JAKARTA - Persaingan di level bulu tangkis dunia semakin ketat, menuntut setiap atlet tidak hanya tampil baik sesekali, tetapi juga mampu menjaga stabilitas performa di setiap turnamen.
Hal ini menjadi tantangan utama bagi para pemain muda yang tengah berusaha menembus dominasi pemain papan atas dunia.
Situasi tersebut turut dirasakan oleh Putri Kusuma Wardani atau Putri KW, yang menunjukkan perkembangan performa cukup menjanjikan sepanjang tur Eropa 2026. Meski hasil yang diraih belum sepenuhnya maksimal, pencapaian yang ditorehkan menjadi indikator penting peningkatan kualitas permainannya.
Hasil turnamen jadi bahan evaluasi utama
Putri Kusuma Wardani menunjukkan perkembangan performa yang cukup bagus dalam rangkaian turnamen bulu tangkis tur Eropa 2026. Tunggal putri Indonesia itu mencapai perempat final All England dan final Swiss Open.
Di perempat final All England, yang merupakan turnamen BWF Super 1000, Putri KW kalah dari unggulan pertama asal Korea An Se Young dengan 11-21 dan 14-21. Hasil tersebut menjadi gambaran tantangan yang dihadapi saat melawan pemain top dunia.
Sementara di partai final Swiss Open, turnamen BWF Super 300, dikalahkan wakil Thailand Supanida Katethong dengan skor 11-21 dan 15-21 dalam perebutan gelar juara.
Konsistensi masih jadi pekerjaan rumah
Imam Tohari mengungkapkan konsistensi masih menjadi pekerjaan rumah utama Putri KW. Ia menilai performa anak asuhnya masih belum stabil dalam setiap pertandingan.
"Dalam setiap pertandingan ada yang bagus dan tidak bagus. Konsistensi di lapangan masih harus ditingkatkan, terutama dalam kontrol pikiran dan cara bermain," papar Kepala Pelatih Tunggal Putri PP PBSI itu.
Dia juga menyoroti penampilan pada partai final Swiss Open yang dinilai belum maksimal, terutama dalam hal kesiapan mental menghadapi tekanan laga puncak.
Tekanan mental pengaruhi performa final
Imam menilai Putri belum mampu mengeluarkan permainan terbaiknya saat tampil di final Swiss Open. Faktor mental menjadi salah satu penyebab utama penurunan performa tersebut.
"Di final, Putri belum bisa mengeluarkan permainan terbaiknya. Faktor mental dan kontrol pikiran (kurang tenang dan kurang yakin) cukup memengaruhi penampilannya," ucap Imam.
"Memang untuk partai final tekanan mental yang dirasakan para pemain tentu berbeda dibanding pertandingan sebelumnya. Saya berharap Putri bisa mengatasi hal tersebut untuk kedepannya," tambahnya.
Perkembangan positif tetap terlihat jelas
Meski demikian, Imam melihat adanya perkembangan positif dari Putri KW sepanjang tur Eropa ini. Ia menilai peningkatan performa tersebut menjadi modal penting untuk bersaing di level yang lebih tinggi.
"Progres Putri sudah baik, tetapi untuk menembus jajaran empat besar dunia tentu tidak mudah. Ia harus memahami kendala dalam dirinya, berani mengambil inisiatif, dan lebih percaya diri saat bertanding," tegas Imam.
Putri sebelumnya juga mengakui masih menghadapi kesulitan saat menghadapi para pemain papan atas dunia yang memiliki kualitas dan pengalaman lebih matang.
Pengalaman jadi bekal menuju level elite
"Masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki kalau untuk melawan top empat. Menurut saya yang masih belum bisa dilewati adalah mereka di empat besar," ujar Putri KW.
Sementara itu, Eng Hian menilai daya saing Putri KW dan rekan-rekannya di tur Eropa 2026 menunjukkan progres yang cukup baik.
Selain All England dan Swiss Open, tur Eropa juga meliputi German Open dan Orleans Masters. Dalam rangkaian tersebut, Indonesia memang belum berhasil meraih gelar juara.
"Kalau melihat hasil memang belum sesuai harapan. Tapi dari sisi performa dan progres, kami melihat ada perkembangan yang cukup baik. Daya saing pemain terlihat, terutama saat menghadapi pemain top dunia," ujar Eng Hian.
Menurutnya, pengalaman bertanding di level tinggi menjadi modal penting dalam meningkatkan kematangan permainan dan mental bertanding para atlet.
"Yang perlu ditingkatkan adalah konsistensi di momen-momen krusial. Dari situ biasanya menjadi pembeda antara menang dan kalah. Ini yang terus kami benahi bersama tim pelatih," paparnya.