Minyak

Lonjakan Harga Minyak 4 Persen Dipicu Ketegangan Nuklir AS Iran

Lonjakan Harga Minyak 4 Persen Dipicu Ketegangan Nuklir AS Iran
Lonjakan Harga Minyak 4 Persen Dipicu Ketegangan Nuklir AS Iran

JAKARTA - Pasar energi global kembali diguncang sentimen geopolitik setelah harga minyak melonjak tajam pada perdagangan Rabu. 

Kenaikan signifikan ini terjadi tak lama setelah pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat memicu kekhawatiran baru terkait arah perundingan nuklir dengan Iran. Ketidakpastian diplomasi yang semula dianggap membawa angin segar justru berubah menjadi pemicu lonjakan harga. Investor pun bereaksi cepat terhadap potensi meningkatnya ketegangan antar kedua negara.

Harga minyak mentah AS tercatat melonjak hingga US$ 2,86 atau 4,59% selama sesi perdagangan kemarin, dan ditutup pada US$ 65,19 per barel. Begitu juga dengan harga minyak patokan global Brent naik hingga US$ 2,93 atau 4,35% menjadi US$ 70,35 per barel. 

Lonjakan lebih dari empat persen ini mencerminkan respons pasar terhadap risiko geopolitik yang kembali memanas. Pergerakan harga yang agresif menunjukkan kekhawatiran atas stabilitas pasokan global.

Kenaikan tersebut menjadi kontras dibanding sentimen sehari sebelumnya yang sempat menekan harga. Pada awal pekan, harapan tercapainya kesepakatan nuklir sempat menenangkan pasar. Namun perubahan nada dari pejabat tinggi AS dengan cepat mengubah persepsi pelaku pasar. 

Ketegangan yang meningkat membuat investor kembali memasukkan premi risiko ke dalam harga minyak. Situasi ini memperlihatkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap perkembangan diplomatik.

Pembicaraan Awal yang Sempat Redakan Kekhawatiran

Sebelumnya, utusan Amerika Steve Witkoff dan Jared Kushner mengadakan perundingan negosiasi nuklir dengan Iran di Jenewa pada Selasa. 

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan diskusi tersebut konstruktif dan menghasilkan kesepakatan umum mengenai prinsip-prinsip panduan. Pernyataan ini sempat memunculkan optimisme bahwa kesepakatan bisa dicapai. Pasar pun merespons dengan penurunan harga pada akhir perdagangan Selasa.

Berkat itu harga minyak ditutup lebih rendah pada akhir perdagangan Selasa. Sebab para pedagang menafsirkan komentar menteri luar negeri Iran sebagai tanda negara kaya minyak itu berpotensi mencapai kesepakatan terkait nuklir dengan AS. Harapan terhadap pelonggaran sanksi dan stabilitas pasokan menjadi faktor utama penurunan harga saat itu. Investor menilai peluang diplomasi masih terbuka lebar.

Namun suasana positif tersebut tidak bertahan lama. Ketika pelaku pasar mulai memproyeksikan kemungkinan tercapainya kesepakatan, pernyataan terbaru dari pihak AS justru menimbulkan keraguan. Perubahan arah sentimen ini membuat harga berbalik naik secara tajam. Dinamika cepat tersebut memperlihatkan betapa fluktuatifnya harga minyak dalam situasi geopolitik sensitif.

Pernyataan Tegas JD Vance Picu Kekhawatiran Baru

Tak lama setelah optimisme muncul, Wakil Presiden AS JD Vance menyampaikan bahwa Teheran gagal memenuhi tuntutan inti Amerika Serikat. Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa perundingan kemungkinan besar menghadapi hambatan serius. Pasar langsung merespons dengan lonjakan harga akibat meningkatnya risiko konflik. Ketidakpastian kembali mendominasi pergerakan minyak global.

"Dalam beberapa hal berjalan baik, mereka sepakat untuk bertemu kembali setelahnya. Namun dalam hal lain sangat jelas bahwa presiden telah menetapkan beberapa garis merah yang belum bersedia diakui dan dibahas oleh pihak Iran," kata Vance kepada Fox News pada Selasa malam. 

Ucapan tersebut mengindikasikan adanya perbedaan mendasar yang belum terselesaikan. Investor menilai peluang tercapainya kesepakatan menjadi semakin tipis.

Padahal menurut Vance, Presiden AS Donald Trump berhak untuk menggunakan kekuatan militer jika jalur diplomasi tidak berhasil menghentikan program nuklir Iran. 

Di mana kemungkinan besar Trump bersedia untuk menggunakan kekuatan militer Paman Sam ini untuk menekan Iran. Ancaman penggunaan kekuatan militer menjadi faktor yang semakin memperburuk sentimen pasar. Risiko eskalasi konflik membuat harga minyak terdorong naik lebih tinggi.

"Kita memang memiliki militer yang sangat kuat, Presiden telah menunjukkan kesediaan untuk menggunakannya," ucapnya. Pernyataan ini semakin mempertegas sikap keras Washington terhadap isu nuklir Iran. Pelaku pasar energi menilai potensi konflik terbuka tidak bisa diabaikan. Situasi tersebut memicu pembelian spekulatif yang mendorong lonjakan harga.

Ancaman Militer dan Pengerahan Kapal Induk

Sikap tegas pemerintah AS tidak hanya sebatas pernyataan politik. Sebelumnya Trump sudah menempatkan kapal induk USS Abraham Lincoln di Timur Tengah. Langkah ini dipandang sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan kegagalan negosiasi. Kehadiran kekuatan militer di kawasan strategis turut meningkatkan ketegangan geopolitik.

Kemudian USS Gerald Ford sedang dalam perjalanan menuju wilayah tersebut untuk berjaga-jaga jika negosiasi gagal. Penambahan armada militer ini semakin memperkuat pesan bahwa Washington siap mengambil langkah tegas. Pasar energi memandang pengerahan tersebut sebagai sinyal meningkatnya risiko pasokan. Ketegangan di kawasan Timur Tengah memang kerap berdampak langsung pada harga minyak dunia.

"Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan membutuhkannya," kata Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih, Jumat (13/2). Pernyataan ini menegaskan kesiapan pemerintah AS menghadapi berbagai skenario. Investor pun memasukkan kemungkinan eskalasi militer dalam perhitungan harga minyak.

Lonjakan lebih dari 4 persen pada perdagangan Rabu menjadi cerminan kekhawatiran pasar atas masa depan stabilitas energi global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index