JAKARTA - Menjelang masa libur keagamaan nasional tahun 2026, perhatian pemerintah tertuju pada kelancaran arus mudik serta pelaksanaan ibadah besar umat beragama.
Kementerian Agama menyiapkan langkah strategis agar perjalanan masyarakat tetap aman dan tertib. Fokus tidak hanya pada Idulfitri, tetapi juga perayaan Nyepi yang berdekatan waktunya.
Penjelasan mengenai kesiapan tersebut disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar di Jakarta pada Senin. Paparan ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah menghadirkan layanan publik yang optimal. Koordinasi lintas sektor dilakukan untuk memastikan seluruh agenda keagamaan berjalan selaras.
Salah satu program utama adalah penyediaan ribuan masjid sebagai pusat layanan pemudik. Inisiatif ini menempatkan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang pelayanan sosial. Berikut rincian kebijakan dan program yang telah disiapkan.
Ribuan Posko Masjid Ramah Pemudik Di Jalur Mudik
Kementerian Agama menghadirkan layanan berbasis masjid untuk mendukung arus mudik Lebaran 2026 melalui program Masjid Ramah Pemudik. Program ini menyediakan akses masjid selama 24 jam di jalur mudik utama.
Layanan tersebut meliputi pengamanan area ibadah dan parkir, kebersihan toilet, ketersediaan air wudhu, fasilitas pengisian daya gawai, ruang ibadah yang nyaman, area istirahat, penyediaan air minum dan makanan ringan, serta pusat informasi bagi pemudik.
“Secara nasional, tercatat sebanyak 6.859 posko Masjid Ramah Pemudik disiapkan di berbagai jalur mudik,” terang Menag di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Kehadiran posko ini diharapkan membantu pemudik beristirahat dengan aman sekaligus menjalankan ibadah tanpa hambatan. Masjid difungsikan sebagai simpul pelayanan yang ramah dan terbuka bagi seluruh masyarakat.
Program Ekspedisi Masjid Indonesia 2026
Kementerian Agama juga meluncurkan Program Ekspedisi Masjid Indonesia EMI 2026 untuk memperkuat peran masjid sebagai pusat pelayanan publik selama mudik dan arus balik. Program ini menampilkan praktik pelayanan masjid yang humanis dan inklusif.
Melalui EMI, masjid diposisikan sebagai rumah singgah umat yang memberi rasa nyaman. Pendekatan ini menegaskan bahwa fungsi masjid tidak hanya ritual, tetapi juga sosial kemasyarakatan.
Pelaksanaan EMI dilakukan melalui peliputan perjalanan di jalur mudik bersama Radio Elshinta. Kick off dilakukan pada H-8 Idulfitri dan berlangsung pada H-7 hingga H+7 Lebaran, yakni 13–29 Maret 2026.
Masjid yang terlibat diklasifikasikan dalam beberapa kategori, yaitu Masjid Transit Utama, Masjid Buffer Kota, Masjid Kota Provinsi atau Kabupaten, Masjid Ikonik Sejarah, serta Masjid Area Berisiko di pelabuhan, perbatasan, dan jalur rawan kemacetan.
Pengaturan Nyepi Dan Idulfitri Di Bali
Menteri Agama juga menyoroti kesiapan menghadapi Hari Raya Nyepi di Bali yang jatuh pada 19 Maret 2026. Momentum ini berdekatan dengan potensi perayaan Idulfitri sehingga memerlukan pengaturan khusus.
Ia menjelaskan apabila Idulfitri jatuh pada 20 Maret 2026, takbiran di Bali tetap diperbolehkan namun dilaksanakan secara terbatas tanpa pengeras suara, tanpa arak arakan kendaraan, serta dengan penerangan minimal.
Kebijakan tersebut dilakukan sebagai bentuk toleransi antarumat beragama berdasarkan kesepakatan bersama di Bali. Pendekatan dialog menjadi landasan utama agar harmoni tetap terjaga.
Apabila Idulfitri jatuh pada 21 Maret 2026, pelaksanaan Nyepi dan takbiran dapat berjalan normal sesuai waktu masing masing. Penyesuaian dilakukan dengan tetap menghormati nilai keagamaan setiap umat.
Koordinasi Lintas Sektor Untuk Pelayanan Publik
Menag menegaskan koordinasi lintas sektor menjadi kunci agar pelayanan masyarakat selama mudik dan perayaan keagamaan berjalan aman dan nyaman. Pemerintah menggandeng berbagai pihak untuk memastikan kesiapan infrastruktur dan pengamanan.
Sinergi tersebut mencakup pengaturan lalu lintas, pengamanan rumah ibadah, serta dukungan informasi bagi masyarakat. Langkah ini penting mengingat tingginya mobilitas selama periode mudik dan libur panjang.
“Negara harus hadir memastikan umat dapat menjalankan ibadah sekaligus melakukan perjalanan mudik dengan aman dan manusiawi, dan masjid menjadi bagian penting dari pelayanan publik tersebut,” pungkasnya.
Dengan strategi terintegrasi ini, Kementerian Agama berupaya menghadirkan suasana mudik dan perayaan keagamaan yang tertib serta harmonis. Masjid menjadi simbol kolaborasi antara pelayanan spiritual dan sosial demi kenyamanan seluruh masyarakat.