JAKARTA - Pembukaan perdagangan valuta asing di akhir pekan kembali diwarnai tekanan pada mata uang Garuda.
Rupiah langsung bergerak di zona negatif sejak awal transaksi, mencerminkan masih kuatnya sentimen eksternal yang membayangi pasar keuangan domestik. Pergerakan ini membuat pelaku pasar cermat mencermati arah dolar AS dan respons kebijakan global.
Pada Jumat, 6 Februari 2026, rupiah belum mampu keluar dari tekanan yang sudah terbentuk sejak beberapa hari sebelumnya. Pelemahan ini menjadi perhatian karena terjadi beriringan dengan penguatan indeks dolar AS, yang kembali menarik minat investor global terhadap aset safe haven.
Rupiah Melanjutkan Tren Pelemahan Di Pembukaan
Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan terakhir pekan ini. Mengacu pada data Refinitiv, rupiah pagi ini berada di level Rp16.850 per dolar AS atau terdepresiasi 0,15 persen. Pelemahan tersebut menandai kelanjutan tekanan yang sudah terjadi sejak sesi perdagangan sebelumnya.
Pada penutupan Kamis, rupiah tercatat melemah 0,36 persen ke posisi Rp16.825 per dolar AS. Level ini menjadi yang terlemah dalam dua pekan terakhir, menunjukkan tekanan yang cukup konsisten pada mata uang domestik. Kondisi tersebut membuat pasar semakin berhati-hati memasuki akhir pekan.
Dolar AS Kembali Perkasa Di Pasar Global
Di saat rupiah melemah, indeks dolar AS justru menunjukkan penguatan. Pada pukul 09.00 WIB, indeks dolar AS atau DXY tercatat naik 0,04 persen ke level 97,865. Penguatan ini sekaligus memperpanjang tren positif dolar dalam beberapa waktu terakhir.
Kenaikan DXY mencerminkan meningkatnya minat pelaku pasar terhadap aset berdenominasi dolar AS. Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, dolar masih dipandang sebagai aset lindung nilai utama. Kondisi ini secara otomatis menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sentimen Global Dorong Sikap Hati Hati Investor
Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan masih dipengaruhi oleh sejumlah sentimen eksternal. Penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang mendorong investor bersikap lebih defensif. Ketika minat terhadap dolar meningkat, tekanan terhadap mata uang lain pun sulit dihindari.
Selain itu, dolar AS mendapat tambahan sentimen positif setelah Presiden AS Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai kandidat ketua Federal Reserve pekan lalu. Pasar menilai Warsh cenderung tidak mendorong pemangkasan suku bunga secara agresif, sehingga memberikan kepastian arah kebijakan moneter AS.
Tekanan Pasar Saham Ikut Menopang Dolar
Sikap risk-off di pasar global turut memperkuat posisi dolar AS. Tekanan di pasar saham, khususnya saham teknologi, membuat investor lebih berhati-hati. Kekhawatiran terhadap belanja besar di sektor kecerdasan buatan dan dampaknya terhadap kinerja perusahaan menjadi salah satu pemicu utama.
Di tengah kondisi tersebut, dolar AS tetap diminati meski imbal hasil US Treasury cenderung menurun. Penurunan yield terjadi setelah sejumlah data ekonomi mengarah pada pasar tenaga kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan, menjelang rilis data payrolls Januari pekan depan.
Outlook Moody’s Tambah Tekanan Pada Rupiah
Dari dalam negeri, sentimen lembaga pemeringkat turut menjadi perhatian pasar. Moody’s menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif pada Kamis, 5 Februari 2026. Penyesuaian ini didorong oleh penilaian terhadap menurunnya kepastian dan prediktabilitas kebijakan, terutama dari sisi tata kelola.
Moody’s menilai kondisi tersebut berpotensi menekan kredibilitas kebijakan dan kinerja ekonomi jika berlanjut. Lembaga pemeringkat itu juga menyoroti meningkatnya ketidakpastian kebijakan yang dinilai telah melemahkan kepercayaan investor, tercermin dari volatilitas pasar saham dan nilai tukar.
Bank Indonesia Tegaskan Fundamental Tetap Kuat
Menanggapi penurunan outlook tersebut, Bank Indonesia menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional tetap solid. Mengacu pada publikasi Bank Indonesia, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan penyesuaian outlook Moody’s tidak mencerminkan pelemahan kondisi ekonomi Indonesia secara mendasar.
Perry menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 mencapai 5,39 persen. Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen sepanjang 2025, menunjukkan kinerja yang relatif stabil di tengah tantangan global.
Inflasi Dan Stabilitas Keuangan Tetap Terjaga
Selain pertumbuhan ekonomi, indikator makro lainnya juga dinilai masih berada dalam kondisi yang terkendali. Inflasi tercatat sebesar 2,92 persen dan tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan. Bank Indonesia juga terus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan.
Stabilitas sistem keuangan nasional tuut terjaga dengan baik. Likuiditas perbankan dinilai memadai, permodalan bank berada pada level yang kuat, serta risiko kredit relatif rendah. Faktor-faktor ini menjadi penopang utama ketahanan ekonomi domestik di tengah tekanan global.
Pasar Masih Waspada Hingga Akhir Pekan
Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih fluktuatif hingga akhir pekan. Pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan dolar AS, kebijakan moneter global, serta respons otoritas dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.
Meski tekanan masih terasa, fundamental ekonomi yang solid diharapkan mampu menjadi bantalan bagi rupiah. Namun, dalam jangka pendek, sentimen eksternal diperkirakan tetap menjadi faktor dominan yang menentukan arah pergerakan nilai tukar.