IHSG

IHSG Melemah Ke Level 8.374 Tertekan Saham Unggulan Hari Ini

IHSG Melemah Ke Level 8.374 Tertekan Saham Unggulan Hari Ini
IHSG Melemah Ke Level 8.374 Tertekan Saham Unggulan Hari Ini

JAKARTA - Pergerakan pasar saham domestik kembali berubah arah pada perdagangan Selasa siang. 

Setelah sebelumnya mencatat penguatan signifikan, Indeks Harga Saham Gabungan kini harus menghadapi tekanan jual di sejumlah saham berkapitalisasi besar. Koreksi ini terjadi di tengah dinamika global yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Indeks Harga Saham Gabungan IHSG melemah pada perdagangan hari ini, Selasa 24 Februari 2026. Setelah melaju kencang kemarin, indeks turun 21,42 poin atau melemah 0,26 persen ke level 8.374,66. Penurunan tersebut mencerminkan aksi ambil untung di sejumlah sektor.

Sebanyak 237 saham naik, 417 turun, dan 162 tidak bergerak. Nilai transaksi jelang pembukaan mencapai Rp 12,70 triliun, melibatkan 28,84 miliar saham dalam 1,87 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun turun namun masih bertengger nyaman di level Rp 15.000 an triliun.

Data tersebut menunjukkan tekanan lebih dominan dibandingkan penguatan. Meski demikian, aktivitas perdagangan tetap terbilang ramai dengan nilai transaksi yang besar. Hal ini menandakan minat investor masih cukup aktif di pasar.

Saham AMMN, BBRI, BRPT, DSSA dan BUMI tercatat menjadi pemberat kinerja IHSG hari ini. Pergerakan negatif saham saham tersebut memberi dampak signifikan terhadap indeks. Bobot kapitalisasi yang besar membuat pelemahan terasa lebih dalam.

Pergerakan Sektor Dan Dinamika Domestik

Mayoritas sektor perdagangan melemah, dengan penguatan hanya dicatatkan oleh sektor infrastruktur dan finansial. Sementara itu sektor konsumer non primer, properti dan barang baku mencatatkan pelemahan paling dalam hari ini. Ketimpangan ini memperlihatkan rotasi sektor yang masih berlangsung.

Memasuki perdagangan kedua di pekan ini, euforia pasar keuangan domestik masih terlihat cukup positif. Pelaku pasar tampaknya sudah relatif mengantisipasi dinamika tarif resiprokal yang kembali mencuat, sehingga respons pasar cenderung lebih terukur. Artinya, koreksi yang terjadi belum mencerminkan kepanikan berlebihan.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa investor telah menyiapkan strategi menghadapi sentimen global. Fluktuasi indeks lebih dipengaruhi aksi teknikal dan rotasi saham. Perubahan arah jangka pendek masih dalam batas wajar.

Dengan kapitalisasi pasar yang tetap stabil di kisaran Rp 15.000 an triliun, fondasi pasar dinilai masih kokoh. Tekanan harian tidak serta merta mengubah pandangan jangka menengah. Investor tetap mencermati perkembangan global sebagai katalis utama.

Ancaman Tarif Dan Respons Global

Sebagaimana diketahui, Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif yang lebih tinggi terhadap negara negara yang bermain main dengan kesepakatan dagang terbaru. Ancaman ini muncul setelah Mahkamah Agung pekan lalu memblokir banyak tarif global luas yang sebelumnya diberlakukan.

Peringatan itu muncul ketika negara negara di seluruh dunia mengatakan mereka sedang mengevaluasi tarif dan kesepakatan dagang mana yang masih berlaku setelah putusan tersebut. Putusan tersebut membatalkan sebagian besar tarif yang dikenakan Trump tahun lalu. Situasi ini memicu ketidakpastian baru di pasar global.

Uni Eropa pada Senin mengatakan akan menangguhkan ratifikasi kesepakatan yang dicapai pada musim panas lalu. India juga menyatakan akan menunda pembicaraan yang sebelumnya dijadwalkan untuk memfinalisasi kesepakatan terbaru. Langkah ini memperlihatkan respons beragam dari berbagai negara.

Melalui media sosial, Trump memperingatkan negara negara agar tidak menggunakan putusan pengadilan sebagai alasan untuk mundur dari komitmen perdagangan yang dibuat sebagai respons terhadap tarif tahun lalu. "Negara mana pun yang ingin bermain main dengan keputusan Mahkamah Agung yang konyol ini terutama mereka yang telah memanfaatkan AS selama bertahun tahun bahkan puluhan tahun akan menghadapi tarif yang jauh lebih tinggi dan lebih buruk daripada yang baru saja mereka setujui," tulisnya di Truth Social, dikutip dari BBC.

Analisis Teknikal Dan Area Resistance

Dari sisi teknikal, IHSG kini sedang mencoba menembus level psikologis 8.400 yang juga menjadi area resistance. Jika level ini berhasil dilewati, ruang penguatan berikutnya mengarah ke kisaran 8.600 hingga 8.700. Area ini menjadi target penting dalam jangka pendek.

Area tersebut merupakan gap yang ditinggalkan IHSG saat terjadi tekanan jual besar pada akhir Januari. Peristiwa itu terjadi ketika MSCI mengumumkan pembekuan terhadap indeks saham Indonesia dan menyatakan potensi penurunan status dari emerging market menjadi frontier market. Dampaknya kala itu cukup signifikan terhadap sentimen.

Secara historis, gap dalam pergerakan teknikal kerap cenderung tertutup, meski waktunya tidak selalu bisa dipastikan. Dengan momentum saat ini, peluang IHSG untuk mengisi area tersebut tetap terbuka. Namun prosesnya bisa berlangsung bertahap.

Koreksi yang terjadi hari ini bisa menjadi bagian dari konsolidasi sebelum uji resistance kembali dilakukan. Investor teknikal biasanya menunggu konfirmasi penembusan sebelum menambah posisi. Selama support terjaga, peluang rebound tetap ada.

Arus Dana Asing Dan Kepercayaan Pasar

Kabar baiknya dana asing mulai masuk deras ke pasar saham Tanah Air. Asing mencatat net inflow selama empat hari beruntun dengan nilai Rp 3,2 triliun. Kondisi ini menunjukkan adanya kepercayaan yang meningkat terhadap bursa Indonesia.

Arus masuk dana asing sering menjadi indikator penting bagi arah pasar. Ketika investor global menambah eksposur, sentimen domestik biasanya ikut terdorong. Hal ini bisa membantu meredam tekanan jangka pendek.

Meski IHSG terkoreksi 0,26 persen ke level 8.374,66, fondasi pasar masih relatif kuat. Kombinasi arus modal asing dan ekspektasi teknikal menjaga peluang penguatan lanjutan. Investor tetap disarankan mencermati perkembangan global serta pergerakan sektor unggulan.

Dengan berbagai dinamika tersebut, pergerakan IHSG hari ini mencerminkan fase konsolidasi yang wajar. Tekanan saham unggulan menjadi faktor utama pelemahan indeks. Namun peluang untuk kembali menguat tetap terbuka selama sentimen eksternal tidak memburuk signifikan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index