JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengajak masyarakat Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, untuk memperkuat pengelolaan sampah plastik secara mandiri. Langkah ini bertujuan menjaga kelestarian kawasan konservasi laut serta mendukung keberlangsungan ekonomi warga di wilayah pesisir tersebut.
Lestari menegaskan bahwa Karimunjawa sangat bergantung pada sektor pariwisata, perikanan, perdagangan, dan jasa, sehingga perlindungan lingkungan yang berkelanjutan menjadi sebuah keharusan.
"Karimunjawa hidup dari alamnya. Jika alam rusak, maka yang terdampak bukan hanya lingkungan, tetapi juga ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor perikanan, pariwisata, perdagangan, dan jasa," kata Lestari dalam keterangannya diterima di Jakarta.
Dalam acara Bimbingan Teknis Pengelolaan Sampah Plastik pada Sabtu, Lestari atau yang akrab disapa Rerie menjelaskan bahwa Karimunjawa sebagai kawasan konservasi laut vital di Indonesia saat ini menghadapi tantangan naiknya volume sampah plastik akibat meningkatnya aktivitas ekonomi dan wisata.
Kawasan seluas lebih dari 111.000 hektare itu memiliki kekayaan ekosistem, seperti hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang, yang merupakan sandaran hidup masyarakat setempat.
Rerie menyampaikan bahwa walaupun kenaikan kunjungan wisatawan memberi dampak ekonomi positif bagi daerah, fenomena ini turut menyebabkan lonjakan sampah plastik.
Situasi di Karimunjawa menjadi lebih sulit karena harus menanggulangi sampah dari aktivitas warga dan wisatawan, ditambah kiriman sampah yang terbawa arus laut dari berbagai penjuru Pulau Jawa.
"Pengelolaan sampah sesungguhnya bukan hanya urusan lingkungan. Ini juga urusan ekonomi, kesehatan, dan masa depan masyarakat pesisir. Oleh karena itu, kami membutuhkan perubahan perilaku dan gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat," ujarnya.
Melalui bimbingan teknis tersebut, Rerie memaparkan bahwa sebanyak 100 pemuda pegiat lingkungan di Karimunjawa diberikan pelatihan mengenai cara pengurangan sampah dari sumbernya, pemilahan, pengelolaan sampah rumah tangga, pengembangan bank sampah, hingga cara memanfaatkan sampah agar memiliki nilai ekonomi.
Ia meyakini modal sosial di Karimunjawa sangat kuat untuk menjadi percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
"Tradisi gotong royong yang hidup di tengah masyarakat pulau menjadi kekuatan penting dalam membangun budaya baru yang lebih peduli terhadap lingkungan," ujar Rerie.
Sementara itu, narasumber dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Faizinal Abidin menyatakan bahwa hasil riset harus diimplementasikan secara nyata untuk menyelesaikan masalah lingkungan di masyarakat.
"BRIN memiliki banyak hasil penelitian dan inovasi yang bersifat aplikatif, termasuk di bidang pengelolaan lingkungan, pengelolaan sampah, serta pelestarian kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. Tantangan kami bukan hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi bagaimana pengetahuan tersebut dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," kata dia.
Menurutnya, pengelolaan sampah plastik memerlukan kolaborasi dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, serta masyarakat dengan mengedepankan hasil riset sebagai acuan kebijakan dan praktik di lapangan.