Harga Pangan Jelang Lebaran 2026 Beras Stabil Cabai Rawit dan Telur Naik

Senin, 09 Maret 2026 | 14:16:15 WIB
Harga Pangan Jelang Lebaran 2026 Beras Stabil Cabai Rawit dan Telur Naik

JAKARTA - Menjelang perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026, dinamika harga pangan mulai menjadi perhatian. 

Beberapa komoditas penting menunjukkan kecenderungan kenaikan, sementara sebagian lainnya masih relatif stabil. Kondisi ini menjadi sorotan karena permintaan bahan pangan biasanya meningkat seiring mendekatnya momen hari besar keagamaan.

Badan Pusat Statistik (BPS) memantau perkembangan harga sejumlah komoditas utama di berbagai daerah. Hasil pemantauan tersebut menunjukkan bahwa tidak semua bahan pangan mengalami tekanan harga yang sama. Beberapa komoditas justru tetap stabil, sementara yang lain mengalami kenaikan cukup signifikan di sejumlah wilayah.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menekankan bahwa pemerintah daerah perlu memberikan perhatian khusus terhadap komoditas tertentu. Hal ini penting agar potensi lonjakan harga menjelang Lebaran dapat dikendalikan sehingga tidak memicu inflasi yang lebih tinggi di tingkat daerah maupun nasional.

Beras Masih Relatif Stabil

Dalam pemantauan terbaru, harga beras secara umum masih menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Bahkan secara nasional tercatat terjadi penurunan tipis apabila dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Stabilitas ini menjadi kabar positif karena beras merupakan komoditas pangan utama bagi masyarakat Indonesia.

“Untuk beras hanya ada di beberapa kabupaten/kota saja yang masih mengalami kenaikan harga beras,” kata Amalia dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah yang disiarkan melalui YouTube Kemendagri, Senin.

Secara nasional, harga beras tercatat sedikit menurun sekitar 0,003 persen dibandingkan Februari 2026. Harga rata-rata kini berada di angka Rp15.236 per kilogram. Meski demikian, data BPS masih menunjukkan adanya kenaikan harga di sejumlah wilayah yang perlu menjadi perhatian pemerintah daerah.

BPS mencatat setidaknya terdapat 102 kabupaten dan kota yang mengalami kenaikan harga beras. Di beberapa daerah, harga beras bahkan mencapai tingkat yang cukup tinggi sehingga perlu dipantau secara intensif agar tidak menimbulkan tekanan inflasi pada kelompok pangan.

Harga tertinggi pada pekan pertama Maret 2026 tercatat terjadi di Kabupaten Puncak Jaya. Di wilayah tersebut, harga beras mencapai Rp45.000 per kilogram. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional dan menunjukkan adanya disparitas harga antarwilayah di Indonesia.

Telur Ayam Ras Paling Diwaspadai

Selain beras, komoditas lain yang menjadi perhatian serius menjelang Lebaran adalah telur ayam ras. BPS menilai komoditas ini memiliki potensi kenaikan harga yang lebih besar karena permintaannya biasanya meningkat menjelang hari raya.

Data BPS menunjukkan harga rata-rata nasional telur ayam ras pada pekan pertama Maret 2026 mencapai Rp32.475 per kilogram. Kenaikan harga ini terjadi di banyak daerah sehingga berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi pangan apabila tidak segera dikendalikan.

Di beberapa wilayah bahkan tercatat harga telur jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Kabupaten Intan Jaya dan Kabupaten Mamberamo Tengah misalnya, mencatat harga tertinggi hingga Rp100.000 per kilogram.

Selain itu, BPS juga mencatat sebanyak 210 kabupaten dan kota mengalami kenaikan harga telur ayam ras. Kondisi ini menunjukkan bahwa lonjakan harga terjadi cukup luas di berbagai wilayah Indonesia.

Amalia menjelaskan bahwa di sejumlah daerah harga telur ayam ras bahkan telah melampaui harga acuan penjualan atau HAP. Hal tersebut menjadi indikator bahwa tekanan harga pada komoditas ini cukup signifikan menjelang periode Lebaran.

Kenaikan Harga Cabai Rawit

Cabai rawit juga termasuk komoditas yang mengalami tekanan harga cukup tinggi secara nasional. Bahan pangan ini sering mengalami fluktuasi harga karena dipengaruhi oleh faktor pasokan, distribusi, serta tingginya permintaan masyarakat.

BPS mencatat harga rata-rata cabai rawit secara nasional pada pekan pertama Maret 2026 mencapai Rp71.429 per kilogram. Angka ini menunjukkan bahwa komoditas tersebut masih berada pada level harga yang cukup tinggi.

Selain itu, kenaikan harga cabai rawit juga terjadi di hampir separuh wilayah Indonesia. BPS mencatat komoditas ini mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) di 49,17 persen wilayah.

Di beberapa daerah, harga cabai rawit bahkan melonjak sangat tinggi. Kabupaten Nduga misalnya mencatat harga cabai rawit mencapai Rp200.000 per kilogram, menjadikannya sebagai salah satu harga tertinggi yang tercatat dalam pemantauan BPS.

Harga Daging Ayam Ikut Menguat

Selain telur ayam ras dan cabai rawit, harga daging ayam ras juga menunjukkan kecenderungan naik menjelang Lebaran. Komoditas ini merupakan salah satu bahan pangan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat saat momentum hari raya.

Secara nasional, harga rata-rata daging ayam ras tercatat mencapai Rp41.181 per kilogram. Harga tersebut berada di atas harga acuan penjualan yang telah ditetapkan pemerintah.

BPS mencatat daging ayam ras mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga di 48,99 persen wilayah Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan harga terjadi di hampir separuh wilayah pemantauan.

Harga tertinggi untuk komoditas daging ayam ras tercatat di Kabupaten Intan Jaya yang mencapai Rp100.000 per kilogram. Perbedaan harga antarwilayah ini menunjukkan adanya variasi kondisi pasokan dan distribusi di masing-masing daerah.

Bawang Merah Mulai Turun

Di tengah kenaikan beberapa komoditas pangan, bawang merah justru menunjukkan tren yang lebih positif. Secara nasional, harga komoditas ini mulai mengalami penurunan meskipun masih sedikit berada di atas harga acuan penjualan.

Harga rata-rata bawang merah tercatat sebesar Rp41.906 per kilogram. Angka ini masih sedikit di atas HAP yang berada di level Rp41.500 per kilogram, namun tren penurunannya memberikan sinyal positif bagi stabilitas harga pangan.

BPS juga mencatat bahwa bawang merah mengalami penurunan Indeks Perkembangan Harga di 41,67 persen wilayah Indonesia. Penurunan ini menunjukkan adanya perbaikan pasokan di sejumlah daerah.

Dengan kondisi tersebut, bawang merah menjadi salah satu komoditas yang tidak terlalu memberikan tekanan inflasi menjelang Lebaran dibandingkan komoditas lain seperti telur ayam ras dan cabai rawit.

Harga Minyak Goreng Cenderung Stabil

Sementara itu, perkembangan harga minyak goreng menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Bahkan secara umum harga komoditas ini juga cenderung mengalami penurunan tipis secara nasional.

BPS mencatat harga rata-rata minyak goreng yang terdiri dari minyak curah, premium, dan Minyakita turun sekitar 0,40 persen. Harga rata-rata nasional kini berada di level Rp19.319 per liter.

Untuk produk Minyakita, harga rata-rata tercatat sebesar Rp16.441 per liter. Harga tersebut mengalami penurunan sekitar 1,64 persen dibandingkan Februari 2026.

Meskipun demikian, harga Minyakita masih tercatat berada di atas harga eceran tertinggi yang telah ditetapkan pemerintah. Kondisi ini tetap menjadi perhatian agar distribusi dan ketersediaan pasokan dapat dijaga menjelang meningkatnya permintaan selama periode Lebaran.

Terkini