JAKARTA - Awal tahun kerap dianggap sebagai masa yang relatif aman dari ancaman penyakit musiman.
Namun, di balik aktivitas masyarakat yang kembali padat setelah pergantian tahun, potensi penyakit menular justru perlu mendapat perhatian lebih. Salah satunya adalah Demam Berdarah Dengue atau DBD, yang masih menjadi ancaman nyata bagi warga Kota Bandung dan sekitarnya di awal 2026.
Pemerintah Kota Bandung mengingatkan masyarakat agar tidak terlena oleh tren penurunan kasus DBD dalam beberapa tahun terakhir. Meski data menunjukkan kondisi yang sempat membaik, pola epidemi penyakit ini justru menuntut kewaspadaan lebih dini. Siklus DBD yang fluktuatif membuat potensi lonjakan kasus tetap terbuka, terutama memasuki musim hujan.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan bahwa keberhasilan menekan angka kasus sebelumnya tidak boleh membuat masyarakat abai. Menurutnya, kewaspadaan sejak dini menjadi kunci utama untuk mencegah lonjakan kasus yang lebih besar di kemudian hari.
Siklus penyakit yang perlu diantisipasi sejak dini
Secara epidemiologis, DBD dikenal memiliki pola siklus yang berulang. Ketika terjadi penurunan kasus selama beberapa tahun berturut-turut, biasanya akan diikuti dengan fase peningkatan pada periode berikutnya. Kondisi inilah yang saat ini menjadi perhatian pemerintah daerah.
Farhan menjelaskan bahwa tren penurunan selama tiga tahun terakhir justru menjadi sinyal agar masyarakat lebih waspada. Ia memperkirakan fase kenaikan kasus dapat mulai terjadi sejak Januari 2026 dan berlanjut pada bulan-bulan berikutnya jika langkah pencegahan tidak diperkuat.
Kesadaran masyarakat memegang peranan penting dalam memutus rantai penularan. Tanpa partisipasi aktif warga, upaya pengendalian yang dilakukan pemerintah tidak akan memberikan hasil maksimal.
Jangan sepelekan gejala awal demam
Salah satu pesan utama yang terus disampaikan adalah agar masyarakat tidak menyepelekan demam. Farhan mengingatkan bahwa demam tinggi yang berlangsung selama 24 jam dan tidak kunjung turun meski sudah diberi obat penurun panas harus segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan.
Ia menegaskan bahwa keterlambatan penanganan dapat berakibat fatal. Terlebih jika demam disertai gejala lain seperti sakit kepala hebat, nyeri sendi, muncul bintik merah di kulit, muntah, atau mimisan. Gejala-gejala tersebut bisa menjadi tanda bahaya terjadinya pendarahan di dalam tubuh.
Deteksi dini menjadi langkah krusial karena hingga saat ini virus dengue hanya dapat dilawan dengan daya tahan tubuh. Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang pasien untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Akses pemeriksaan dan pemantauan pasien
Untuk mendukung deteksi dini, Farhan memastikan bahwa pemeriksaan tes NS1 tersedia secara gratis di seluruh puskesmas. Tes ini berfungsi untuk mengetahui secara cepat apakah demam yang dialami seseorang disebabkan oleh virus dengue atau bukan.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan positif DBD dan pasien membutuhkan perawatan lanjutan, dokter akan segera merujuk ke rumah sakit. Namun, apabila kondisi pasien masih memungkinkan untuk rawat jalan, pemantauan ketat tetap harus dilakukan di rumah sesuai arahan tenaga medis.
Pemantauan ini penting untuk mengantisipasi perubahan kondisi yang bisa terjadi secara cepat. Dengan langkah tersebut, risiko komplikasi berat dapat ditekan sejak awal.
Risiko penularan merata di seluruh wilayah
Hasil pemantauan pemerintah daerah menunjukkan bahwa tidak ada satu pun kecamatan di Kota Bandung yang benar-benar bebas dari DBD. Artinya, risiko penularan masih ada di seluruh wilayah kota, tanpa terkecuali.
Kondisi ini menuntut kewaspadaan kolektif dari seluruh lapisan masyarakat. Setiap lingkungan, baik padat penduduk maupun kawasan perumahan, memiliki potensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti jika kebersihan tidak terjaga.
Kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan menjadi faktor penting dalam menekan penyebaran penyakit ini.
Langkah pencegahan melalui kebiasaan sehari-hari
Dalam upaya pencegahan, Farhan kembali menekankan pentingnya penerapan 3M Plus. Menguras dan menyikat tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas harus dilakukan secara rutin.
Ia mengingatkan bahwa menguras saja tidak cukup. Telur nyamuk dapat menempel di dinding bak, sehingga perlu disikat agar benar-benar bersih. Bahkan genangan air dalam jumlah kecil sekalipun bisa menjadi tempat nyamuk bertelur.
Langkah Plus dalam 3M juga mencakup penggunaan obat nyamuk, pemasangan kelambu, serta upaya pencegahan lain yang dapat dilakukan di lingkungan rumah.
Fogging bukan solusi utama sembarangan
Terkait fogging atau pengasapan, Farhan menegaskan bahwa langkah tersebut tidak dilakukan secara sembarangan. Fogging hanya diterapkan jika hasil kajian puskesmas dan kelurahan menyatakan suatu wilayah sebagai daerah endemis.
Ia menekankan bahwa fogging menggunakan pestisida kuat yang tidak boleh disebarkan tanpa alasan jelas. Oleh karena itu, pencegahan berbasis kebersihan lingkungan tetap menjadi langkah paling efektif dan aman.
DBD, menurut Farhan, bukan penyakit ringan yang bisa diabaikan. Jika terlambat ditangani, virus dengue dapat menyebabkan pendarahan berat hingga menyerang organ vital seperti saluran pencernaan dan otak. Pesan ini bukan untuk menakuti, melainkan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat agar tidak menganggap remeh setiap gejala demam.