JAKARTA - Tekanan pasar global langsung tercermin pada pembukaan perdagangan awal pekan.
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG sempat bergerak di zona merah cukup dalam sebelum memangkas pelemahan menjelang akhir sesi pertama.
Indeks berhasil memangkas koreksi pada akhir sesi 1 perdagangan hari ini, Senin. IHSG ditutup turun 131,77 poin atau 1,6% ke level 8.103,72. Sebanyak 113 saham naik, 682 turun, dan 163 tidak bergerak.
Nilai transaksi mencapai Rp 16,57 triliun, melibatkan 31,54 miliar saham, dalam 2,16 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun merosot menjadi Rp 14.520 triliun.
Sebagaimana diketahui pada awal perdagangan hari ini, IHSG sempat anjlok lebih dari 2%, merespons situasi di Timur Tengah yang memanas setelah AS dan Israel menyerang Iran pada Sabtu.
Sektor Energi Jadi Penopang di Tengah Aksi Jual
IHSG berhasil melawan tekanan dengan memangkas koreksi menjadi -1,28% sebelum akhirnya koreksi kembali melebar ke lebih dari 1,5%. Pergerakan ini mencerminkan tarik menarik antara aksi jual dan pembelian selektif.
Mengutip Refinitiv, nyaris seluruh sektor berada di zona merah. Hanya energi yang tercatat naik, kontras dengan yang lain.
Sektor energi tercatat naik 1,1% seiring dengan apresiasi terhadap saham migas hingga batu bara. Medco Energi (MEDC) naik 5,8% ke level 1.825.
Lalu Energi Mega Persada (ENRG) dan juga Golden Eagle Energy (SMMT) masing-masing naik 14,2% dan 13,33%. ENRG juga tercatat sebagai saham yang menjadi penopang terbesar IHSG dengan bobot 6,29 indeks poin.
Saham Perbankan dan Astra Tekan Indeks
Sementara itu, saham-saham yang berkontribusi besar terhadap koreksi IHSG adalah emiten perbankan. Bank Mandiri (BMRI) berkontribusi -11,65 indeks poin.
Kemudian Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menyumbang -11 indeks poin. Sedangkan Bank Central Asia (BBCA) tercatat 7,11 indeks poin.
Kendati demikian, saham yang paling membebani IHSG adalah Astra International (ASII) dengan bobot -12,29 indeks poin. Tekanan dari saham berkapitalisasi besar ini membuat laju indeks sulit berbalik arah.
Adapun penyebab anjloknya IHSG hari ini adalah imbas dari konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang makin meningkat menyusul kabar tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Situasi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global serta meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Sentimen Global dan Lonjakan Harga Komoditas
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Minggu bahwa operasi tempur di Iran akan terus berlanjut setelah tiga personel militer AS tewas. Pernyataan tersebut memperburuk sentimen pasar global dan mendorong investor beralih ke aset safe haven.
Bursa Asia-Pasifik juga tercatat ambruk pada perdagangan Senin. Harga minyak melonjak lebih dari 8% dengan kontrak berjangka West Texas Intermediate dan Brent masing-masing diperdagangkan di level US$72,52 dan US$79,04 per barel.
Kontrak emas naik 2,3% karena investor memburu aset lindung nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian. Lonjakan komoditas ini mencerminkan respons pasar terhadap risiko geopolitik.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 anjlok 1,64%. Meski demikian, saham perusahaan pertahanan seperti Mitsubishi Heavy Industries, Kawasaki Heavy Industries, dan IHI Corporation justru menguat lebih dari 1%.
Kemudian Straits Times Index di Singapura turun 1,89% dan indeks Hang Seng Index koreksi 1,64%. Pasar saham Korea Selatan ditutup karena libur nasional.
Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik meminta agar para investor pasar modal dapat bersikap bijaksana dalam keputusan berinvestasi.
"Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing masing investor," ujarnya kepada wartawan, Senin.
"Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental," jelasnya