Bank Sampoerna

Komitmen Bank Sampoerna Salurkan Kredit UMKM Meski Risiko Pembiayaan Masih Meningkat

Komitmen Bank Sampoerna Salurkan Kredit UMKM Meski Risiko Pembiayaan Masih Meningkat
Komitmen Bank Sampoerna Salurkan Kredit UMKM Meski Risiko Pembiayaan Masih Meningkat

JAKARTA - Di tengah meningkatnya risiko pembiayaan sektor usaha kecil, komitmen perbankan untuk tetap mendukung pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah menjadi perhatian penting. 

PT Bank Sahabat Sampoerna Tbk menegaskan akan terus memperkuat portofolio kredit pada segmen tersebut. Langkah ini diambil meskipun kondisi industri menunjukkan adanya tekanan pada kualitas kredit. Dukungan terhadap UMKM dinilai penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih merata. 

Fokus pada pembiayaan UMKM juga mencerminkan strategi bank untuk tetap dekat dengan sektor riil. Pelaku usaha kecil dianggap memiliki peran besar dalam menyerap tenaga kerja. 

Oleh karena itu, keberlanjutan akses pembiayaan menjadi krusial. Bank Sampoerna menilai peluang pertumbuhan masih terbuka meski tantangan risiko meningkat. Pendekatan selektif dan penguatan manajemen risiko menjadi kunci menjaga kualitas portofolio.

Komposisi kredit UMKM tetap dominan

Direktur Finance and Business Planning Bank Sampoerna Henky Suryaputra menyampaikan bahwa hingga saat ini mayoritas pembiayaan bank masih berada di segmen UMKM. Porsi tersebut menunjukkan fokus utama bank terhadap sektor usaha kecil. Komposisi kredit ini juga mencerminkan komitmen jangka panjang terhadap pembiayaan produktif. Bank tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas kredit.

"Hingga saat ini porsi kredit UMKM Bank Sampoerna mencapai sekitar 64% dari total kredit," kata Henky saat dihubungi, Rabu (25/3/2026). Pernyataan ini menunjukkan bahwa UMKM menjadi tulang punggung portofolio pembiayaan. Dominasi tersebut juga mengindikasikan kepercayaan bank terhadap potensi sektor tersebut. Meski begitu, bank tetap mencermati risiko yang muncul di tengah dinamika ekonomi.

Penyaluran kredit masih tertekan

Berdasarkan laporan keuangan Februari 2026, Bank Sampoerna telah menyalurkan total pembiayaan sebesar Rp 11,058 triliun. Angka ini menunjukkan aktivitas pembiayaan yang tetap berjalan. Namun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, terjadi penurunan. Pada Februari 2025, nilai kredit tercatat lebih tinggi dibandingkan tahun ini.

Secara tahunan, penyaluran kredit tersebut turun sebesar 7,26%. Penurunan ini mencerminkan kehati-hatian bank dalam menyalurkan pembiayaan. Kondisi ekonomi dan risiko kredit menjadi faktor utama. Meski demikian, bank tidak menghentikan ekspansi. Strategi yang diambil adalah pertumbuhan bertahap dengan seleksi debitur yang lebih ketat.

Potensi pertumbuhan kredit mikro

Henky melihat peluang pertumbuhan kredit mikro masih terbuka sepanjang tahun ini. Menurutnya, pemulihan ekonomi domestik dapat mendorong permintaan pembiayaan. Daya beli masyarakat yang membaik juga menjadi indikator positif. Hal tersebut diyakini akan meningkatkan aktivitas usaha kecil.

"Kami melihat sentimen positif dari pemulihan ekonomi domestik, meskipun pertumbuhan kredit UMKM di industri secara umum masih relatif terbatas," ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan optimisme yang tetap dijaga. Bank menilai momentum pemulihan ekonomi dapat mendorong kebutuhan modal kerja. Dengan demikian, kredit mikro berpotensi tumbuh secara bertahap. 

Risiko kredit masih menjadi tantangan

Di sisi lain, data terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit UMKM di industri perbankan masih belum optimal. Salah satu faktor utama adalah tingginya rasio kredit bermasalah. Kondisi ini membuat bank lebih berhati-hati dalam ekspansi pembiayaan. Risiko yang meningkat memerlukan pengelolaan yang lebih disiplin.

Berdasarkan Asesmen Transmisi SBDK RDG Maret 2026, rasio kredit bermasalah segmen UMKM masih cukup tinggi. Pada Februari 2026, angka non performing loan tercatat sebesar 4,68%. Jika dibandingkan bulan sebelumnya, rasio tersebut meningkat. Kenaikan sebesar 8 basis poin menunjukkan tekanan kualitas kredit. 

Tingginya rasio NPL menjadi indikator bahwa sektor UMKM masih menghadapi tantangan. Faktor seperti fluktuasi permintaan dan biaya operasional memengaruhi kemampuan pembayaran debitur. Oleh karena itu, bank harus memperkuat mitigasi risiko. Pendekatan yang dilakukan meliputi pemantauan kualitas kredit dan pendampingan debitur.

Optimisme pertumbuhan tetap dijaga

Meski dihadapkan pada tantangan risiko, Bank Sampoerna tetap optimistis terhadap prospek kredit UMKM. Bank menilai sektor ini memiliki daya tahan yang cukup baik. Selain itu, kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional sangat besar. Hal ini menjadi alasan utama bank mempertahankan fokus pembiayaan.

Henky memastikan bahwa strategi pertumbuhan akan tetap dijalankan secara hati-hati. Bank akan menyesuaikan kebijakan pembiayaan dengan kondisi ekonomi. Seleksi debitur dan penguatan analisis kredit menjadi prioritas. Dengan langkah tersebut, bank berharap dapat menjaga kualitas portofolio.

Ke depan, Bank Sampoerna juga melihat peluang dari pemulihan aktivitas ekonomi. Peningkatan konsumsi masyarakat dapat mendorong omzet pelaku usaha kecil. Kondisi tersebut berpotensi memperbaiki kemampuan pembayaran kredit. Hal ini akan membantu menurunkan risiko pembiayaan.

Komitmen terhadap UMKM tetap menjadi bagian penting strategi bank. Dukungan pembiayaan diharapkan mampu memperkuat sektor usaha kecil. Dengan pengelolaan risiko yang tepat, pertumbuhan kredit dapat berjalan lebih sehat. Bank Sampoerna optimistis bahwa kredit UMKM masih memiliki prospek positif di tengah tantangan yang ada.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index