JAKARTA - Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, menegaskan keyakinannya bahwa Pancasila sebagai dasar negara Indonesia akan tetap kokoh dan bertahan sampai hari kiamat.
Pernyataan ini disampaikan saat Muzani berbicara dalam acara Liga Muslim Dunia di Makkah, Arab Saudi, Kamis lalu. Ia menekankan bahwa keberhasilan Indonesia mempertahankan kemerdekaan selama lebih dari delapan dekade tidak lepas dari peran Pancasila sebagai fondasi bangsa.
“Kita meyakini bahwa Indonesia bisa bertahan selama 80 tahun merdeka ini karena Pancasila dan akan terus bertahan sampai yaumul qiyamah,” kata Muzani dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta. Pernyataan ini sekaligus menegaskan posisi Pancasila sebagai landasan yang tidak hanya historis, tetapi juga relevan bagi masa depan bangsa.
Pancasila Sebagai Landasan Kebebasan Beragama
Muzani menekankan bahwa Pancasila yang dirumuskan oleh para pendahulu bangsa menjadi pilar utama untuk memberikan kebebasan beragama dan menjalankan ibadah bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan landasan ini, setiap warga negara memiliki hak untuk memeluk dan menjalankan keyakinannya secara bebas.
Indonesia, sebagai negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, menurut Muzani, harus menjadi contoh dalam hal toleransi dan persatuan dalam keberagaman. Hal ini penting untuk menegaskan bahwa identitas sebagai negara mayoritas Muslim tidak bertentangan dengan prinsip kebebasan dan kerukunan antarumat beragama.
Keberagaman Nusantara sebagai Teladan Toleransi
Indonesia memiliki lebih dari 300 suku etnis, lebih dari 700 bahasa daerah, dan ribuan pulau yang tersebar di seluruh nusantara. Dalam konteks ini, Muzani menekankan bahwa negara mampu menjaga persatuan meskipun memiliki keberagaman yang sangat kompleks.
“Karena itu di tengah keimanan yang berbeda kita harus menemukan kerukunan, persatuan dan persahabatan,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa sikap saling menghormati perbedaan adalah ajaran yang diajarkan oleh Rasulullah dan menjadi prinsip yang diterapkan secara nyata di Indonesia.
Dukungan terhadap Persatuan Umat Islam Dunia
Selain membahas soal Pancasila, Muzani juga memberikan dukungan terhadap platform digital Minhaj yang diluncurkan oleh Liga Muslim Dunia. Platform ini dianggap sebagai sarana penting untuk menyamakan pemahaman mengenai Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi kedamaian dan harmoni bagi seluruh alam semesta.
“Jumlah umat Islam di dunia lebih dari 2 miliar. Platform digital ini adalah ikhtiar penting yang dilakukan Dr Al Issa (Sekjen Liga Muslim Dunia) untuk terus menjaga kepentingan bersama umat Islam serta persatuan dalam perbedaan,” kata Muzani.
Ia menekankan bahwa teknologi digital menjadi alat strategis dalam menjaga ukhuwah dan memfasilitasi kerja sama umat Islam secara global.
Persahabatan dan Persatuan sebagai Kunci Harmoni
Dalam pidatonya, Muzani menekankan pentingnya menjaga persahabatan, persaudaraan, dan persatuan antarumat Islam di seluruh dunia. Ia menilai bahwa perbedaan keyakinan dan budaya bukan penghalang, melainkan justru menjadi kekuatan untuk mempererat ukhuwah antarnegara dan umat.
Dengan menjaga persatuan, kata Muzani, keberagaman tidak akan memecah, melainkan memperkaya dan memperkuat bangsa. Pancasila menjadi fondasi yang mampu menjaga harmoni di tengah perbedaan, sehingga Indonesia bisa terus menjadi contoh dunia dalam hal toleransi dan kerukunan.
Muzani juga menekankan bahwa peran Pancasila bukan hanya sebagai simbol negara, tetapi sebagai pedoman praktis yang mempengaruhi setiap kebijakan, baik di bidang sosial, politik, maupun pendidikan. Fondasi ini membuat Indonesia tetap stabil dan mampu menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal.
Ia mengajak semua pihak untuk terus memperkuat pemahaman tentang nilai-nilai Pancasila, terutama generasi muda, agar semangat persatuan dan toleransi tetap hidup. Pendidikan, dialog antarumat beragama, dan pengembangan platform digital menjadi instrumen penting untuk menanamkan nilai-nilai ini di tengah masyarakat modern.
Dalam konteks global, Muzani menekankan bahwa Indonesia memiliki tanggung jawab moral sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar untuk menjadi teladan kerukunan dan persatuan.
Dengan demikian, Pancasila tidak hanya relevan untuk kepentingan domestik, tetapi juga memiliki makna strategis dalam diplomasi dan hubungan internasional.
Akhir kata, Ketua MPR RI mengingatkan bahwa menjaga Pancasila berarti menjaga keutuhan bangsa, harmoni sosial, dan persatuan umat. Indonesia sebagai negara yang beragam tetap bisa bersatu dan menjadi contoh bagi dunia, asalkan nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Pancasila terus diperkuat dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.