Saham

IHSG Diproyeksi Bergerak Terbatas Awal Pekan Ini 3 Saham Jadi Andalan

IHSG Diproyeksi Bergerak Terbatas Awal Pekan Ini 3 Saham Jadi Andalan
IHSG Diproyeksi Bergerak Terbatas Awal Pekan Ini 3 Saham Jadi Andalan

JAKARTA - Memasuki perdagangan awal pekan, pelaku pasar kembali dihadapkan pada kondisi pasar yang cenderung berhati-hati. 

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diperkirakan tidak akan bergerak agresif pada Senin, 9 Februari 2026. Sentimen global dan domestik masih saling tarik-menarik, membuat ruang penguatan indeks diprediksi relatif terbatas dalam jangka pendek.

Pada penutupan perdagangan sebelumnya, IHSG tercatat kembali melemah cukup signifikan. Indeks turun sebesar 2,08 persen dan parkir di level 7.935. Meski demikian, tekanan jual tidak sepenuhnya mendominasi karena investor asing justru membukukan net buy yang cukup besar, yakni senilai Rp 774,5 miliar. Kondisi ini menunjukkan masih adanya minat selektif pada saham-saham tertentu.

Tekanan Sentimen Global dan Domestik Masih Membayangi

Pelemahan IHSG pada perdagangan terakhir tidak terjadi tanpa sebab. Salah satu faktor utama yang menekan pasar adalah perubahan sentimen risiko atau risk off. Situasi ini dipicu oleh keputusan Moody’s Ratings yang menurunkan outlook kredit Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Langkah tersebut langsung memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek ekonomi ke depan.

Selain faktor eksternal tersebut, sentimen domestik juga ikut berperan. Sejumlah rilis data ekonomi dalam negeri, seperti data penjualan ritel Indonesia, turut menjadi perhatian investor. Data-data tersebut dinilai memberikan gambaran tentang daya beli masyarakat, yang pada akhirnya berpengaruh pada kinerja emiten dan pergerakan pasar saham secara keseluruhan.

Kombinasi sentimen global dan domestik inilah yang membuat pergerakan IHSG cenderung tertahan. Investor lebih memilih bersikap wait and see sambil mencermati perkembangan lanjutan dari sisi fundamental maupun teknikal.

Pandangan Teknis IHSG Menurut Analis

Dari sisi teknikal, IHSG dinilai telah mendekati area penting. BRI Danareksa Sekuritas dalam ulasannya menyebutkan bahwa IHSG saat ini berada di level support krusial pada kisaran 7.820 hingga 7.920. Area ini menjadi penentu apakah indeks mampu bertahan atau justru melanjutkan koreksi.

“IHSG secara teknikal telah berada di level support pentingnya pada 7.820-7.920 dan akan diproyeksikan bergerak terbatas dengan resistance terdekat di level 8.100,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam ulasan mereka, Senin, 9 Februari 2026.

Dengan proyeksi tersebut, ruang gerak IHSG dinilai masih sempit. Selama belum mampu menembus area resistance terdekat, potensi penguatan dinilai terbatas dan rawan berbalik arah jika tekanan jual kembali meningkat.

Respons Pasar Terhadap Dinamika Global

Di tengah tekanan yang dialami pasar domestik, kondisi bursa global justru memberikan sinyal yang berbeda. Pada perdagangan terakhir, indeks-indeks utama Wall Street ditutup di zona hijau. Dow Jones Industrial Average menguat 2,47 persen ke level 50.115,6.

Indeks S&P 500 juga mencatatkan penguatan sebesar 1,97 persen dan ditutup di level 6.932,3. Sementara itu, indeks Nasdaq menguat 2,18 persen ke posisi 23.031,2. Penguatan ini menunjukkan adanya optimisme di pasar global, meski dampaknya ke pasar domestik belum sepenuhnya terasa.

Perbedaan arah pergerakan antara pasar global dan domestik ini membuat investor cenderung lebih selektif. Alih-alih masuk secara agresif, pelaku pasar memilih fokus pada saham-saham dengan potensi teknikal yang relatif lebih kuat.

Saham PANI Dinilai Berpeluang Rebound

Dalam kondisi IHSG yang diproyeksikan bergerak terbatas, BRI Danareksa Sekuritas memberikan sejumlah rekomendasi saham untuk strategi trading. Salah satu saham yang dijagokan adalah PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk atau PANI.

Pergerakan saham PANI saat ini dinilai berada di area support pada kisaran 8.050 hingga 8.700. Di area tersebut, terlihat adanya indikasi akumulasi oleh pelaku pasar. Kondisi ini membuka peluang terjadinya technical rebound dalam waktu dekat.

Jika skenario rebound terjadi, saham PANI diproyeksikan memiliki target resistance di kisaran 9.325 hingga 10.700. Namun demikian, pergerakan saham ini tetap perlu dicermati dengan disiplin manajemen risiko, mengingat kondisi pasar secara umum masih cenderung fluktuatif.

BRIS dan Pola Reversal yang Mulai Terbentuk

Saham lain yang masuk dalam rekomendasi adalah PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BRIS. Secara teknikal, pergerakan saham BRIS disebut memiliki pola double bottom. Saat ini, saham tersebut tengah mengalami fase pullback setelah membentuk pola tersebut.

Selama pergerakan harga BRIS mampu bertahan di atas area neckline pada kisaran 2.290 hingga 2.350, potensi pembalikan arah atau reversal masih terbuka. Dengan skenario tersebut, saham BRIS berpeluang bergerak menuju area resistance di kisaran 2.490 hingga 2.580.

Pola teknikal ini menjadi salah satu alasan BRIS dinilai menarik untuk dicermati, terutama bagi investor atau trader yang mengandalkan analisis grafik dalam pengambilan keputusan.

ACES Masih Menjaga Tren Positif

Selain PANI dan BRIS, saham PT Ace Hardware Indonesia Tbk atau ACES juga masuk dalam daftar saham pilihan. Pergerakan saham ACES dinilai masih berada dalam tren bullish. Saham ini bahkan mampu melakukan rebound dari garis rata-rata pergerakan jangka panjang atau MA200.

Kondisi tersebut mencerminkan bahwa minat beli pada saham ACES masih cukup terjaga. Apabila saham ini mampu kembali menembus level resistance di 1.255, maka peluang penguatan lanjutan menuju area 1.280 hingga 1.310 dinilai terbuka.

Meski demikian, pelaku pasar tetap disarankan untuk mencermati pergerakan harga secara disiplin. Dalam kondisi IHSG yang diproyeksikan bergerak terbatas, potensi volatilitas tetap ada dan perlu diantisipasi dengan strategi yang terukur.

Secara keseluruhan, perdagangan IHSG pada Senin, 9 Februari 2026 diperkirakan berlangsung dengan ruang gerak yang terbatas. Di tengah tekanan sentimen dan kondisi teknikal indeks, strategi selektif pada saham-saham tertentu seperti PANI, BRIS, dan ACES dinilai lebih relevan dibandingkan pendekatan agresif.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index