IHSG

IHSG Berpotensi Lanjut Melemah Di Tengah Sentimen Global

IHSG Berpotensi Lanjut Melemah Di Tengah Sentimen Global
IHSG Berpotensi Lanjut Melemah Di Tengah Sentimen Global

JAKARTA - Pergerakan pasar saham domestik kembali mengalami tekanan pada perdagangan terbaru. 

Setelah sempat menunjukkan penguatan pada sesi awal, indeks akhirnya harus menutup perdagangan di zona merah akibat meningkatnya sentimen ketidakpastian dari berbagai faktor eksternal maupun domestik.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Banyak investor memilih melakukan transaksi jangka pendek sambil menunggu perkembangan situasi global yang masih belum stabil.

Situasi geopolitik internasional serta menjelang periode libur panjang di dalam negeri turut memengaruhi perilaku investor. Kombinasi berbagai sentimen ini membuat pasar saham bergerak lebih fluktuatif dibandingkan periode sebelumnya.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Rabu. IHSG turun 0,69% ke level 7.389,40 setelah sempat menguat pada sesi pertama perdagangan.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan pergerakan IHSG yang kembali terkoreksi dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global dan domestik.

Ketidakpastian Global Tekan Pergerakan IHSG

Menurut Alrich, kondisi pasar saat ini membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Ketegangan geopolitik serta situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil mendorong pelaku pasar untuk mengurangi risiko.

Menurutnya, investor cenderung melakukan trading jangka pendek di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran serta menjelang libur panjang Lebaran yang akan dimulai pada pertengahan pekan depan.

“Investor cenderung melakukan trading jangka pendek di tengah meningkatnya ketidakpastian terkait konflik AS, Israel, dan Iran serta menjelang libur panjang Lebaran,” katanya.

Strategi trading jangka pendek tersebut menjadi pilihan banyak investor untuk mengantisipasi potensi perubahan pasar yang terjadi secara cepat.

Dengan kondisi global yang belum sepenuhnya stabil, pelaku pasar cenderung lebih selektif dalam memilih saham yang akan diperdagangkan.

Pergerakan Sektor Dan Nilai Tukar Rupiah

Pada perdagangan tersebut, sektor basic materials mencatatkan koreksi terbesar, sementara sektor teknologi menjadi sektor dengan kenaikan tertinggi.

Pergerakan sektor yang berbeda-beda tersebut menunjukkan bahwa sentimen pasar tidak memengaruhi seluruh sektor secara merata.

Beberapa sektor masih mampu mencatatkan kinerja positif meskipun indeks secara keseluruhan mengalami penurunan.

Di saat yang sama, nilai tukar rupiah juga melemah ke level Rp16.886 per dolar Amerika Serikat.

Pelemahan ini dipicu sentimen geopolitik di Timur Tengah serta kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi domestik, termasuk potensi inflasi dan pelebaran defisit anggaran.

Pergerakan nilai tukar sering kali memiliki hubungan erat dengan kondisi pasar saham karena keduanya dipengaruhi oleh arus modal global.

Ketika ketidakpastian meningkat, investor global biasanya cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.

Analisis Teknikal IHSG Masih Mengarah Melemah

Secara teknikal, Alrich menilai indikator Stochastic RSI dan MACD masih menunjukkan kecenderungan melemah.

IHSG bahkan sempat menguat hingga menyentuh level 7.527 sebelum akhirnya kembali terkoreksi.

“IHSG diperkirakan masih akan cenderung bergerak melemah untuk menguji level support di kisaran 7.300 hingga 7.350,” jelasnya.

Ia menambahkan level support IHSG berada di area 7.300, dengan pivot di 7.400 dan resistance di level 7.500.

Analisis teknikal tersebut menunjukkan bahwa indeks masih berpotensi mengalami tekanan pada perdagangan berikutnya.

Investor biasanya menggunakan level support dan resistance sebagai acuan untuk menentukan strategi beli maupun jual di pasar saham.

Sentimen Global Dan Rekomendasi Saham Analis

Dari sisi global, indeks saham di kawasan Asia ditutup bergerak variatif pada perdagangan Rabu seiring investor menantikan perkembangan konflik di Timur Tengah.

Sementara itu mayoritas indeks di bursa Eropa dibuka melemah seiring meningkatnya intensitas operasi militer di kawasan tersebut.

Sentimen negatif juga tercermin dari indeks futures Wall Street yang bergerak di zona merah.

Pasar juga mencermati laporan bahwa tiga kapal di lepas pantai Iran terkena proyektil di sekitar Selat Hormuz pada Rabu.

Jalur pelayaran melalui Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia dilaporkan hampir terhenti sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari 2026.

Situasi tersebut menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Untuk perdagangan Kamis, Alrich merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dicermati investor.

Beberapa saham tersebut antara lain PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), serta PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE).

Sementara itu, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai koreksi IHSG juga dipengaruhi pergerakan bursa global dan sejumlah indeks di kawasan Asia.

Menurutnya, pelaku pasar saat ini juga menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat yang dapat mempengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral.

“Dari sisi sentimen diperkirakan dipengaruhi oleh pergerakan bursa global dan beberapa regional Asia, di mana investor menanti rilis data inflasi AS,” ujarnya.

Secara teknikal, Herditya memperkirakan IHSG masih rawan melanjutkan koreksi pada perdagangan Kamis.

“Kami perkirakan IHSG masih rawan melanjutkan koreksi dengan support di 7.305 dan resistance di 7.448,” jelasnya.

Ia menambahkan pergerakan IHSG juga akan dipengaruhi sentimen menjelang libur panjang serta rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat.

Untuk perdagangan Kamis, Herditya merekomendasikan investor mencermati saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pada kisaran Rp5.000-Rp5.075.

Selain itu, investor juga dapat memperhatikan pergerakan saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) di rentang Rp535-Rp575.

Saham lainnya yang direkomendasikan adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT) pada area Rp1.830-Rp2.120.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index