MYOR Fokus Jual Produk Single Pack Hadapi Tekanan Daya Beli

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:49:31 WIB
PT Mayora Indah Tbk (MYOR). (Foto: NET)

JAKARTA - Emiten di sektor Fast Moving Consumer Goods (FMCG), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), tetap memelihara pandangan optimistis terkait masa depan bisnisnya di paruh kedua tahun 2026. 

Pihak manajemen mengungkapkan bahwa memasuki awal semester dua ini, belum terlihat adanya pergeseran tren permintaan yang signifikan jika dikomparasikan dengan semester pertama.

Kendati demikian, perusahaan tidak menampik adanya tekanan pada kemampuan beli masyarakat yang memicu konsumen menjadi lebih cermat terhadap harga serta mengubah kebiasaan berbelanja mereka. 

Guna menyiasati situasi tersebut, perseroan menerapkan langkah taktis dengan menggenjot penjualan produk dalam kemasan tunggal (single pack).

“Pada umumnya tekanan daya beli ini membuat konsumen lebih sensitif terhadap harga dan dapat mengubah preferensi konsumen, mereka condong untuk membeli produk-produk single pack dengan harga yang lebih terjangkau,” ujar manajemen Mayora, Senin (6/7/2026).

Selaras dengan dinamika yang berkembang, Mayora Indah memilih untuk tidak merombak target performa yang telah dicanangkan sejak awal tahun. Pihak manajemen konsisten memegang panduan target penjualan maupun keuntungan untuk periode 2026. 

Berdasarkan catatan sebelumnya, MYOR membidik angka penjualan di nominal Rp 41,85 triliun serta perolehan laba bersih senilai Rp 3,41 triliun sepanjang tahun ini.

Mengenai aspek strategi pemasaran, MYOR memutuskan untuk tidak menaikkan harga jual di tengah tingginya sensitivitas pasar. Langkah ini berhasil ditopang oleh pergerakan harga bahan baku yang saat ini cenderung lebih miring ketimbang tahun sebelumnya.

Berdasarkan penjelasan manajemen, situasi harga bahan baku saat ini masih memberikan ruang yang menguntungkan bagi margin keuntungan perusahaan. Mengambil contoh komoditas kakao, harganya per Juni 2026 memang sempat merangkak naik akibat tingginya intensitas hujan yang menggerus volume panen. 

Namun, jika disandingkan dengan pergerakan tahun lalu, nominal harga di bulan Juni tersebut masih berada di bawah rata-rata sepanjang tahun 2025.

Sementara untuk komoditas kopi yang kini tengah memasuki periode musim panen raya, pihak manajemen mengamankan pasokan stok yang melimpah guna memenuhi proses manufaktur ke depan.

“Dari sisi harga, cukup stabil, meski ada sedikit kenaikan karena di Juni ini curah hujan tinggi, akan tetapi berdasarkan forecast, cuaca kering itu akan terjadi bulan Juli yang mana itu bagus untuk panen mendatang. Sehingga kami expect bahwa harga akan stabil,” jelas Manajemen.

Di samping itu, MYOR turut mengimplementasikan bauran strategi lain, seperti meluncurkan produk dengan harga yang ramah di kantong, memperluas jangkauan pasar, hingga menjalankan aktivitas promosi yang lebih tersegmentasi.

Di sisi lain, mengenai alokasi belanja modal atau capital expenditure (Capex), MYOR menegaskan belum ada pergeseran dari proyeksi investasi tahun ini. 

Penyerapan dana belanja modal hingga paruh kedua tahun 2026 ini diklaim masih bergulir selaras dengan cetak biru yang dipersiapkan. Ke depannya, MYOR memandang faktor makroekonomi yang berisiko menekan tingkat konsumsi warga sebagai tantangan utama yang wajib diantisipasi.

Terkini