IHSG Dibuka Melemah Tajam Ke Level 7.240 Dipicu Sentimen Global Negatif

Senin, 09 Maret 2026 | 10:48:35 WIB
IHSG Dibuka Melemah Tajam Ke Level 7.240 Dipicu Sentimen Global Negatif

JAKARTA - Pergerakan pasar saham domestik langsung berada dalam tekanan sejak bel pembukaan perdagangan. 

Sentimen eksternal yang memburuk membuat pelaku pasar mengambil sikap lebih defensif pada awal sesi. Aksi jual terlihat dominan di berbagai sektor sehingga indeks utama terkoreksi cukup dalam. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kewaspadaan investor terhadap dinamika global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada pembukaan perdagangan hari ini. IHSG melemah 4,54 persen dengan berada pada level 7.240 pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026. Indeks unggulan seperti LQ45 dan JII melemah hingga 5 persen. Saham-saham bank besar seperti BBCA, BBNI, BBRI jatuh pada hari ini. Sementara saham energi AKRA dan MEDC naik.

Pengaruh Pergerakan Bursa Amerika Serikat

Arah gerak pasar modal Indonesia tidak terlepas dari dinamika yang terjadi di bursa global. Pelemahan yang berlangsung di Wall Street menjadi salah satu katalis yang memengaruhi psikologi investor domestik. Ketika pasar utama dunia tertekan, pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko.

Laju IHSG mengikuti pergerakan bursa saham Amerika Serikat kembali ditutup melemah pada akhir perdagangan pekan lalu. Tekanan datang dari lonjakan tajam harga minyak dunia serta data tenaga kerja yang lebih lemah dari perkiraan pasar.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 453,19 poin atau 0,95% ke level 47.501,55. Sementara itu S&P 500 melemah 1,33% menjadi 6.740,02.

Dampak Ke Bursa Eropa Dan Asia

Gelombang tekanan pasar tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi juga merambat ke kawasan lain. Bursa saham Eropa ikut terkoreksi seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi global. Sentimen negatif menyebar luas dan memicu aksi ambil untung di berbagai indeks utama.

Sentimen negatif juga merembet ke bursa Eropa. Indeks FTSE 100 di London terkoreksi 1,24% ke posisi 10.284,75. Berbeda dengan pasar Barat, bursa Asia justru bergerak positif dengan Nikkei 225 menguat 0,62%.

Lonjakan volatilitas pasar juga terlihat dari indeks ketakutan investor, CBOE Volatility Index atau VIX, yang melesat 24,17% ke level 29,49.

Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran

Pergerakan tajam di pasar energi menjadi salah satu sumber tekanan utama bagi pasar keuangan global. Harga minyak mentah melonjak signifikan dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Kenaikan yang ekstrem meningkatkan risiko inflasi serta menekan prospek pertumbuhan ekonomi.

Kekhawatiran pasar terutama dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah. Harga minyak jenis West Texas Intermediate melonjak hingga menembus USD90 per barel. Secara mingguan, harga minyak tersebut tercatat naik sekitar 35% week-on-week. Kenaikan ini menjadi yang terbesar sejak 1983.

Lonjakan harga energi dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global, seiring meningkatnya intensitas konflik militer di Timur Tengah.

Kenaikan harga energi juga memicu reli di sejumlah komoditas lain. Harga emas naik 1,76%, sementara perak melonjak hampir 2,8%. Komoditas energi seperti gas alam turut menguat lebih dari 6%.

Data Tenaga Kerja Amerika Serikat Memburuk

Selain tekanan dari sektor energi, pasar juga dibayangi oleh pelemahan data ekonomi terbaru. Laporan ketenagakerjaan menunjukkan kondisi yang tidak sesuai ekspektasi sehingga menambah beban sentimen negatif. Investor memandang data ini sebagai sinyal perlambatan ekonomi.

Di sisi lain, sentimen negatif datang dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Berdasarkan laporan Bureau of Labor Statistics, jumlah pekerja pada Februari justru mengalami penurunan sebanyak 92.000 orang.

Angka tersebut berbanding terbalik dengan bulan sebelumnya yang mencatat penambahan tenaga kerja sebanyak 126.000 orang. Data ini juga jauh dari ekspektasi ekonom yang memperkirakan kenaikan sekitar 50.000 pekerja. Tingkat pengangguran pun naik menjadi 4,4% dari sebelumnya 4,3%.

Investor Cenderung Bersikap Hati Hati

Berbagai tekanan eksternal tersebut membentuk kombinasi sentimen yang kurang kondusif bagi pasar finansial. Pelaku pasar kini lebih selektif dalam mengambil keputusan investasi sambil memantau perkembangan global. Ketidakpastian yang tinggi mendorong strategi defensif tetap menjadi pilihan utama.

Kombinasi lonjakan harga energi dan pelemahan pasar tenaga kerja membuat investor cenderung berhati-hati. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga masih menjadi faktor utama yang membayangi pasar global.

Selama risiko gangguan pasokan energi belum mereda, volatilitas di pasar keuangan diperkirakan masih akan tinggi dalam beberapa waktu ke depan.

Terkini