoy menjadi Rp812,2 triliun, dengan pertumbuhan yang relatif merata di seluruh segmen bisnis. Kondisi ini mencerminkan portofolio kredit yang semakin sehat dan berimbang.
Strategi BNI difokuskan pada penguatan kualitas portofolio, efisiensi pendanaan, serta transformasi digital yang berkelanjutan. Langkah-langkah tersebut dilakukan untuk tetap adaptif menghadapi volatilitas ekonomi, sambil mendorong pertumbuhan yang inklusif. Berdasarkan fundamental tersebut, analis merekomendasikan saham BBNI dengan status beli dan target harga Rp4.700.
Catatan bagi investor perbankan
Rekomendasi saham perbankan untuk awal pekan ini menunjukkan bahwa meskipun tantangan masih ada, sektor perbankan nasional tetap memiliki prospek yang menarik. Bank-bank besar dengan fundamental kuat, strategi digital yang matang, serta kemampuan menjaga likuiditas dinilai lebih siap menghadapi dinamika pasar 2026.
Investor disarankan untuk tetap mencermati perkembangan kebijakan makroekonomi dan kinerja kuartalan emiten perbankan sebelum mengambil keputusan investasi. Dengan pendekatan selektif dan pemahaman risiko yang baik, saham perbankan masih berpotensi menjadi pilihan menarik dalam portofolio investasi jangka menengah hingga panjang.