BNI Perkuat Penanganan Stunting di Pangalengan Lewat Desa Sehat

Sabtu, 20 Juni 2026 | 20:52:32 WIB
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI. (Foto: NET)

JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI memperkuat aksi nyata dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui inisiatif Program Desa Sehat Bebas Stunting yang berlokasi di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sasarannya mencakup empat desa, yaitu Sukamanah, Banjarsari, Wanasuka, dan Margamukti.

Aksi yang menjadi bagian dari agenda BNI Berbagi ini dijalankan melalui kemitraan dengan Pemerintah Kecamatan Pangalengan serta Puskesmas Sukamanah. 

Melalui inisiatif ini, BNI memberikan bantuan gizi serta edukasi kesehatan bagi kelompok rentan, yang meliputi anak berisiko stunting, ibu hamil dengan kondisi kekurangan energi kronis (KEK), serta para remaja putri.

Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menyatakan bahwa Program Desa Sehat Bebas Stunting merupakan wujud kontribusi perseroan dalam mendukung agenda peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya melalui intervensi kesehatan dan gizi masyarakat.

“Program Desa Sehat Bebas Stunting ini merupakan wujud kontribusi BNI dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya kelompok yang rentan mengalami masalah gizi. Program ini menjadi bagian dari komitmen BNI untuk hadir memberikan manfaat yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Okki dalam keterangan tertulis.

Dalam implementasinya, BNI menyalurkan Paket Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pemulihan bagi 65 anak berisiko stunting selama 52 hari berturut-turut. Selain itu, perseroan juga mendistribusikan Paket Nutrisi kepada 12 ibu hamil dengan kondisi KEK selama 60 hari berturut-turut. 

Program ini turut menyasar 50 remaja putri melalui pemberian nutrisi serta tablet tambah darah demi pencegahan stunting sejak dini. Seluruh rangkaian intervensi tersebut akan berlangsung selama tiga bulan dengan pendampingan dan pemantauan berkelanjutan guna memastikan efektivitas program.

Okki memaparkan bahwa penanganan stunting merupakan salah satu prioritas dalam pembangunan nasional. Menurut dia, pencegahan stunting perlu dilakukan sejak dini karena kondisi tersebut dapat menghambat tumbuh kembang anak serta berdampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. 

Kabupaten Bandung dipilih sebagai lokasi program karena masih memerlukan penguatan upaya pencegahan stunting. Berdasarkan data SSGI 2024, prevalensi stunting di wilayah tersebut mencapai 24,1%, angka yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata di Provinsi Jawa Barat.

Selain pemenuhan gizi, Program Desa Sehat Bebas Stunting diarahkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terkait kesehatan keluarga, memperkuat peran posyandu, serta mendorong terciptanya lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. 

BNI memandang bahwa keberhasilan penanganan stunting memerlukan kolaborasi lintas pihak, baik pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha, maupun masyarakat. Oleh karena itu, program ini dirancang menggunakan pendekatan terintegrasi melalui edukasi kesehatan, pendampingan keluarga, dan pemantauan kondisi penerima manfaat.

“Sinergi antara dunia usaha, pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci penting dalam menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas. Berlandaskan semangat melayani sepenuh hati, BNI akan terus memperluas kontribusinya dalam mendukung pencegahan stunting dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat sebagai bagian dari investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi penerus bangsa yang unggul,” kata Okki.

BNI menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas harus dimulai sejak usia dini. Melalui Program BNI Berbagi, perseroan berkomitmen menghadirkan inisiatif sosial yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Terkini