JAKARTA - Sorotan terhadap performa Barcelona musim 2025/2026 kini tak lagi hanya tertuju pada kreativitas lini depan.
Justru sektor pertahanan menjadi titik lemah yang paling mencolok dalam beberapa pekan terakhir. Tim asuhan Hansi Flick memasuki fase krusial dengan beban statistik yang mengkhawatirkan.
Dua kekalahan beruntun dalam rentang lima hari menjadi sinyal paling nyata. Blaugrana dihajar Atletico Madrid 4-0 di semifinal Copa del Rey, lalu takluk 2-1 dari Girona di La Liga. Rangkaian hasil tersebut memperlihatkan celah besar dalam organisasi bertahan.
Di luar kontroversi keputusan wasit saat melawan Girona, persoalan utama tetap sama yakni rapuhnya sistem pertahanan. Garis pertahanan tinggi yang diterapkan Flick kerap terekspos dalam skema transisi cepat lawan. Situasi ini membuat lini belakang Barcelona mudah ditembus dalam momen krusial.
Catatan 25 gol kebobolan musim ini menjadi angka yang sulit diterima untuk klub sebesar Barcelona. Statistik tersebut menjadi alarm bahaya bahwa Flick belum menemukan formula serta komposisi ideal di sektor pertahanan.
Rotasi dan Stabilitas Sulit Tercipta
Menurut laporan Mundo Deportivo, Flick terus bereksperimen demi menstabilkan pertahanan. Ia melakukan perubahan taktis dan teknis hampir di setiap fase musim, mencoba berbagai kombinasi demi menemukan keseimbangan yang diharapkan.
Dalam 38 laga resmi musim ini, Flick menggunakan 16 formasi pertahanan berbeda. Ia bahkan mengulang komposisi yang sama sebanyak 11 kali tanpa pernah mempertahankannya secara beruntun, sebuah indikasi belum adanya kepastian pilihan utama.
Kombinasi Jules Kounde, Pau Cubarsi, Eric Garcia, dan Alejandro Balde menjadi kuartet yang paling sering dimainkan. Mereka tampil bersama 12 kali di semua kompetisi, delapan di antaranya di La Liga.
Meski demikian, duet bek tengah yang paling disukai tetap Cubarsi bersama Gerard Martin. Inkonsistensi pilihan ini menunjukkan Flick masih mencari keseimbangan ideal, sekaligus menegaskan bahwa stabilitas lini belakang belum benar-benar tercapai.
Pergeseran Posisi dan Dampaknya pada Struktur Tim
Ketidakstabilan lini belakang memaksa Flick melakukan kompromi posisi. Empat pemain berbeda telah dicoba sebagai bek kanan sepanjang musim, sebuah langkah yang menggambarkan kebutuhan mendesak untuk menutup celah taktis.
Kounde dan Eric Garcia menjadi opsi utama di sisi kanan. Namun Marc Casado dan Joao Cancelo juga beberapa kali dimainkan untuk menyesuaikan kebutuhan strategi pertandingan tertentu.
Eric Garcia yang berposisi asli sebagai bek tengah bahkan dialihkan ke peran gelandang dan bek sayap. Cancelo juga pernah dimainkan sebagai bek kiri demi menambal celah struktural yang muncul akibat absennya konsistensi komposisi.
Rotasi ekstrem ini berdampak pada koordinasi dan komunikasi antarlini. Tanpa struktur yang konsisten, Barcelona sulit membangun pertahanan solid yang menjadi fondasi tim juara, terutama ketika menghadapi lawan dengan serangan balik cepat.
Tekanan Sistem Garis Tinggi dan Risiko Transisi
Flick dikenal dengan pendekatan garis pertahanan tinggi yang agresif. Skema ini menuntut kedisiplinan posisi serta kecepatan membaca permainan dari setiap pemain belakang. Namun dalam praktiknya, eksekusi di lapangan belum sepenuhnya berjalan optimal.
Saat kehilangan bola, jarak antarpemain kerap terlalu renggang. Lawan dengan kecepatan di sektor sayap mampu memanfaatkan ruang kosong di belakang bek, menciptakan situasi satu lawan satu yang berbahaya bagi penjaga gawang.
Kekalahan dari Atletico Madrid menjadi contoh nyata bagaimana transisi cepat lawan membongkar organisasi bertahan. Empat gol yang bersarang memperlihatkan bahwa struktur lini belakang belum cukup kompak menghadapi tekanan intens.
Hal serupa kembali terlihat saat menghadapi Girona. Meski ada faktor kontroversi wasit, tetap saja kebobolan dua gol menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam koordinasi dan pengambilan keputusan di area pertahanan.
Mencari Formula Ideal Menuju Fase Penentuan
Dengan 25 gol kebobolan musim ini, Barcelona menghadapi tantangan serius memasuki fase penentuan kompetisi. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan refleksi dari belum stabilnya sistem yang dibangun Flick.
Eksperimen yang terus dilakukan memang menunjukkan upaya mencari solusi. Namun terlalu banyak perubahan juga berisiko menghambat terciptanya chemistry antarpemain di lini belakang.
Flick dituntut segera menemukan kombinasi paling solid agar tim kembali memiliki identitas defensif yang kuat. Tanpa fondasi pertahanan yang kokoh, ambisi meraih gelar di akhir musim akan semakin sulit diwujudkan.
Kini pertanyaannya bukan lagi apakah Barcelona memiliki pemain berkualitas, melainkan apakah Flick mampu menyatukan potongan puzzle tersebut menjadi satu sistem yang stabil. Jawaban atas persoalan ini akan menentukan arah perjalanan Blaugrana di sisa musim 2025/2026.