Perak

Harga Perak Dunia Turun ke US$ 89,79 Dipicu Ekspektasi Suku Bunga

Harga Perak Dunia Turun ke US$ 89,79 Dipicu Ekspektasi Suku Bunga
Harga Perak Dunia Turun ke US$ 89,79 Dipicu Ekspektasi Suku Bunga

JAKARTA - Pergerakan harga perak dunia kembali menjadi sorotan pelaku pasar global pada awal pekan ini. 

Setelah sempat menyentuh level psikologis US$ 90 per troy ons, logam mulia tersebut justru terkoreksi dan bergerak turun. Kondisi ini memicu perhatian investor yang sebelumnya melihat peluang penguatan lebih lanjut di tengah dinamika geopolitik dan kebijakan moneter global.

Tekanan terhadap harga perak terjadi seiring perubahan ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga sejumlah bank sentral utama. Faktor tersebut membuat sentimen terhadap aset lindung nilai seperti perak mengalami penyesuaian. Koreksi harga ini pun memperlihatkan bagaimana kebijakan moneter tetap menjadi variabel dominan dalam menentukan arah komoditas global.

Berdasarkan pantauan pasar terbaru, harga perak kembali bergerak melemah setelah sempat menunjukkan penguatan pada sesi awal perdagangan. Investor kini mencermati berbagai indikator ekonomi yang berpotensi memengaruhi kebijakan bank sentral, terutama di Amerika Serikat, Inggris, dan kawasan Eropa.

Penurunan ini menjadi bagian dari dinamika wajar pasar komoditas yang sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global. Meski sempat berada di zona penguatan, tekanan jual akhirnya membawa harga kembali turun di bawah level US$ 90 per troy ons.

Harga Perak Kembali Melemah di Awal Pekan

Harga perak dunia kembali merosot pada Senin, 2 Maret 2026.

Dipantau dari laman Kitco, Selasa (3/3/2026) harga perak terpantau melemah 0,66% di kisaran US$ 89,79 per troy ons pada Senin malam (2/3) waktu AS. Sebelum merosot ke US$ 89, harga perak berdiri di level US$ 90 per troy ons.

Adapun pada perdagangan awal di hari Senin, harga perak sempat menguat 1,15% ke kisaran US$ 95 per troy ons.

Pergerakan ini menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi dalam satu hari perdagangan. Setelah mencatatkan penguatan signifikan di awal sesi, tekanan jual akhirnya mendominasi hingga mendorong harga turun kembali.

Ekspektasi Suku Bunga Tekan Sentimen Pasar

Analis komoditas di Kitco Metals, Jim Wyckoff mengungkapkan bahwa harga perak melemah setelah pasar memperkecil ekspektasi penurunan suku bunga di Amerika Serikat, Inggris, dan zona Euro.

"Karena perang di Timur Tengah menyebabkan harga minyak melonjak dan memicu kekhawatiran inflasi," ungkap Wyckoff, dikutip dari Kitco News.

Menurut Wyckoff, lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat bank sentral cenderung lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya.

Ketika peluang pemangkasan suku bunga berkurang, daya tarik logam mulia seperti perak cenderung melemah. Investor biasanya memanfaatkan logam mulia sebagai lindung nilai saat suku bunga rendah, sehingga perubahan ekspektasi langsung berdampak pada harga.

Peluang Pemangkasan The Fed Menyusut Tajam

Wyckoff mengutip survei pasar yang menunjukkan bahwa peluang Federal Reserve menurunkan suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun 2026 telah turun menjadi 20% dari hampir 50% minggu lalu.

Penurunan probabilitas tersebut menandakan perubahan tajam dalam persepsi pelaku pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Sebelumnya, pasar optimistis pemangkasan suku bunga akan dilakukan lebih agresif.

Namun dengan meningkatnya tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi, ekspektasi itu kini berbalik. Investor pun menyesuaikan strategi investasinya, termasuk pada komoditas logam mulia.

Kondisi ini menjadi faktor utama yang membebani harga perak hingga kembali turun di bawah level US$ 90 per troy ons.

Bank of England dan ECB Ikut Disorot

"Para pedagang juga tidak lagi mengantisipasi Bank of England untuk melakukan tiga penurunan tahun ini dan telah menurunkan probabilitas penurunan pada bulan Maret menjadi 60% dari lebih dari 80%,” papar Wyckoff, yang mengutip laporan Bloomberg.

Selain itu, pasar juga mengurangi separuh peluang penurunan suku bunga Bank Sentral Eropa di 2026 menjadi hanya lima basis poin.

Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter di Inggris dan zona Euro semakin memperkuat tekanan terhadap harga perak. Ketika bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, minat terhadap aset berbasis komoditas bisa terkoreksi.

Dengan dinamika tersebut, pelaku pasar kini terus memantau perkembangan geopolitik dan data inflasi global. Arah kebijakan suku bunga tetap menjadi faktor krusial yang akan menentukan apakah harga perak mampu kembali bangkit atau justru melanjutkan koreksi dalam waktu dekat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index