Rupiah Nyaris Rp17.000 Per USD Ini Strategi Bank Indonesia

Rabu, 04 Maret 2026 | 11:54:43 WIB
Rupiah Nyaris Rp17.000 Per USD Ini Strategi Bank Indonesia

JAKARTA - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali menguat dan membawa kurs mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat. 

Pergerakan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik yang meluas. Pasar keuangan domestik pun merespons dengan volatilitas yang lebih tinggi. Situasi ini mendorong perhatian pada langkah stabilisasi yang ditempuh otoritas moneter.

Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan. Mengacu data Bloomberg pada perdagangan pagi, rupiah melemah 59 poin atau 0,35 persen ke level Rp16.931 per dolar AS, mendekati psikologis Rp17.000 per USD. Pelemahan ini memperlihatkan tekanan eksternal yang masih kuat memengaruhi pasar domestik.

Sementara itu, pada penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa, rupiah tercatat melemah tipis 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp16.872 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.868 per dolar AS. Pergerakan yang relatif tipis sehari sebelumnya menunjukkan tekanan yang terjadi bertahap. Namun pada perdagangan pagi, tekanan terlihat meningkat.

Dampak Konflik AS Israel Dan Iran

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah dipicu oleh meluasnya konflik antara AS, Israel, Iran, dan Lebanon. Eskalasi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. Ketidakpastian global pun semakin dalam.

“Perang udara AS dan Israel terhadap Iran meluas dengan Israel menyerang Lebanon dan Iran membalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi di negara negara Teluk dan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz,” ungkapnya dilansir Antara, Rabu, 4 Maret 2026. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa konflik telah meluas ke berbagai titik strategis.

Ketegangan ini berdampak langsung pada sentimen investor global. Ketika risiko geopolitik meningkat, arus modal cenderung mengalir ke aset safe haven. Mata uang negara berkembang seperti rupiah pun menghadapi tekanan tambahan.

Selat Hormuz Jadi Sorotan Dunia

Kapal tanker dan kapal kontainer dilaporkan mulai menghindari Selat Hormuz setelah perusahaan asuransi membatalkan perlindungan terhadap kapal kapal yang melintas. Akibatnya, tarif pengiriman minyak dan gas global melonjak. Gangguan jalur distribusi energi ini memicu kekhawatiran luas.

Kekhawatiran pasar meningkat setelah pejabat senior Garda Revolusi Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup dan memperingatkan akan menembak kapal yang mencoba melewatinya. Pernyataan tersebut memperburuk persepsi risiko di pasar global.

“Sekitar 20 persen minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz,” kata Ibrahim. Jalur ini merupakan salah satu titik vital perdagangan energi global. Gangguan di kawasan tersebut berdampak luas terhadap harga energi dan stabilitas ekonomi dunia.

Gangguan di jalur vital ini memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global, termasuk tekanan terhadap mata uang negara berkembang seperti rupiah. Kenaikan harga minyak juga memunculkan kekhawatiran inflasi.

Langkah Tegas Bank Indonesia

Deputy Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, memastikan Bank Indonesia BI akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Komitmen ini menjadi sinyal kuat bagi pelaku pasar bahwa otoritas siap melakukan stabilisasi.

Intervensi yang tegas dan konsisten akan terus kami lakukan melalui transaksi Non Deliverable Forward NDF di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non Deliverable Forward DNDF di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder. Langkah ini menunjukkan pendekatan yang komprehensif.

Kebijakan intervensi tersebut dilakukan untuk meredam volatilitas berlebihan. Bank sentral memanfaatkan berbagai instrumen untuk menjaga keseimbangan pasar valas. Stabilitas nilai tukar menjadi prioritas utama di tengah gejolak global.

Cadangan Devisa Tetap Kuat

"Pelemahan rupiah masih aligned dgn regional, secara MTD melemah 0,51 persen, relatif lebih baik dibandingkan regional. Cadangan devisa tetap terjaga di level USD154,6 miliar akhir Januari 2026 dan arus masuk modal asing di pasar keuangan domestik selama tahun 2026 tercatat sejumlah Rp25,7 triliun," jelas Destry. Pernyataan ini menegaskan bahwa fundamental eksternal Indonesia masih solid.

Cadangan devisa yang mencapai USD154,6 miliar menjadi bantalan penting dalam menghadapi tekanan nilai tukar. Selain itu, arus masuk modal asing menunjukkan kepercayaan investor terhadap pasar domestik belum surut. Faktor ini memberi ruang bagi stabilisasi yang lebih terukur.

Dengan kurs mendekati Rp17.000 per dolar AS, perhatian pasar kini tertuju pada perkembangan konflik global dan respons kebijakan lanjutan. Selama ketidakpastian masih tinggi, volatilitas rupiah berpotensi berlanjut. Namun otoritas moneter memastikan langkah intervensi akan dilakukan secara konsisten demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Terkini