JAKARTA - Pasar saham Indonesia kembali mencuri perhatian pelaku pasar global ketika Indeks Harga Saham Gabungan mencetak rekor tertinggi dalam sepekan terakhir.
Di balik penguatan tersebut, arus dana asing terlihat semakin deras masuk ke bursa domestik, menandakan kepercayaan investor global terhadap prospek pasar modal nasional masih terjaga.
Sepanjang periode perdagangan 12 hingga 15 Januari 2026, IHSG bergerak konsisten di zona hijau. Momentum penguatan ini tidak hanya dipicu sentimen teknikal, tetapi juga didukung aktivitas beli berskala besar yang dilakukan investor asing, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia melalui RTI, IHSG ditutup menguat 0,47 persen atau bertambah 42,83 poin ke level 9.075,41 pada perdagangan Kamis. Dalam sepekan terakhir, indeks tercatat naik 1,68 persen, mencerminkan optimisme pasar yang masih solid.
Pada perdagangan Kamis tersebut, investor asing membukukan beli bersih atau net buy sebesar Rp 958,22 miliar di seluruh pasar. Secara akumulatif, net buy asing selama sepekan terakhir mencapai Rp 4,46 triliun, menjadi salah satu pendorong utama penguatan indeks.
Aliran Dana Asing Dorong Kepercayaan Pasar
Masuknya dana asing dalam jumlah besar memberi sinyal kuat bahwa pasar saham Indonesia masih dianggap menarik di tengah dinamika global. Aksi beli ini terjadi seiring IHSG yang mampu menembus level psikologis baru dan mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Investor asing cenderung memilih saham-saham dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi. Saham berkapitalisasi besar menjadi tujuan utama karena dinilai mampu memberikan stabilitas sekaligus potensi pertumbuhan jangka menengah.
Data menunjukkan bahwa aktivitas beli asing tidak bersifat sporadis. Arus dana yang masuk terjadi secara konsisten sepanjang sepekan, sehingga menopang pergerakan indeks tetap berada dalam tren positif.
Kondisi ini juga mencerminkan persepsi risiko yang relatif terjaga, meskipun nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan di tengah penguatan pasar saham.
Saham Favorit Asing di Tengah Rekor Indeks
Aksi beli investor asing terkonsentrasi pada sejumlah saham unggulan. Berdasarkan data BEI, terdapat sepuluh saham dengan nilai net buy asing terbesar dalam sepekan terakhir yang menjadi perhatian pelaku pasar.
PT MNC Digital Entertainment Tbk mencatat net buy asing sebesar Rp 686,54 miliar. Posisi berikutnya ditempati PT Astra International Tbk dengan nilai Rp 673,47 miliar, mencerminkan minat asing terhadap sektor otomotif dan diversifikasi bisnis.
PT Vale Indonesia Tbk juga masuk dalam daftar dengan net buy Rp 627,55 miliar, disusul PT Archi Indonesia Tbk sebesar Rp 477,10 miliar. Saham PT Telkom Indonesia Tbk mencatat net buy Rp 428,97 miliar, menegaskan daya tarik sektor telekomunikasi.
Selain itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk diborong asing senilai Rp 341,29 miliar. PT Merdeka Battery Materials Tbk mencatat Rp 333,46 miliar, sementara PT Alamtri Resources Indonesia Tbk sebesar Rp 289,33 miliar.
Daftar tersebut dilengkapi PT Petrosea Tbk dengan net buy Rp 288,70 miliar serta PT Aneka Tambang Tbk sebesar Rp 246,69 miliar. Saham-saham ini menjadi penopang utama penguatan indeks selama sepekan.
Transaksi Besar Jadi Penopang Rekor Baru
IHSG juga mencatat rekor all time high pada sesi pertama perdagangan Kamis (16/1/2026). Rekor tersebut tercapai seiring tingginya nilai transaksi di pasar reguler yang didominasi saham-saham big cap.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia, Ahmad Faris Mu’trashim, menyebut nilai transaksi tertinggi banyak berasal dari emiten berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan dan pertambangan.
“Saham yang paling banyak ditransaksikan investor per 15 Januari 2026 pukul 15.20 antara lain BUMI dengan nominal Rp 1,55 triliun, disusul BBRI sebesar Rp 1,28 triliun, serta BMRI senilai Rp 1,1 triliun,” ujar Ahmad Faris kepada Kompas.com.
Pada penutupan perdagangan Kamis, saham PT Bumi Resources Tbk berada di level 410, turun 12 poin atau 2,84 persen. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk ditutup di level 3.820, naik 100 poin atau 2,69 persen.
Sementara itu, saham PT Bank Mandiri Tbk berakhir di level 4.990, naik 150 poin atau 3,10 persen. Pergerakan beragam ini menunjukkan adanya rotasi dan seleksi saham di tengah euforia pasar.
Arah Pergerakan Indeks ke Depan
Untuk periode perdagangan berikutnya, IHSG diperkirakan bergerak dalam fase konsolidasi. Meski demikian, tren jangka menengah masih dinilai cenderung menguat selama indeks mampu bertahan di level tertentu.
“Rentang pergerakan IHSG pekan depan diperkirakan bergerak konsolidasi dengan tren jangka menengah cenderung menguat, dengan support di 8.920 dan resistance di 9.200, apabila mampu bertahan di atas level 9.068,” kata Ahmad Faris.
Dalam kondisi tersebut, perhatian investor dapat diarahkan pada saham perbankan berkapitalisasi besar. Saham-saham ini mulai menunjukkan apresiasi harga seiring proyeksi perbaikan kinerja dari sisi rasio kredit bermasalah atau non-performing loan serta potensi pelebaran spread.
Meski IHSG mencetak rekor baru, pelaku pasar tetap diingatkan untuk mencermati risiko dan melakukan analisis menyeluruh sebelum mengambil keputusan. Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham, karena seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas dan keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor