Rupiah

Rupiah Diproyeksi Fluktuatif Melemah Terbatas Terhadap Dolar AS Hari Ini

Rupiah Diproyeksi Fluktuatif Melemah Terbatas Terhadap Dolar AS Hari Ini
Rupiah Diproyeksi Fluktuatif Melemah Terbatas Terhadap Dolar AS Hari Ini

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada perdagangan Rabu, 18 Februari 2026. 

Mata uang Garuda diperkirakan bergerak fluktuatif sepanjang sesi, dengan kecenderungan ditutup melemah tipis. Dinamika eksternal masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi arah rupiah.

Tekanan terhadap rupiah muncul seiring penguatan dolar Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir. Sentimen global, khususnya dari Amerika Serikat, memicu perubahan ekspektasi pelaku pasar. Kondisi tersebut membuat ruang penguatan rupiah relatif terbatas.

Berdasarkan proyeksi pasar, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp16.830 hingga Rp16.860 per dolar AS. Rentang ini mencerminkan volatilitas yang masih terkendali. Meski berpeluang melemah, depresiasi dinilai tidak akan terlalu dalam.

Sebelumnya, berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,05% ke level Rp16.836 per dolar AS pada Jumat, 13 Februari 2026. Pada saat bersamaan, indeks dolar AS menguat 0,14% ke level 97,05. Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan eksternal masih membayangi.

Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini

Direktur Traze Andalan Features Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah cenderung volatil mengikuti respons terhadap rilis data inflasi Amerika Serikat pada pekan ini. Fluktuasi ini dinilai wajar di tengah ketidakpastian global. Investor masih menanti arah kebijakan moneter berikutnya.

“Pada perdagangan Rabu (18/2/2026) Rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp16.830–Rp16.860 per dolar AS,” ujarnya dikutip, Senin (18/2/2026). Pernyataan tersebut menegaskan adanya ruang gerak terbatas dalam jangka pendek. Pelaku pasar diimbau tetap waspada.

Menurutnya, secara keseluruhan arah rupiah akan sangat ditentukan oleh dinamika dolar AS dan ekspektasi suku bunga global. Selama belum ada kejutan besar dari eksternal, pelemahan diperkirakan masih terbatas. Stabilitas relatif masih bisa terjaga.

Adapun pada Jumat, 14 Februari 2026, rupiah ditutup terkoreksi 0,25% ke level Rp16.828 per dolar AS. Sementara itu, indeks yang mengukur kinerja dolar AS bergerak menguat 0,01% ke level 96,84. Data ini menunjukkan konsistensi tekanan terhadap rupiah.

Pengaruh Data Inflasi Dan Kebijakan The Fed

Ketidakpastian arah suku bunga The Federal Reserve menjadi sentimen utama pasar. Data ketenagakerjaan Amerika Serikat terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja masih cukup solid. Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS dari posisi terendah mingguannya.

Penguatan dolar memberi tekanan tambahan pada mata uang emerging market, termasuk rupiah. Investor global cenderung mengalihkan dana ke aset berdenominasi dolar. Hal ini memicu volatilitas di pasar valuta asing.

Fokus investor kini tertuju pada rilis data indeks harga konsumen Januari. Inflasi dan kekuatan tenaga kerja menjadi indikator utama yang dipertimbangkan bank sentral AS dalam menentukan suku bunga. Setiap kejutan data berpotensi menggerakkan pasar.

Melansir Bloomberg, inflasi inti AS sedikit meningkat pada awal tahun sesuai perkiraan. Kenaikan biaya jasa lebih dari mengimbangi harga barang yang relatif stabil. Situasi ini memberi sinyal tekanan harga belum sepenuhnya mereda.

Indeks harga konsumen inti, tidak termasuk biaya makanan dan energi, meningkat 0,3% dari Desember. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak Agustus, menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja yang dirilis Jumat, 13 Februari 2026. Secara tahunan, kenaikannya menjadi yang terkecil sejak 2021.

Meski pasar memperkirakan inflasi mulai melandai, data Januari dalam beberapa tahun terakhir kerap lebih tinggi dari ekspektasi. Jika kembali terjadi kejutan kenaikan inflasi, dolar AS berpotensi menguat. Kondisi itu dapat menekan rupiah lebih lanjut.

Sentimen Geopolitik Dan Ketidakpastian Global

Selain faktor ekonomi, dinamika geopolitik turut memengaruhi sentimen pasar. Ketegangan di Timur Tengah relatif mereda setelah muncul sinyal negosiasi nuklir antara AS dan Iran. Kondisi ini sempat meredakan kekhawatiran investor.

Namun di sisi lain, situasi di Eropa kembali memanas menyusul serangan drone terhadap fasilitas kilang minyak Rusia. Peristiwa tersebut menambah daftar ketidakpastian global. Walau belum berdampak signifikan, pasar tetap mencermatinya.

Ketidakpastian geopolitik berpotensi memicu pergerakan dana ke aset aman. Dolar AS kerap menjadi tujuan utama dalam kondisi seperti ini. Akibatnya, mata uang negara berkembang berisiko tertekan.

Sentimen global yang campuran membuat pergerakan rupiah sulit menguat signifikan. Investor lebih memilih bersikap hati hati. Volatilitas jangka pendek pun masih mungkin terjadi.

Fundamental Domestik Tetap Solid

Di tengah tekanan eksternal, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada di kisaran 5% pada 2026. Angka tersebut relatif stabil di tengah perlambatan ekonomi Asia dan global.

Tren inflasi global yang mulai menurun juga membuka ruang pelonggaran kebijakan moneter secara bertahap. Kondisi ini dapat menjadi penopang stabilitas domestik. Kebijakan yang terukur diharapkan menjaga daya beli masyarakat.

Selain itu, Indonesia memiliki daya saing ekspor yang dinilai kuat. Potensi dalam kapasitas manufaktur dan tenaga kerja menjadi keunggulan tersendiri. Hal ini mendukung prospek jangka menengah yang positif.

Berdasarkan sejumlah indikator potensi ekspor global, Indonesia berada di peringkat lima. Posisi tersebut menunjukkan peluang pertumbuhan tetap terbuka. Dengan kombinasi fundamental yang solid dan kewaspadaan terhadap faktor eksternal, rupiah diperkirakan tetap bergerak fluktuatif dalam rentang terbatas.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index