Harga LNG Turun, ASAKI Optimistis Daya Saing Keramik Meningkat

Senin, 29 Juni 2026 | 21:31:01 WIB
Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto. (Foto: NET)

JAKARTA - Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) optimistis bahwa langkah pemerintah memangkas harga liquefied natural gas (LNG) bagi sektor industri bakal memicu gairah pelaku usaha untuk mendongkrak volume produksi serta memperkokoh daya saing manufaktur domestik. 

Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto menyebutkan bahwa regulasi ini menghadirkan kepastian dalam berbisnis sekaligus menstimulasi ruang ekspansi bagi industri keramik di tanah air.

"Kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah atas perhatian dan langkah cepat yang telah diambil. Kebijakan ini memberikan kepastian bagi dunia usaha, menjaga daya saing industri nasional, serta melindungi keberlangsungan lapangan kerja," kata Edy dalam keterangan yang sudah dikonfirmasi di Jakarta, Senin (29/6/2026).

Edy menjelaskan bahwa keputusan ini menjadi angin segar bagi sektor industri keramik yang belakangan tertekan oleh tingginya beban biaya energi. Penurunan harga LNG dari yang semula berada di angka 20-23 dolar AS per MMBTU kini dipangkas menjadi 13 dolar AS per MMBTU. 

Lewat penyesuaian ini, rata-rata pengeluaran gas untuk industri keramik diproyeksikan menyusut ke level 9,5-10 dolar AS per MMBTU, atau berkontribusi sekitar 38-40 persen dari keseluruhan biaya produksi.

Penyusutan beban biaya tersebut dinilai sangat krusial demi mempertahankan keberlanjutan operasional pabrik sekaligus menekan potensi pengurangan karyawan ataupun pemutusan hubungan kerja (PHK). 

Kendati demikian, ASAKI menaruh harapan agar pemerintah bersedia mengatrol kembali porsi alokasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) hingga menyentuh angka 70-80 persen, sebagaimana yang pernah diimplementasikan pada periode sebelumnya.

Strategi tersebut dipandang vital guna mempertebal daya tahan industri domestik di tengah sengitnya rivalitas regional serta masifnya gempuran produk impor, khususnya yang berasal dari China dan India. 

Di samping menyokong keberlanjutan industri, regulasi energi yang lebih kompetitif ini juga dipercaya mampu menghasilkan efek berganda (multiplier effect) yang positif bagi konstelasi perekonomian nasional.

Berkat adanya kepastian pasokan gas serta iklim investasi yang kian kondusif, industri keramik nasional merasa yakin dapat mengeksekusi agenda ekspansi mereka untuk lini masa 2025-2029. 

Target besar tersebut mencakup perluasan kapasitas produksi hingga kisaran 80 juta meter persegi, penggeloran investasi baru senilai Rp12 triliun, serta peluang penciptaan lapangan kerja bagi sekitar 6.000 tenaga kerja baru.

Pada kesempatan sebelumnya, Pemerintah menyepakati penurunan harga liquefied natural gas untuk sektor industri menjadi 13 dolar AS per MMBTU dari tarif awal di kisaran 20-23 dolar AS per MMBTU. 

Langkah strategis ini diambil demi memproteksi daya saing industri dalam negeri sekaligus mengantisipasi gelombang PHK. Keputusan ini lahir setelah pemerintah menjaring aspirasi dari para pelaku industri yang terbebani oleh lonjakan harga gas global.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat menggelar konferensi pers di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin, menegaskan bahwa ketetapan tersebut merupakan buah dari koordinasi berkala antara pihak eksekutif dan DPR guna merespons dinamika geopolitik global yang berimbas pada sektor gas nasional.

Halaman :

Terkini