Fokus Uji Teknis B50 KAI untuk Operasional Kereta Api yang Andal

Senin, 15 Juni 2026 | 23:46:31 WIB
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba. (Foto: NET)

JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia (Persero) menitikberatkan pengujian teknis pemakaian bahan bakar biodiesel B50 terhadap kinerja mesin, pemakaian bahan bakar, emisi, hingga ketahanan sarana. 

Hal ini dilakukan demi menjamin aspek keselamatan, keandalan operasional, serta kelancaran layanan transportasi yang berkelanjutan.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menuturkan bahwa peralihan bahan bakar dilakukan secara bertahap melalui koordinasi teknis bersama pemerintah serta lembaga terkait.

"Setiap tahapan perlu diuji agar sesuai dengan karakter operasional kereta api yang memiliki beban, durasi operasi, dan standar keandalan sarana yang tinggi," kata Anne dalam keterangan di Jakarta, Senin (15/6/2026).

KAI mendukung langkah pemerintah dalam memperluas penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.

"Pada saat yang sama, kami memastikan setiap tahapan penggunaan biodiesel berjalan melalui pengujian teknis dan evaluasi agar layanan kepada pelanggan serta sektor logistik tetap aman dan andal," ujar Anne.

Ia memaparkan bahwa KAI bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memulai rangkaian uji teknis penggunaan B50 pada sektor kereta api sejak April 2026. 

Pengujian tersebut menyasar lokomotif serta genset kereta api guna menilai performa, konsumsi bahan bakar, emisi, dan ketahanan sarana dalam kondisi operasional.

Pada pengujian lokomotif, KAI menggunakan lokomotif CC206 pada rangkaian KA Sembrani. Uji coba lokomotif dimulai dari Depo Sidotopo dengan melakukan pembandingan konsumsi bahan bakar antara B40 dan B50. 

Di sisi lain, pengujian genset dilaksanakan pada genset MTU 2000 P02411 di KA Bogowonto dengan lokasi pengujian di Depo Kereta Yogyakarta.

Rangkaian uji genset tersebut meliputi pengujian performa, konsumsi bahan bakar, emisi dengan B40 dan B50, serta uji ketahanan statis selama 6 jam dengan kapasitas maksimum load bank

Setelah itu, uji ketahanan dinamis genset diteruskan selama 2.400 jam mulai 27 April 2026 di PUK Lempuyangan.

Dengan demikian, per Juni 2026, KAI berada dalam fase pemantauan dan evaluasi teknis terhadap hasil pengujian sebelum implementasi B50 diterapkan lebih luas. 

Ia menegaskan hasil pengujian menjadi acuan evaluasi bagi KAI, khususnya terkait performa mesin, penggunaan bahan bakar, stabilitas operasional, kondisi filter, aspek emisi, serta kebutuhan perawatan sarana.

"Prinsip kami jelas, transisi energi harus berjalan sejalan dengan keselamatan dan keandalan operasi," tegas Anne.

Lebih jauh, ia menyampaikan bahwa transisi menuju B50 merupakan bagian dari program aksi strategis dekarbonisasi KAI periode 2025-2030. Dalam rencana tersebut, peralihan bahan bakar dari B35 menjadi B50 ditargetkan mampu menekan emisi hingga 133.676 ton CO2e. 

Program ini menjadi penyumbang terbesar dalam target tiga program dekarbonisasi utama KAI yang mencapai 166.873 ton CO2e, di samping upaya konservasi, kredit karbon, serta efisiensi listrik.

KAI juga terus mengoptimalkan pengukuran jejak karbon melalui pendekatan berbasis data. Berdasarkan penilaian Life Cycle Assessment bersama BRIN, operasional KRL Jabodetabek menghasilkan jejak karbon sebesar 34,03 gram CO2e per penumpang-kilometer.

"Pendekatan pengukuran ini memperkuat transparansi KAI dalam memantau dampak lingkungan dari layanan transportasi berbasis rel," katanya.

Di masa transisi energi, tambah Anne, dukungan tersebut membantu KAI menjaga keberlangsungan operasional sekaligus menyiapkan penggunaan energi dengan emisi lebih rendah secara bertahap.

Terkini