Tingkatkan Produksi, BRIN Ciptakan Inkubator Telur Ikan Nila Efisien

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:41:01 WIB
BRIN Kembangkan Inkubator Lokal untuk Percepat Pembenihan Ikan Nila [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang mengembangkan teknologi inkubator telur ikan nila berbentuk tabung yang menggunakan material lokal guna meningkatkan produktivitas secara lebih efisien.

"Inkubator ini berfungsi memperpendek waktu pengeraman telur oleh induk betina. Dengan alat ini, telur ikan nila dapat menetas dalam waktu kurang dari tujuh hari. Dengan demikian, frekuensi pematangan gonad dan pemijahan berikutnya pada induk bisa dipercepat," kata Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Mohamad Soleh dalam keterangan di Jakarta, Rabu.

Soleh menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas benih merupakan langkah vital untuk mendukung pengembangan budi daya ikan nila yang memiliki prospek menjanjikan, mengingat tingginya permintaan pasar yang harus diimbangi dengan ketersediaan benih.

Ia memaparkan bahwa ikan nila memiliki perilaku pemijahan khas, di mana induk betina mengerami telur di dalam mulutnya dalam waktu lama hingga menetas. Karakteristik ini mendasari pengembangan teknologi penetasan buatan untuk efisiensi produksi. 

Keunggulan inkubator tabung ini meliputi kapasitas massal, daya tetas tinggi, larva yang seragam, kepraktisan operasional, serta pengelolaan media yang optimal.

"Keberhasilan teknologi inkubasi telur ini tetap bertumpu pada ketelitian pembenih ikan. Ketepatan seleksi pada tingkat telur terbuahi dengan pengamatan telur yang telah berwarna kuning kecoklatan menjadi salah satu faktor penentu utama perolehan daya tetas yang tinggi. Daya tetas telur tinggi serta keseragaman ukuran larva inilah yang akan menjadi kunci untuk mendongkrak produktivitas benih secara nasional," ucap Soleh.

Ia juga menekankan pentingnya penggunaan benih jantan (all male) untuk meningkatkan hasil produksi dan profitabilitas. Produksi benih jantan dilakukan melalui perlakuan temperatur tinggi (thermal shock) secara periodik, dimulai sejak larva menetas hingga siap tebar.

Soleh menambahkan bahwa budi daya ikan nila didukung oleh lahan yang luas, teknologi yang mapan, benih yang mudah didapat, serta ketahanan ikan terhadap fluktuasi kualitas air. Dengan siklus panen singkat 4–6 bulan dan risiko rendah, bisnis ini sangat kompetitif.

"Usaha budi daya ikan nila ini cukup kompetitif bila disandingkan dengan komoditas ikan lainnya, seperti ikan gurami, mas, tawes, dan nilem. Harga jual bisa mencapai Rp30.000 per kilogram, permintaan pasar terbuka, profit bisa mencapai 20-40 persen, maka usaha ini cukup menjanjikan. Demikian juga periode budidayanya yang relatif pendek dapat membantu perputaran modal lebih cepat," tutur Mohamad Soleh.

Terkini