JAKARTA - Di balik reputasinya sebagai atlet dengan disiplin tinggi, Cristiano Ronaldo ternyata pernah mencoba menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Megabintang asal Portugal itu melakukan pengalaman tersebut saat membela Al-Nassr di Arab Saudi. Langkah itu dilakukan bukan karena kewajiban agama, melainkan sebagai bentuk rasa ingin tahu dan empati.
Kisah ini terungkap dari pengakuan mantan pemain Al-Nassr, Shaye Sharahili. Dalam wawancara bersama "Studio Al-Jamahir" melalui aplikasi Thmanyah Sports, ia membagikan cerita mengenai pengalaman Ronaldo tersebut. Informasi ini pun menarik perhatian publik karena memperlihatkan sisi berbeda dari sang legenda.
Menurut Sharahili, Ronaldo mencoba berpuasa pada Ramadan tahun lalu. Ia ingin merasakan langsung bagaimana rekan-rekannya yang Muslim menjalani ibadah tersebut. Meski bukan seorang Muslim, Ronaldo menunjukkan keinginan untuk memahami tradisi yang dijalani oleh banyak pemain di klubnya.
Upaya itu memang tidak berlangsung lama, namun tetap meninggalkan kesan tersendiri. Ronaldo disebut hanya mampu bertahan selama dua hari sebelum akhirnya menghentikan percobaannya. Meski singkat, pengalaman tersebut dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya lokal.
Pengalaman Cristiano Ronaldo Berpuasa Ramadan
Shaye Sharahili menjelaskan bahwa Cristiano Ronaldo mencoba berpuasa selama bulan Ramadan 2025. Upaya ini dilakukan oleh Cristiano Ronaldo meskipun ia bukan seorang Muslim, dengan tujuan merasakan pengalaman yang dirasakan oleh rekan-rekannya yang Muslim. Keputusan itu menunjukkan rasa ingin tahunya terhadap kebiasaan yang dijalani mayoritas pemain di klub.
Ronaldo berpuasa selama dua hari, namun ia merasa sangat kesulitan untuk melanjutkannya. Kondisi fisik sebagai atlet profesional dengan intensitas latihan tinggi menjadi tantangan tersendiri. Adaptasi terhadap perubahan pola makan dan waktu istirahat tidak mudah dijalani.
Sharahili, dalam wawancaranya, menyampaikan bahwa Ronaldo mencoba puasa untuk merasakan apa yang dirasakan umat Muslim selama berpuasa. Ia menilai tindakan tersebut sebagai gestur positif dari seorang pemain besar. Keinginan Ronaldo memahami pengalaman religius rekan setimnya dinilai patut diapresiasi.
"Tahun lalu, Cristiano Ronaldo mencoba berpuasa bersama para pemain Muslim Al Nassr selama Ramadan. Dia berpuasa selama dua hari untuk merasakan apa yang dirasakan umat Muslim selama berpuasa," katanya.
Sharahili menambahkan bahwa Ronaldo mencoba berpuasa selama dua hari dan menyadari bahwa hal itu tidak mudah dilakukan. Pernyataan ini memberikan gambaran tentang sisi humanis dan penuh hormat dari legenda Portugal tersebut, yang tampak ingin memahami pengalaman religius dan budaya rekan-rekan Muslimnya. Cerita ini pun menambah warna dalam perjalanan kariernya di Timur Tengah.
Gestur Hormat dan Adaptasi di Arab Saudi
Langkah Ronaldo mencoba berpuasa dipandang sebagai bentuk keterbukaan terhadap budaya setempat. Sejak bergabung dengan Al-Nassr, ia memang menghadapi lingkungan sosial dan religius yang berbeda dari Eropa. Adaptasi menjadi bagian penting dalam perjalanan profesionalnya.
Keputusannya mencoba puasa, walau hanya dua hari, mencerminkan sikap menghormati tradisi rekan setim. Di tengah jadwal kompetisi yang padat, tindakan tersebut menunjukkan kemauan untuk keluar dari zona nyaman. Sikap ini memperlihatkan profesionalisme yang tidak hanya terlihat di lapangan.
Pengalaman singkat Ronaldo ini menyoroti tantangan fisik yang dihadapi para atlet profesional, terutama pesepak bola, saat menjalankan ibadah puasa. Tubuh atlet membutuhkan asupan nutrisi dan cairan yang teratur untuk menjaga performa. Perubahan drastis dalam pola makan tentu berpengaruh pada stamina.
Keputusan Ronaldo untuk mencoba berpuasa, meskipun hanya sebentar, dipandang sebagai gestur rasa hormat dan keterbukaan. Hal tersebut semakin menegaskan profesionalisme serta kemampuannya beradaptasi di luar lapangan. Ia menunjukkan bahwa memahami budaya lokal adalah bagian dari tanggung jawab sebagai pemain asing.
Tantangan Berpuasa bagi Pesepak Bola Profesional
Shaye Sharahili juga menjelaskan bahwa bermain sepak bola selama Ramadan sangat sulit bagi sebagian besar pemain. Tantangan itu terasa lebih berat bagi pemain asing yang belum terbiasa dengan perubahan ritme harian. Penyesuaian jadwal menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi fisik.
Perubahan waktu makan dari siang ke malam membuat tubuh harus beradaptasi cepat. Selain itu, pertandingan yang sering digelar sekitar pukul 10 malam turut memengaruhi pola tidur pemain. Kondisi ini tentu berbeda dengan rutinitas yang biasa dijalani di luar bulan Ramadan.
Pemain profesional membutuhkan manajemen energi yang sangat terkontrol. Latihan, pertandingan, hingga pemulihan harus berjalan seimbang agar performa tetap stabil. Ketika pola makan dan tidur berubah, risiko kelelahan meningkat.
Adaptasi terhadap perubahan jadwal makan, tidur, dan latihan menjadi tantangan besar. Situasi inilah yang kemungkinan dirasakan oleh Ronaldo saat mencoba berpuasa. Dua hari pengalaman tersebut sudah cukup memberinya gambaran tentang beratnya menjalani ibadah sambil tetap menjaga performa di level tertinggi.
Kisah singkat ini memperlihatkan sisi lain Cristiano Ronaldo yang jarang tersorot. Di balik ambisi dan ketatnya disiplin sebagai atlet, ia tetap menunjukkan rasa hormat terhadap lingkungan sekitarnya. Meski hanya dua hari, upayanya mencoba puasa menjadi cerita menarik dalam perjalanan kariernya bersama Al-Nassr.