JAKARTA - Perdagangan pasar saham Indonesia pada akhir pekan dibuka dengan tekanan yang cukup terasa.
Sentimen negatif dari pasar global kembali memengaruhi pergerakan indeks domestik sehingga pelaku pasar memilih bersikap lebih berhati hati pada awal sesi perdagangan.
Situasi ini terlihat dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan yang memulai perdagangan Jumat pagi dengan kecenderungan melemah. Kondisi pasar global yang tidak stabil membuat investor lebih selektif dalam mengambil keputusan investasi.
Ketidakpastian yang datang dari berbagai faktor eksternal seperti lonjakan harga minyak serta ketegangan geopolitik dunia turut memberikan tekanan pada pasar saham. Hal ini membuat sebagian investor menahan transaksi sambil mencermati perkembangan kondisi global.
Selain faktor energi, pelemahan indeks saham di sejumlah bursa besar dunia juga menjadi pemicu tekanan pada pasar domestik. Sentimen global tersebut akhirnya mendorong IHSG bergerak lebih rendah pada awal perdagangan.
IHSG melemah pada pembukaan perdagangan akhir pekan
Pada awal perdagangan Jumat pagi, IHSG tercatat mengalami koreksi yang cukup terasa. Indeks terkoreksi sebesar 23,30 poin atau sekitar 0,32 persen sehingga berada di posisi 7.338,82.
Pelemahan ini menunjukkan bahwa pasar saham domestik masih dipengaruhi oleh tekanan dari kondisi eksternal. Investor cenderung mencermati berbagai perkembangan global sebelum melakukan transaksi dalam jumlah besar.
Tidak hanya IHSG yang mengalami penurunan, kelompok saham unggulan juga turut berada dalam zona merah. Saham saham yang tergabung dalam indeks utama mengalami tekanan seiring melemahnya sentimen pasar.
Indeks LQ45 yang berisi saham berkapitalisasi besar juga tercatat mengalami penurunan. Indeks tersebut turun 2,74 poin atau sekitar 0,36 persen ke level 748,45 pada awal perdagangan.
Wall Street terkoreksi tajam dipicu lonjakan harga minyak
Tekanan pada pasar saham global menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan IHSG. Bursa saham Amerika Serikat mencatat penurunan cukup tajam pada penutupan perdagangan Kamis, 12 Maret 2026.
Indeks utama di Wall Street mengalami pelemahan setelah lonjakan harga minyak dunia memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasar energi global.
Data perdagangan menunjukkan Dow Jones Industrial Average turun sebesar 1,56 persen. Sementara itu, S&P 500 melemah 1,52 persen dan Nasdaq Composite terkoreksi hingga 1,78 persen.
Penurunan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak lonjakan harga energi terhadap pertumbuhan ekonomi global. Ketika harga minyak melonjak tajam, biaya produksi dan inflasi berpotensi meningkat sehingga memicu ketidakpastian di pasar keuangan.
Ketegangan Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak
Lonjakan harga minyak dunia dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Iran menjadi salah satu faktor utama yang memicu kekhawatiran pasar energi global.
Situasi tersebut semakin memanas setelah pemimpin tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup. Jalur laut ini merupakan salah satu rute distribusi minyak paling penting di dunia.
Penutupan jalur tersebut memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak global sehingga harga energi melonjak tajam. Pasar energi merespons situasi tersebut dengan kenaikan harga yang signifikan dalam waktu singkat.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate tercatat melonjak 9,72 persen menjadi USD95,73 per barel. Sementara itu, minyak Brent crude oil naik 9,22 persen ke level USD100,46 per barel.
Bursa Asia Pasifik ikut tertekan sentimen global
Sentimen negatif dari pasar global tidak hanya memengaruhi bursa saham Amerika Serikat, tetapi juga merambat ke kawasan Asia Pasifik. Bursa saham regional tercatat mengalami koreksi pada perdagangan Kamis, 12 Maret 2026.
Investor di kawasan Asia turut merespons lonjakan harga minyak serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global serta potensi peningkatan inflasi.
Ketika risiko global meningkat, investor biasanya memilih mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti saham. Strategi ini dilakukan untuk menghindari volatilitas yang lebih besar di pasar keuangan.
Akibatnya, sejumlah indeks saham regional bergerak melemah seiring meningkatnya kehati hatian investor terhadap perkembangan situasi geopolitik dunia.
Proyeksi pergerakan IHSG masih dibayangi tekanan
Dengan kondisi pasar global yang masih dipenuhi ketidakpastian, pergerakan IHSG diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan hari ini. Sentimen eksternal menjadi faktor dominan yang memengaruhi arah pasar saham domestik.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menyampaikan bahwa IHSG berpotensi melanjutkan koreksi seiring melemahnya bursa saham Amerika Serikat serta dinamika geopolitik global.
Tekanan dari lonjakan harga minyak dan ketidakpastian konflik internasional membuat investor cenderung berhati hati dalam melakukan transaksi. Situasi ini dapat membuat pergerakan indeks menjadi lebih terbatas.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang support 7.250 hingga 7.330. Sementara itu, level resistance diperkirakan berada pada kisaran 7.400 hingga 7.500.
Rentang tersebut menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase konsolidasi sambil menunggu perkembangan lebih lanjut dari situasi global. Investor diperkirakan akan terus memantau pergerakan pasar internasional sebelum mengambil langkah investasi berikutnya.