Kapal

Larangan Kapal Wisata Komodo Picu Lesunya Ekonomi Warga Seperti Pandemi Kembali Terulang

Larangan Kapal Wisata Komodo Picu Lesunya Ekonomi Warga Seperti Pandemi Kembali Terulang
Larangan Kapal Wisata Komodo Picu Lesunya Ekonomi Warga Seperti Pandemi Kembali Terulang

JAKARTA - Suasana sepi kembali menyelimuti kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo. 

Penutupan sementara pelayaran kapal wisata membuat denyut pariwisata yang selama ini menjadi tumpuan hidup warga mendadak terhenti. Bagi masyarakat Pulau Komodo, kondisi ini memunculkan trauma lama karena situasinya terasa serupa dengan masa pandemi Corona, ketika aktivitas wisata lumpuh total dan penghasilan warga nyaris lenyap.

Banyak warga mengaku tidak memiliki alternatif pekerjaan lain selain sektor pariwisata. Saat kapal wisata berhenti beroperasi, maka otomatis tidak ada wisatawan yang datang. Dampaknya, roda ekonomi di Pulau Komodo ikut terhenti, mulai dari pemandu wisata, pedagang, hingga pelaku usaha kecil yang menggantungkan hidup dari kunjungan turis.

Warga pulau komodo kembali kehilangan penghasilan

Larangan berlayarnya kapal wisata menuju kawasan Taman Nasional Komodo menjadi pukulan berat bagi masyarakat setempat. Abdul Salam, warga Pulau Komodo yang sehari-hari bekerja di sektor pariwisata, mengaku kondisi ini sangat memprihatinkan. Ia menyebut situasi sekarang mengingatkannya pada masa pandemi COVID-19.

“Kayak Corona lagi. Seperti itu dirasakan rasakan oleh warga yang berusaha di pariwisata,” kata Abdul Salam, Minggu (18/1/2026), dikutip dari detikBali. Menurutnya, sebagian besar warga Pulau Komodo menggantungkan hidup sepenuhnya dari aktivitas wisata yang kini terhenti.

Pariwisata jadi tulang punggung ekonomi warga

Warga Pulau Komodo dikenal sangat bergantung pada sektor pariwisata. Beragam profesi muncul seiring ramainya kunjungan wisatawan, mulai dari naturalist guide, pemandu wisata, hingga penyedia jasa kapal. Selain itu, banyak pula warga yang membuka usaha kecil seperti berjualan suvenir, makanan, dan minuman untuk memenuhi kebutuhan wisatawan.

Abdul sendiri merupakan pedagang suvenir serta makanan dan minuman di kawasan Long Pink Beach. Namun sejak penutupan pelayaran kapal wisata diberlakukan, ia mengaku sama sekali tidak memiliki pemasukan. Tidak adanya kunjungan wisatawan membuat dagangannya sepi dan tidak laku terjual.

Stok dagangan menumpuk jelang nataru

Menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026, Abdul sebenarnya sudah bersiap menyambut lonjakan wisatawan. Ia membeli ratusan kelapa muda sebagai stok dagangan, berharap bisa meraup keuntungan dari ramainya pengunjung. Namun harapan itu pupus ketika kapal wisata dilarang berlayar.

Kelapa muda yang sudah dibeli akhirnya tidak bisa dijual karena tidak ada turis yang datang ke Pulau Komodo. Kondisi ini menimbulkan kerugian langsung bagi pedagang kecil seperti Abdul, yang modal usahanya ikut terpendam tanpa kepastian kapan aktivitas wisata kembali normal.

Pemerintah desa akui dampak ekonomi sangat besar

Sekretaris Desa Komodo, Ismail, membenarkan bahwa penutupan pelayaran kapal wisata berdampak signifikan terhadap perekonomian masyarakat. Ia menegaskan bahwa mayoritas warga Desa Komodo bekerja di sektor pariwisata, sehingga setiap kebijakan penutupan langsung memengaruhi penghasilan warga.

“Sangat berdampak pada roda perekonomian masyarakat, khususnya masyarakat Komodo,” ujar Ismail. Menurutnya, situasi ini memaksa warga mencari cara lain agar tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari meskipun pilihannya sangat terbatas.

Warga terpaksa alih profesi jadi nelayan

Akibat tidak adanya pemasukan dari sektor wisata, banyak warga Pulau Komodo akhirnya beralih profesi sementara menjadi nelayan. Mereka memilih melaut untuk mencari ikan atau hasil laut lainnya demi menghidupi keluarga. Salah satu contohnya adalah Saiful, yang sehari-hari berjualan suvenir namun kini turun ke laut memancing gurita.

Saiful bahkan dikenal sebagai orang yang menemukan bangkai kapal pinisi Putri Sakinah yang mengangkut pelatih sepak bola wanita Valencia CF, Martin Carreras Fernando, beserta keluarganya. Ismail menyebut, fenomena alih profesi ini terjadi cukup masif di kalangan warga.

“Banyak masyarakat Komodo yang sudah alih profesi ke nelayan untuk mencari ikan demi menghidupi keluarga. Mereka akan melakukan aktivitas di laut sampai kunjungan wisatawan kembali normal,” kata Ismail.

Harapan cuaca membaik dan kapal kembali berlayar

Warga Pulau Komodo berharap kondisi cuaca segera membaik agar pelayaran kapal wisata kembali dibuka. Aktivitas pariwisata dinilai sebagai satu-satunya sektor yang mampu menggerakkan ekonomi lokal secara cepat dan menyeluruh. Tanpa wisatawan, kehidupan warga terasa stagnan.

Pelarangan pelayaran kapal wisata di Labuan Bajo sendiri diperpanjang hingga 20 Januari 2026 atau sampai kondisi cuaca dinyatakan aman. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), masih terdapat potensi gelombang tinggi di perairan Taman Nasional Komodo dan sekitarnya.

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas III Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto, menegaskan larangan tersebut diberlakukan demi keselamatan. “Ya, larangan kapal wisata berlayar diperpanjang hingga 20 Januari,” ujarnya.

Bagi warga Pulau Komodo, keputusan ini memang berat, namun keselamatan tetap menjadi prioritas. Meski demikian, mereka berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera membuka kembali akses wisata begitu cuaca memungkinkan, agar kehidupan ekonomi masyarakat bisa kembali berdenyut seperti sediakala.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index