Harga Batu Bara Naik 17%Tembus Rekor Tertinggi 14 Bulan

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:48:59 WIB
Harga Batu Bara Naik 17%Tembus Rekor Tertinggi 14 Bulan

JAKARTA - Gejolak geopolitik kembali mengguncang pasar energi global pada awal Maret 2026. 

Ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah langsung tercermin pada lonjakan harga sejumlah komoditas strategis. Salah satu yang paling mencolok adalah reli tajam harga batu bara hingga menembus level tertinggi dalam lebih dari satu tahun terakhir.

Harga batu bara melonjak ke level tertinggi sejak November 2024 di tengah memanasnya perang. Kenaikan ini memicu perhatian pelaku pasar karena terjadi dalam waktu sangat singkat dan didorong faktor eksternal yang signifikan.

Kontrak batu bara April pada perdagangan Selasa ditutup di posisi US$ 138 per ton atau melesat 7,3%, harga ini adalah yang tertinggi sejak 26 November 2024 atau lebih 1 tahun 2 bulan atau 14 bulan.

Kenaikan ini juga memperpanjang tren positif batu bara dengan melesat 17,2% dalam dua hari terakhir. Lonjakan tersebut menunjukkan respons cepat pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Penutupan Selat Hormuz Picu Kepanikan Energi

Lonjakan ini terjadi setelah Iran menutup Selat Hormuz. Sekitar 22% atau hampir seperempat pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Sekitar 20% perdagangan global gas alam cair atau LNG juga melewati Selat Hormuz.

Penutupan membuat harga minyak melesat 5% pada perdagangan Selasa sementara harga gas melesat 23% dalam sehari. Kondisi ini mempertegas betapa vitalnya jalur tersebut terhadap stabilitas energi dunia.

Kenaikan tajam harga gas mendorong kekhawatiran serius terkait keberlanjutan pasokan. Pasar segera mengantisipasi potensi kekurangan energi dalam jangka pendek.

Lonjakan ini memicu kekhawatiran pasokan gas global dan mendorong utilitas melakukan fuel switching dari gas ke batu bara. Pergeseran bahan bakar ini menjadi faktor utama penguatan harga batu bara.

Negara Asia Tingkatkan Konsumsi Batu Bara

Negara-negara Asia yang sangat bergantung pada LNG Timur Tengah seperti Pakistan, India, dan Bangladesh diperkirakan akan meningkatkan konsumsi batu bara dalam jangka pendek. Langkah ini diambil untuk menjaga ketahanan energi domestik.

Ketergantungan pada pasokan LNG membuat negara-negara tersebut rentan terhadap gangguan distribusi. Dalam situasi darurat, batu bara menjadi alternatif paling cepat dan tersedia.

Permintaan tambahan dari kawasan Asia turut memperkuat sentimen positif di pasar batu bara internasional. Volume pembelian diperkirakan meningkat selama ketidakpastian geopolitik masih berlangsung.

Kondisi ini sekaligus memperlihatkan bagaimana dinamika geopolitik dapat mengubah pola konsumsi energi global dalam waktu singkat. Pasar bergerak mengikuti kebutuhan keamanan pasokan.

Tekanan Biaya Angkut Dan Respons Pembeli

Di India, harga batu bara termal asal Afrika Selatan di pelabuhan India melonjak tajam secara mingguan. Harga batu bara melonjak karena biaya angkut yang naik di tengah ketegangan geopolitik.

Kenaikan biaya logistik turut memperbesar tekanan harga di pasar spot. Jalur pengiriman yang terdampak konflik menyebabkan tarif angkutan meningkat signifikan.

Meski demikian, pembeli masih menahan diri dan belum sepenuhnya menerima lonjakan harga tersebut, walau ketersediaan kargo relatif terbatas. Sikap hati-hati ini mencerminkan pertimbangan risiko dan biaya.

Pelaku industri cenderung menunggu kepastian lebih lanjut sebelum melakukan kontrak jangka panjang. Volatilitas tinggi membuat strategi pembelian menjadi lebih selektif.

Pasar China Cenderung Melemah

Sementara itu dari China, pasar batu bara kokas di Tiongkok pada awal Maret 2026 cenderung melemah, dengan tekanan dari pasokan yang meningkat dan permintaan yang berhati-hati dari pabrik-pabrik baja.

Kondisi ini berbeda dengan pasar batu bara termal yang terdorong sentimen global. Di sektor baja, permintaan masih tertahan sehingga harga kokas belum menunjukkan penguatan signifikan.

Ekspektasi penurunan harga, terutama untuk kokas, juga kuat mengingat kondisi margin pabrik dan rencana maintenance sebelum pertemuan tahunan pemerintah China Two Sessions.

Perbedaan arah pergerakan ini menegaskan bahwa pasar batu bara tidak sepenuhnya seragam. Faktor regional dan sektor industri turut memengaruhi dinamika harga masing-masing jenis batu bara.

Secara keseluruhan, lonjakan harga batu bara sebesar 17 persen dalam dua hari mencerminkan respons pasar terhadap gangguan energi global. Ketidakpastian geopolitik, kenaikan harga minyak dan gas, serta pergeseran konsumsi energi menjadi pendorong utama reli komoditas ini.

Terkini