PLN Pastikan Stok Batu Bara PLTU Aman Jelang Idulfitri Dan Mudik Nasional

Jumat, 13 Maret 2026 | 15:17:18 WIB
PLN Pastikan Stok Batu Bara PLTU Aman Jelang Idulfitri Dan Mudik Nasional

JAKARTA - Menjelang perayaan Idulfitri 2026 dan meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode mudik, pemerintah memastikan pasokan energi untuk sektor kelistrikan berada dalam kondisi aman. 

PT PLN (Persero) menegaskan bahwa ketersediaan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap atau Pembangkit Listrik Tenaga Uap tetap terjaga dengan baik selama Ramadan hingga Lebaran.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyampaikan bahwa stok batu bara untuk pembangkit milik perseroan saat ini berada di atas 19 Hari Operasi Pembangkit atau HOP. Kondisi tersebut menunjukkan ketersediaan energi primer yang cukup untuk menjaga stabilitas pasokan listrik selama periode penting tersebut.

Selain memastikan ketersediaan batu bara, PLN juga telah melakukan berbagai langkah persiapan teknis jauh hari sebelum Ramadan. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh infrastruktur kelistrikan berada dalam kondisi optimal saat kebutuhan listrik masyarakat meningkat.

"Kemudian untuk persediaan energi primer untuk gas di atas dari sembilan hari, BBM di atas sembilan hari, kemudian juga batu bara secara average di atas 19 hari operasi. Jadi kondisi saat ini dalam kondisi aman, terutama untuk mudik," kata Darmawan kepada awak media di Kantor BPH Migas, Kamis (12/3/2026).

Persiapan Pembangkit dan Infrastruktur Kelistrikan

Direktur Utama PLN menjelaskan bahwa perawatan pembangkit listrik telah dilakukan jauh sebelum memasuki bulan Ramadan. Langkah tersebut meliputi pemeriksaan menyeluruh terhadap unit pembangkit agar tetap beroperasi secara optimal saat kebutuhan listrik meningkat.

Selain pembangkit listrik, PLN juga melakukan pengecekan terhadap gardu induk dan jaringan transmisi listrik. Pemeriksaan ini bertujuan memastikan sistem distribusi listrik berjalan dengan baik sehingga pasokan listrik kepada masyarakat tetap stabil.

Upaya perawatan tersebut merupakan bagian dari strategi PLN dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional. Dengan sistem yang telah dipersiapkan sejak awal, PLN optimistis mampu memenuhi kebutuhan listrik selama Ramadan dan Idulfitri.

Selain itu, PLN juga memastikan ketersediaan energi primer lainnya seperti gas dan bahan bakar minyak. Kedua jenis energi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan operasional pembangkit listrik di berbagai wilayah.

Proyeksi Kebutuhan Listrik Saat Ramadan dan Idulfitri

Ketua Posko Nasional Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral Ramadan dan Idulfitri 2026, Erika Retnowati, mengungkapkan bahwa beban puncak listrik selama periode tersebut diperkirakan berada di kisaran 47.198 megawatt.

Sementara itu, daya pasok listrik yang tersedia tercatat mencapai 51.608 megawatt. Dengan angka tersebut, sistem kelistrikan nasional masih memiliki cadangan daya sekitar 4.410 megawatt atau sekitar 9,3 persen.

Erika juga menjelaskan bahwa pada hari H Idulfitri, beban puncak listrik diprediksi mencapai 35.017 megawatt. Pada saat yang sama, daya pasok listrik diperkirakan mencapai 51.967 megawatt.

Dengan kondisi tersebut, sistem kelistrikan nasional diperkirakan memiliki cadangan daya sekitar 16.950 megawatt atau sekitar 48,4 persen. Cadangan daya yang besar tersebut memberikan ruang yang cukup bagi sistem kelistrikan untuk tetap stabil.

"Pada tanggal hari H Idulfitri diproyeksikan beban puncak tumbuh 5,46% dari tahun 2025, namun lebih rendah 29% dari hari-hari normal," kata Erika dalam konferensi pers tersebut.

Kontrak Pasokan Batu Bara Hingga Agustus

Sementara itu, Direktur Manajemen Pembangkit PLN, Rizal Calvary Marimbo, menyampaikan bahwa pasokan batu bara untuk pembangkit listrik milik PLN maupun pembangkit listrik swasta atau independent power producer telah dipastikan mencukupi hingga Agustus 2026.

Hal tersebut setelah PLN berhasil mengamankan kontrak pasokan batu bara sebesar 84 juta ton dari berbagai perusahaan tambang. Pasokan tersebut diproyeksikan mampu menjaga stabilitas operasional pembangkit listrik selama beberapa bulan ke depan.

Rizal menjelaskan bahwa kontrak tersebut melibatkan delapan perusahaan pemasok batu bara besar di Indonesia. Perusahaan tersebut antara lain PT Adaro Indonesia, PT Arutmin Indonesia, PT Berau Coal, serta PT Kaltim Prima Coal.

Selain itu, kontrak pasokan juga melibatkan PT Kideco Jaya Agung, PT Multi Harapan Utama, PT Indominco Harapan Mandiri, dan PT Bukit Asam.

"Total seluruh yang akan dipasok adalah sekitar 84 juta metrik ton. Artinya ini cukup sampai dengan bulan Agustus akhir nanti, jadi HOP kita akan membaik di beberapa pembangkit dan kita harapkan bahwa sebelum Lebaran batu bara sudah akan sampai ke seluruh pembangkit yang memerlukan, sehingga ancaman defisit kedepan bisa diatasi," kata Rizal kepada awak media di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Selasa (3/3/2026).

Strategi Pemenuhan Kebutuhan Batu Bara Sepanjang Tahun

Rizal juga mengungkapkan bahwa PLN tengah mengamankan tambahan sekitar 40 juta ton batu bara yang akan digunakan setelah Agustus 2026. Upaya tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan pasokan energi tetap terjaga.

Dengan tambahan tersebut, total kebutuhan batu bara untuk sektor kelistrikan sepanjang tahun diperkirakan mencapai 124 juta ton. Kebutuhan tersebut mencerminkan besarnya peran batu bara dalam mendukung sistem kelistrikan nasional.

"Iya, itu kan yang besar-besar, sisanya 40 juta metrik ton. Itu nanti kita akan bahas kembali, tetapi insyallah sampai Agustus aman," ungkap Rizal.

Ia juga menduga bahwa pada awal tahun ini sejumlah perusahaan tambang sempat menunggu kepastian kebijakan pemerintah sebelum akhirnya mulai memasok batu bara kepada PLN.

Selain faktor kebijakan, kondisi cuaca buruk juga sempat menjadi kendala bagi sejumlah perusahaan tambang dalam memenuhi kebutuhan pasokan batu bara bagi pembangkit listrik.

Meski demikian, Rizal menegaskan bahwa kondisi sistem kelistrikan nasional tetap aman dan tidak terdapat potensi gangguan besar pada pasokan listrik.

Terkini