Rupiah Melemah Dolar AS Tembus Rp16.910 Pagi Ini

Rabu, 04 Maret 2026 | 11:54:44 WIB
Rupiah Melemah Dolar AS Tembus Rp16.910 Pagi Ini

JAKARTA - Tekanan kembali menghampiri pasar valuta asing domestik pada awal perdagangan Rabu pagi. 

Rupiah yang sehari sebelumnya sempat mencatat penguatan tipis kini berbalik arah dan dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Pergerakan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Sentimen eksternal menjadi faktor dominan yang membayangi pasar keuangan.

Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat AS pada pembukaan perdagangan pagi ini, Rabu 4 Maret 2026. Melansir Refinitiv, mata uang Garuda dibuka di level Rp16.910 per dolar AS atau melemah sebesar 0,36 persen. Pelemahan ini langsung terlihat sejak awal sesi perdagangan.

Koreksi tersebut terjadi setelah pada perdagangan kemarin, Selasa 3 Maret 2026, rupiah berhasil menutup hari dengan penguatan tipis 0,03 persen ke posisi Rp16.850 per dolar AS. Perubahan arah ini menunjukkan volatilitas yang masih tinggi. Pelaku pasar terus merespons dinamika global secara cepat.

Sementara itu, indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 09.00 WIB, terpantau masih berada di zona hijau dengan kenaikan 0,15 persen ke level 99,200. Penguatan indeks dolar turut memberikan tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang.

Sentimen Global Tekan Rupiah

Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih banyak dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Situasi ini membuat ketidakpastian di pasar global meningkat tajam. Investor pun cenderung menahan diri terhadap aset berisiko.

Di tengah kondisi tersebut, dolar AS kembali menguat karena masih dipandang sebagai aset safe haven. Minat investor terhadap dolar pun meningkat seiring pasar global bergerak ke mode risk off. Permintaan terhadap mata uang Negeri Paman Sam melonjak di saat risiko global membesar.

Tekanan di pasar juga muncul setelah serangan Israel dan AS ke sejumlah target di Iran memicu kekhawatiran baru terhadap lonjakan inflasi dan gangguan pasokan energi. Ketidakpastian ini memicu volatilitas di berbagai kelas aset.

Harga minyak dan gas global pun melonjak setelah perang AS Israel dengan Iran menghambat ekspor energi dari Timur Tengah. Kenaikan harga energi menimbulkan kekhawatiran tambahan terhadap stabilitas ekonomi global.

Serangan Teheran terhadap kapal dan fasilitas energi juga mengganggu jalur pelayaran di kawasan Teluk serta memaksa penghentian produksi di sejumlah negara, mulai dari Qatar hingga Irak. Gangguan rantai pasok energi tersebut memperburuk sentimen pasar.

Dolar AS Kian Perkasa

Kondisi ini pada akhirnya memperkuat permintaan terhadap dolar AS dan memberi tekanan pada mata uang negara lain, termasuk mata uang emerging markets seperti rupiah. Ketika risiko global meningkat, investor cenderung mencari aset yang dianggap aman dan likuid.

Penguatan dolar yang tercermin pada indeks DXY di level 99,200 memperlihatkan arus modal yang mengalir ke Amerika Serikat. Mata uang negara berkembang pun menghadapi tekanan beruntun. Rupiah tidak luput dari dampak pergeseran arus modal tersebut.

Situasi global yang belum stabil membuat ruang penguatan rupiah menjadi terbatas. Selama ketegangan geopolitik belum mereda, volatilitas diperkirakan tetap tinggi. Pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah.

Pemerintah Siapkan Bantalan Fiskal

Meski demikian, pemerintah menilai bantalan fiskal Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi gejolak global tersebut. Keyakinan ini disampaikan sebagai respons atas kekhawatiran pasar terhadap tekanan nilai tukar dan lonjakan harga energi.

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan APBN dirancang dengan prinsip prudent, disiplin, dan fleksibel, sehingga tetap memiliki ruang untuk merespons shock eksternal, termasuk yang dipicu lonjakan harga minyak dan tekanan nilai tukar. Pernyataan ini menegaskan kesiapan fiskal pemerintah.

"Terkait jika terjadi shock yang bersumber dari global, maka ada buffer, ada cadangan fiskal yang dapat digunakan untuk memberikan bantalan terhadap gejolak gejolak itu," ujar Juda Agung dikutip dari rilis Kementerian Keuangan pada Rabu 4 Maret 2026. Kutipan tersebut menekankan adanya cadangan untuk menghadapi risiko.

Defisit APBN Tetap Terjaga

Pemerintah juga mengungkapkan telah melakukan stress test terhadap berbagai skenario global, termasuk kenaikan harga minyak dan potensi pelemahan rupiah. Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketahanan fiskal dalam berbagai kondisi.

Hasilnya, pada skenario yang dinilai masih plausible, defisit APBN disebut tetap terjaga di bawah 3 persen terhadap PDB. Angka ini menjadi indikator bahwa stabilitas fiskal masih dalam batas aman. Pemerintah optimistis mampu meredam dampak gejolak eksternal terhadap perekonomian nasional.

Dengan rupiah yang dibuka di level Rp16.910 per dolar AS, perhatian pasar kini tertuju pada perkembangan global berikutnya. Selama ketegangan geopolitik dan lonjakan harga energi berlanjut, tekanan terhadap rupiah berpotensi bertahan. Namun pemerintah memastikan ruang kebijakan masih tersedia untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik.

Terkini