JAKARTA - Kinerja industri perbankan daerah kembali menunjukkan dinamika menarik sepanjang 2025.
Di tengah tantangan efisiensi dan tekanan biaya operasional, PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk. mampu mencatatkan pertumbuhan laba yang signifikan. Peningkatan ini menjadi sorotan karena terjadi bersamaan dengan ekspansi kredit dan dana pihak ketiga yang agresif.
Pertumbuhan laba tersebut mencerminkan perbaikan fundamental yang cukup solid, meski tidak lepas dari sejumlah indikator yang mengalami tekanan. Dari sisi intermediasi, bank ini juga memperlihatkan akselerasi penyaluran kredit dan penghimpunan dana masyarakat secara konsisten.
PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk. (BEKS) atau Bank Banten membukukan laba bersih tahun berjalan senilai Rp52,52 miliar sepanjang 2025. Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, laba bersih perusahaan meningkat 33,54% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp39,33 miliar.
Kenaikan laba tersebut menjadi sinyal positif bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan. Pertumbuhan dua digit secara tahunan menunjukkan adanya perbaikan kinerja dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan Pendapatan Dan Beban Operasional
Perolehan laba sepanjang 2025 didorong oleh pendapatan bunga bersih yang tumbuh 4,93% YoY menjadi Rp198,69 miliar. Pada 2024, Bank Banten membukukan pendapatan bunga bersih senilai Rp189,36 miliar.
Adapun, pendapatan provisi atau fee dan administrasi mencapai Rp76,30 miliar. Capaian itu meningkat 95,94% YoY dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp38,94 miliar.
Di sisi lain, beban operasional lainnya membengkak. Bank Banten mencatat beban operasional menanjak sebesar 49,30% YoY menjadi Rp139,16 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp93,20 miliar.
Sementara itu, impairment Bank Banten sebesar Rp165,60 miliar, menyusut 51,01% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp338,04 miliar.
Laba Operasional Dan Pos Nonoperasional
Lebih lanjut, laba operasional tercatat sebesar Rp59,52 miliar menyusut 38,09% YoY dari 2024 yang sebesar Rp96,15 miliar.
Pada saat yang sama, Bank Banten membukukan rugi nonoperasional senilai Rp3,05 miliar hingga akhir 2025.
Penurunan laba operasional menunjukkan adanya tekanan dari sisi efisiensi dan beban yang meningkat. Meski demikian, penurunan impairment yang signifikan turut membantu menjaga profitabilitas secara keseluruhan.
Kombinasi antara pertumbuhan pendapatan bunga dan lonjakan beban operasional menjadi faktor utama yang membentuk hasil akhir kinerja tahun berjalan.
Penyaluran Kredit Dan Dana Pihak Ketiga
Dari sisi fungsi intermediasi, penyaluran kredit Bank Banten mencapai Rp5,06 triliun hingga akhir 2025. Realisasi itu meningkat 31,63% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp3,85 triliun.
Pada saat yang sama, dana pihak ketiga (DPK) Bank Banten tumbuh 32,22% YoY dari Rp4,85 triliun pada 2024 menjadi Rp6,42 triliun pada akhir 2025.
Pertumbuhan DPK BEKS sepanjang 2025 itu didorong oleh simpanan deposito yang tumbuh melesat 41,38% YoY dari Rp3,47 triliun pada 2024 menjadi Rp4,91 triliun.
Kinerja intermediasi yang meningkat menunjukkan adanya kepercayaan masyarakat terhadap bank. Lonjakan deposito juga memperkuat struktur pendanaan untuk mendukung ekspansi kredit.
Rasio Keuangan Dan Kualitas Aset
Melihat indikator keuangan, rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) Bank Banten turun dari 42,99% pada 2024 menjadi 36,73% pada 2025.
Untuk kualitas kredit, NPL gross tercatat sebesar 4,67% hingga akhir 2025 dari tahun sebelumnya 7,53%. NPL net turun dari 1,98% menjadi 1,89% pada 2025.
Pendapatan bunga bersih (net interest margin atau NIM) terpantau turun dari 3,51% menjadi 2,99% hingga akhir 2025, sedangkan biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) naik menjadi 93,28% dari tahun sebelumnya sebesar 90,46%.
Penurunan NPL gross dan net menunjukkan perbaikan kualitas kredit yang cukup signifikan. Namun, penurunan NIM dan kenaikan BOPO menandakan adanya tantangan dalam menjaga efisiensi dan margin keuntungan.
Secara keseluruhan, Bank Banten berhasil mencatat pertumbuhan laba bersih 33,54% YoY menjadi Rp52,52 miliar sepanjang 2025. Kinerja ini ditopang oleh peningkatan pendapatan bunga bersih dan lonjakan pendapatan provisi, meski dibayangi kenaikan beban operasional.
Dengan ekspansi kredit yang tumbuh 31,63% YoY dan DPK yang naik 32,22% YoY, perseroan menunjukkan peran intermediasi yang semakin kuat. Ke depan, pengendalian biaya dan peningkatan efisiensi menjadi kunci untuk menjaga tren pertumbuhan yang berkelanjutan.