Yield SRBI 7,74%, Daya Tarik SBN Kian Tergerus

Yield SRBI 7,74%, Daya Tarik SBN Kian Tergerus
Ilustrasi - Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). (Foto: NET)

JAKARTA – Kondisi inversi kurva imbal hasil (inverted yield curve) yang terjadi antara Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan Surat Berharga Negara (SBN) berisiko menurunkan minat investor terhadap SBN. 

Berdasarkan data Bank Indonesia per 19 Juni 2026, imbal hasil SRBI tenor 12 bulan telah mencapai 7,74%, sementara SBN tenor satu tahun berada di level 7,97%, tenor lima tahun di 7,33%, dan tenor 10 tahun di 7,22%.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai bahwa imbal hasil SRBI 12 bulan yang melampaui imbal hasil SBN 10 tahun mencerminkan distorsi yang patut diwaspadai. 

Meski memiliki karakteristik berbeda—SRBI sebagai instrumen moneter jangka pendek dan SBN sebagai instrumen jangka panjang—investor tetap cenderung membandingkan keduanya karena sama-sama merupakan aset rupiah berisiko rendah.

“Kondisi ini menciptakan bentuk inverted yield curve pada segmen instrumen rupiah dan dapat mengurangi daya tarik SBN, terutama bagi investor yang mengejar return aman dengan risiko durasi rendah. Spread saat ini negatif sekitar 45 basis poin jika membandingkan SBN 10 tahun dengan SRBI 12 bulan,” ujar Syafruddin, Selasa (23/6/2026).

Senada dengan hal tersebut, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa dalam kondisi normal, investor seharusnya menerima premi lebih tinggi untuk obligasi jangka panjang guna mengompensasi risiko durasi. 

Saat instrumen jangka pendek memberikan imbal hasil lebih menarik, motivasi untuk mengoleksi obligasi tenor panjang pun menurun. Yusuf menambahkan, kebijakan BI ini membawa dampak turunan.

“Bank pada akhirnya berpotensi menaikkan bunga simpanan untuk mempertahankan dana pihak ketiga. Dengan kata lain, SRBI membantu menjaga rupiah, tetapi sekaligus meningkatkan biaya dana di dalam sistem keuangan,” kata Yusuf.

Yusuf juga menyoroti pentingnya mencermati spread terhadap US Treasury yang saat ini berada di kisaran 270 basis poin, tergolong tipis dibandingkan standar historis. Syafruddin menyarankan, agar SBN kembali menarik, idealnya terdapat spread positif 75–100 basis poin di atas instrumen jangka pendek.

Menurut Syafruddin, jika yield SBN 10 tahun berada di 7,22%, maka idealnya yield SRBI turun ke kisaran 6,25%–6,50%. Alternatif lainnya adalah menaikkan yield SBN 10 tahun ke level 8,50%, namun hal tersebut akan membebani fiskal. 

“Jadi, solusi terbaik bukan mendorong yield SBN lebih tinggi, melainkan menurunkan tekanan rupiah agar BI dapat menormalkan yield SRBI,” tutup Syafruddin.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index