Pertamina Geothermal Energy Catat Laba Bersih Rp2,34 Triliun Sepanjang Tahun 2025

Senin, 09 Maret 2026 | 14:16:09 WIB
Pertamina Geothermal Energy Catat Laba Bersih Rp2,34 Triliun Sepanjang Tahun 2025

JAKARTA - Kinerja perusahaan energi berbasis panas bumi menunjukkan perkembangan positif sepanjang tahun 2025. 

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatatkan hasil keuangan yang solid dengan pertumbuhan pendapatan serta laba bersih yang signifikan.

Perusahaan yang bergerak di sektor energi baru terbarukan ini terus memperkuat posisinya dalam pengembangan energi panas bumi nasional. Pencapaian kinerja tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kontribusi terhadap sektor energi bersih di Indonesia.

Selain peningkatan kinerja finansial, PGEO juga mencatatkan capaian operasional yang penting. Produksi energi panas bumi perusahaan dilaporkan mencapai tingkat tertinggi sepanjang sejarah operasionalnya.

Dengan pencapaian tersebut, perusahaan optimistis mampu menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus mendukung target pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia dalam jangka panjang.

Laba Bersih PGEO Sepanjang 2025

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) membukukan laba bersih senilai US$137,67 juta atau sekitar Rp2,34 triliun (asumsi kurs 16.980 per US$) sepanjang 2025.

Berdasarkan laporan keuangan yang berakhir pada 31 Desember 2025, PGEO mencatatkan total pendapatan sebesar US$432,73 juta sepanjang 2025.

Capaian tersebut menunjukkan performa keuangan yang positif bagi perusahaan sepanjang tahun lalu. Pertumbuhan pendapatan dan laba bersih menjadi indikator penting dari stabilitas bisnis yang dijalankan perusahaan.

Kinerja ini juga mencerminkan konsistensi perusahaan dalam mengelola operasional serta mengembangkan potensi energi panas bumi sebagai sumber energi bersih yang semakin dibutuhkan.

Pendapatan Tumbuh Secara Tahunan

Direktur Keuangan PGEO Yurizki Rio mengatakan, realisasi pendapatan pada tahun lalu meningkat 6,29% secara year-on-year (yoy) dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang tercatat sebesar US$407,12 juta.

" Capaian ini menunjukkan kinerja PGE yang tetap berada pada jalur yang sehat, mencerminkan fundamental keuangan Perseroan yang kuat. Kondisi tersebut turut didukung oleh kinerja operasional yang mencatatkan produksi tertinggi sepanjang sejarah atau all-time high dengan kenaikan produksi sebesar 5,6% pada 2025,” ujar Yurizki melalui siaran pers, dikutip Senin.

Menurutnya, peningkatan produksi tersebut menjadi salah satu faktor utama yang mendukung pertumbuhan pendapatan perusahaan. Produksi panas bumi yang lebih tinggi memberikan kontribusi langsung terhadap peningkatan kinerja operasional.

Selain itu, capaian produksi tertinggi sepanjang sejarah juga menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam mengelola aset pembangkit panas bumi yang dimilikinya.

Kondisi Keuangan Perusahaan

Yurizki memerinci bahwa secara umum, berdasarkan laporan keuangan konsolidasi per 31 Desember 2025, PGE juga membukukan total aset senilai US$3,03 miliar, serta kas dan setara kas sebesar US$718,50 juta.

Angka tersebut menunjukkan posisi keuangan perusahaan yang relatif kuat. Ketersediaan kas yang memadai memberikan ruang bagi perusahaan untuk melakukan berbagai investasi strategis di masa mendatang.

Kondisi keuangan yang stabil juga menjadi modal penting bagi PGEO dalam menjalankan berbagai proyek pengembangan panas bumi. Proyek-proyek tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat kontribusi terhadap sektor energi terbarukan.

Dengan fondasi finansial yang solid, perusahaan dapat terus melanjutkan ekspansi bisnis secara terukur dan berkelanjutan.

Strategi Pengembangan Panas Bumi

Sementara itu, Direktur Utama PGEO Ahmad Yani mengatakan, Perseroan menargetkan pertumbuhan yang berkelanjutan seiring dengan upaya optimalisasi potensi panas bumi nasional.

“PGE memiliki visi untuk berkembang menjadi world leading geothermal producer. Artinya, tidak hanya unggul dari sisi kapasitas terpasang, tetapi juga diakui sebagai geothermal center of excellence di tingkat global. Untuk mencapai hal tersebut, Perseroan menjalankan tiga strategi utama, yakni menjaga keandalan operasional PLTP existing dengan total kapasitas 727 megawatt [MW] yang dikelola secara mandiri, mendorong ekspansi dan pertumbuhan bisnis, serta mengembangkan sumber pendapatan masa depan. Seluruh upaya ini dijalankan dengan prinsip kehati-hatian, disiplin investasi, dan komitmen kuat terhadap ESG,” kata Ahmad.

Pernyataan tersebut menggambarkan arah pengembangan perusahaan dalam jangka panjang. PGEO berupaya meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat posisi sebagai pemain utama di industri panas bumi global.

Strategi tersebut juga menegaskan komitmen perusahaan dalam menjalankan praktik bisnis yang berkelanjutan dan berorientasi pada prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan yang baik.

Pengembangan Proyek dan Target Kapasitas

Adapun, saat ini, PGEO berfokus pada pertumbuhan jangka panjang dengan berinvestasi pada berbagai proyek quick win untuk meningkatkan kapasitas terpasang dan produksi panas bumi.

Upaya ini diharapkan dapat memperkuat kinerja keuangan Perseroan secara berkelanjutan. Pada saat yang sama, PGEO juga terus memperluas kapasitas terpasang melalui sejumlah proyek strategis di berbagai wilayah kerja panas bumi.

Dalam jangka panjang, Perseroan menargetkan kapasitas terpasang hingga 3 gigawatt (GW) yang telah teridentifikasi dari 15 wilayah kerja panas bumi (WKP) yang dikelola.

Beberapa proyek kunci PGEO untuk mencapai target tersebut antara lain pengembangan Lumut Balai Unit 3 dan 4 (2×55 MW), Hululais Unit 1 dan 2 (110 MW), serta Lahendong Unit 7 & 8 (2×20 MW) dan Binary Unit (10 MW).

PGE juga tengah mengembangkan sejumlah proyek co-generation dengan total kapasitas 230 MW. Selain itu, PGEO juga terus memperkuat sinergi antar BUMN dalam mendorong percepatan transisi menuju energi bersih.

Pada Agustus lalu, PGEO menjalin kerja sama dengan PT PLN Indonesia Power (PLN IP) untuk mempercepat pengembangan panas bumi melalui 19 proyek existing dengan total kapasitas 530 MW.

Melalui kolaborasi ini, potensi tambahan kapasitas diperkirakan dapat mencapai hingga 1.130 MW, yang berasal dari wilayah kerja yang telah berproduksi maupun area prospektif baru.

Langkah ini sekaligus menegaskan kontribusi PGEO dalam mendukung target perluasan kapasitas pembangkit berbasis energi baru terbarukan hingga 76% pada periode 2025-2034 sebagaimana tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

Melalui berbagai upaya ini, PGEO berupaya memastikan bahwa manfaat pemanfaatan energi panas bumi dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat Indonesia.

Terkini