Cetak Sawah 137 Ribu Ha di Papua untuk Swasembada Pangan

Sabtu, 04 Juli 2026 | 16:35:31 WIB
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. (Foto: NET)

JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengomandoi jalannya program cetak sawah sekaligus optimalisasi lahan seluas 137 ribu hektare di kawasan Papua. Langkah ini diambil untuk memperkokoh swasembada pangan serta mendongkrak taraf hidup warga setempat.

Kegiatan menanam padi memanfaatkan kecanggihan teknologi pertanian kekinian, salah satunya drone, dilangsungkan bersama para petani di Desa Waninggap Kai, Kecamatan Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Sabtu (4/7/2026).

"Seluruh program cetak sawah dan optimalisasi lahan yang kini berjalan di Papua Selatan sepenuhnya diperuntukkan bagi masyarakat, khususnya putra-putri asli Papua, sebagai bagian dari percepatan swasembada pangan nasional," kata Mentan di Merauke.

Wilayah Papua sekarang ditempatkan sebagai salah satu daerah prioritas untuk ketahanan pangan nasional. Sampai tahun 2026, pemerintah tercatat telah menggarap 83.030 hektare cetak sawah baru serta 54.399 hektare program optimalisasi lahan di seluruh bumi Papua.

Dari total luasan itu, Papua Selatan memegang porsi pengembangan paling masif dengan rincian 48.934 hektare cetak sawah dan 53.499 hektare optimalisasi lahan, yang berarti mendekati 100 ribu hektare area produksi pangan.

Di sisi lain, perluasan di provinsi-provinsi tetangga mencakup Papua seluas 24.248 hektare, Papua Barat Daya sebesar 4.675 hektare, Papua Barat sebanyak 3.373 hektare, dan Papua Pegunungan menjangkau 2.000 hektare. Besarnya gairah warga lokal juga tercermin dari tingginya permohonan untuk pembukaan lahan sawah anyar di pelbagai titik di Papua.

Mentan menekankan bahwa agenda ini sama sekali tidak merampas hak milik warga, melainkan sengaja dirancang demi mengerek tingkat kesejahteraan masyarakat adat serta para petani di Papua.

“Program ini milik rakyat, milik masyarakat putra daerah Papua. Jangan ada yang mengatasnamakan masyarakat mengatakan tidak setuju, karena faktanya setelah program berjalan pendapatan masyarakat naik hingga 300 persen. Bahkan sekarang masyarakat justru meminta tambahan cetak sawah,” tegas Amran.

Ia memaparkan bahwa pihak eksekutif akan terus menggulirkan proyek kawasan pangan di Papua ini agar selaras dengan apa yang diperlukan warga. 

Malahan, sewaktu mendapati laporan perihal tersendatnya pasokan bahan bakar solar untuk menggerakkan mesin-mesin tani, Mentan Amran seketika berkontak dengan pihak Pertamina supaya kebutuhan para petani lekas dipasok.

“Begitu mendapat laporan kekurangan solar, kami langsung berkoordinasi dengan Pertamina dan kuotanya siap ditambah. Yang penting kebutuhan petani terpenuhi agar aktivitas di lapangan tidak terganggu,” ujarnya.

Agenda pembenahan sektor pertanian di Merauke pun mulai membuahkan hasil konkrit. Indeks pertanaman merangkak naik dari angka 1,05 ke kisaran 1,82–2,00, yang dibarengi dengan melonjaknya produktivitas padi. Efek positifnya, hasil produksi beras, luasan panen, hingga pendapatan riil petani terus bergerak positif.

Mentan mengutarakan bahwa negara tidak sekadar memetakan sawah baru, namun turut mengonstruksi ekosistem pertanian modern lewat penyaluran alat mesin pertanian, benih berkualitas tinggi, jaringan irigasi, pembentukan brigade pangan, sampai supervisi ketat kepada para petani.

“Sekarus petani Merauke sudah mampu mengoperasikan alat pertanian modern. Teknologi yang digunakan negara-negara maju kini juga digunakan di Papua untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani,” katanya.

Mentan Amran menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk terus melebarkan jangkauan wilayah pangan di Papua sebagai bagian integral dari strategi mengukuhkan ketahanan pangan di tingkat nasional.

Ia menilai, keseluruhan skema program ini dibangun supaya faedahnya bermuara kembali pada warga Papua selaku pemilik ulayat sekalian motor utama roda pembangunan tani di areanya.

Pada kesempatan yang sama, Penjabat Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo mengemukakan bahwa Kabupaten Merauke berperan sebagai pilar utama penyokong ketahanan pangan di Tanah Papua.

Dari total kisaran 84 ribu hektare agenda cetak sawah di seantero Papua, di atas 48 ribu hektare di antaranya berada di Kabupaten Merauke. Hal senada berlaku untuk program optimalisasi lahan, di mana sekitar 53 ribu hektare dari keseluruhan 54 ribu hektare berlokasi di Merauke.

“Lebih dari separuh program cetak sawah di Tanah Papua dan hampir seluruh program optimalisasi lahan berada di Merauke. Ini menunjukkan Merauke menjadi pusat pengembangan pangan di Tanah Papua,” ujarnya.

Ia menggaransi bahwa jajaran Pemerintah Provinsi Papua Selatan siap mengawal dan menyukseskan tiap Proyek Strategis Nasional, utamanya pada sektor pangan, yang selaras dengan implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto demi mendongkrak stabilitas ekonomi sekaligus mewujudkan swasembada pangan nasional.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Menteri Pertanian karena program ini memberi manfaat besar bagi ekonomi masyarakat. Kami siap mendukung penuh agar Papua Selatan menjadi lumbung pangan, bahkan ke depan mampu menjadi pengekspor beras,” katanya.

Terkini